"This is wrong," Kata saya bergumam agak keras.
"This is so Wrong!" Tiba tiba ada yang menyahut. Seorang wanita separuh baya, mengenakan jaket tebal sambil menenteng peralatan olahraga sambil berjalan cepat menuju kendaraannya yang ternyata parkir persis disebelah kendaraan saya.
Saya masih mengenakan celana pendek, berkaus tipis dan berjaket tapi tidak saya tutup karena tubuh saya masih berkeringat dan hangat walau kaki saya sudah mulai kedinginan karena suhu saat ini masih sekitar -25C. Kami baru saja selesai berolahraga, pukul 7 malam. Langit sudah gelap, hitam pekat dan salju turun dengan derasnya.
Saya berpikir saat itu, orang-orang ini (termasuk saya) sepertinya sudah mulai gila, karena dalam cuaca apapun kami semua tetap rajin pergi untuk berolah raga, sementara kebanyakan orang lebih suka tinggal di rumah dengan baju hangat dan sepatu atau sandal tertutup yang berbulu agar telapak kaki hangat, duduk di depan perapian dengan musik yang lembut atau menyaksikan film di TV. Kami, hujan-hujanan berkeringat dan bergegas menuju kendaraan. Ini tidak normal! Begitu pikir saya, oleh sebab itu saya nyeletuk "This is wrong!"
Tampaknya yang saya pikirkan juga nyambung dengan apa yang dipikirkan wanita ini. Ya, ini sepertinya tidak normal! hahaha...
"Hahaha... what are we doing?" Saya menyambut balik celetukan dia.
"I don't know! hahaha.." Jawab wanita itu
Lalu kami saling memberi salam perpisahan dan saya mulai mengemudikan kendaraan saya untuk pulang. Jalanan begitu berkabut dan salju terus turun tanpa henti. Butiran-butiran es yang sudah menyentuh tanah kemudian berterbangan tertiup angin membuat pandangan saya ke depan mulai terhalang apalagi ditambah asap kendaraan yang berubah seperti uap karena udara di luar dingin sedangkan asap dari kendaraan tentu saja jauh lebih panas. Saya harus berhati-hati mengemudi karena jarak pandang sangat terbatas dan sepertinya orang lain juga berpikir sama sehingga kendaraan di jalan cenderung jauh lebih perlahan dibandingkan biasanya.
Kami memang kelompok pencinta olahraga hardcore! Maksudnya dalam kondisi apapun kami selalu rajin sesuai dengan komitmen yang sudah kami canangkan. Kami tidak semua saling mengenal, ada ratusan anggota yang bergantian hadir. Saya hanya mengenal beberapa, saya kenal wajah tapi tidak tahu nama, walau begitu kami saling menyemangati satu sama lain, tertawa bahkan berteriak jika memang kami perlukan. Ya kami semua merasa menjadi satu keluarga, memiliki tujuan sama, memiliki kesenangan yang sama. Kami merasakan sense of belonging.
Rasa memiliki bisa menjadi jalan yang memungkinkan untuk aktualisasi diri. Identitas kita semakin diperkuat ketika kita merasa memiliki atau dimiliki oleh sebuah kelompok, bahkan dalam hirarki kebutuhan Maslow, belonging/love berada ditengah-tengah hirarki. Kebutuhan akan rasa memiliki/dimiliki menunjukkan bahwa belonging merupakan salah satu kebutuhan dasar dari eksistensi manusia.
Ketika kita merasa memiliki dan dimiliki, maka kita akan bebas beraktualisasi diri, bebas menjadi diri sendiri karena tidak khawatir akan dipandang sebelah mata, karena ya itu tadi, kita menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Melihat sebelah mata pada bagian dari diri kita sama saja dengan mendeskreditkan diri kita sendiri. Itu menjadi sebuah kunci dari keberadaan sebuah komunitas.
Kebutuhan akan diterima dalam sebuah kelompok dapat mengubah tingkah laku, attitude dan juga keyakinan karena kehadiran kita dalam sebuah grup dan berusaha untuk diterima, maka secara otomatis kita juga menyesuaikan diri dengan nilai serta aturan dari sebuah keompok, tapi jangan salah, ini juga berlaku timbal balik terhadap kelompok itu. Pengaruh terjadi secara timbal balik.
Sekarang, kalau kita renungkan, di Smipa juga berlaku hal yang sama. Setiap pribadi saling mempengaruhi, prinsip-prinsip yang ditekankan di Smipa juga di"anut" oleh semua anggota komunitasnya. Pengaruhnya tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada kakak-kakak dan orang tua. Semua terlibat, semua menjadi bagian yang utuh, semua saling memiliki dan dimiliki. Coba saja renungkan. Bukankah demikian?***
Foto: emberin.com