Di luar dingin sekali. Sekitar -10 derajat apalagi jika angin berhembus. Nina dan saya berjalan agak cepat menuju gedung gereja. Sebuah bangunan yang megah dan untuk kota kecil tempat kami tinggal, saya pikir ini termasuk luar biasa.
Saya mendorong sebuah pintu yang sangat besar dan berat dari kayu tua berwarna coklat. Ada beberapa orang yang sudah sangat tua menyambut kami sambl menyapa selamat pagi dan selamat Natal. Yang pria memakai jas sangat rapih berwarna hijau dengan dasi merah bercorak natal, sementara yang wanita memakai blus dan mantel berwarna merah dan hijau. Mereka sangat ramah. Saya mengambil air suci lalu melalui sebuah pintu besar lain dan ruang gereja yang megah menyambut kami berdua.
Kami disambut dentingan sangat indah dari sebuah harpa berukuran sangat besar yang dimainkan oleh seorang wanita berpakaian hitam-hitam, mengiringi suara flute dan piano menghiasi suasana yang sangat hening dan damai di dalam gedung gereja yang dikelilingi warna warni lukisan kaca patri yang sangat mempesona. Di sekeliling dinding terdapat 14 ukiran yang menceritakan perjalanan Yesus dimulai dari ketika saat dihukum mati, memanggul salibnya ke bukit Golgota hingga perhentian terahhir ketika Yesus dimakamkan, digambarkan dengan ukiran berwarna tembaga dan pakaian Yesus yang berwarna perak. Sangat indah. Di bagian depan saya memandang sebuah ukiran raksasa di belakang tabernakel, ukiran yang menggambarkan Santo Yoseph bersama seorang anak laki-laki yang saya yakini adalah Yesus. Gereja ini memang bernama gereja Santo Yoseph.
Bunyi flute terus bergema dan sangat menyentuh hati diiringi bunyi harpa dan piano. Musik yang snmgat indah membuat hati saya begitu terenyuh. Sambil memejamkan mata dan berusaha memanjatkan doa, pikiran saya menerawang jauh ke masa lalu. Bunyi flute ini mengingatkan saya pada saat bersedih di sebuah ruang kapel di biara, menangis sendirian karena merasa begitu kesepian. Perasaan itu kembali menguasai saya, apalagi doa-doa yang saya panjatkan adalah rasa syukur dan terima kasih bahwa perasaan kesepian itu tidak terjadi.
Tahun ini adalah tahun yang sangat berat untuk dijalani. Saya merasa diberi berbagai berkah dan anugerah hingga dapat melaluinya. Membayangkan kesendirian, bukanlah sebuah perasaan yang saya inginkan. Saya tahu cepat atau lambat waktu itu akan menghampiri tapi saat ini saya sama sekali tidak siap. Memang siapa yang akan pernah siap? Saya yakin tidak ada. Tanpa sadar saya menggenggam tangan disebelah saya yang langsung menyadarkan bahwa saya tidak sendirian.
Natal kali ini sangat berarti bagi saya. Bukan pesta dan kemewahan yang saya inginkan. Biasanya dapur penuh dengan gegap gepita disertai harum makanan. Natal kali ini dapur menjadi tempat yang terabaikan. Saya hanya ingin dapat duduk bertiga bersama Nina dan Kano menghabiskan sepanjang hari dengan bercengkrama dan menikmati ruangan kecil yang hangat tanpa melakukan hal-hal yang berarti.
Kami bertiga saling berbagi hadiah kecil. Hampir tidak berharga tapi kami bertiga saling mengerti kebutuhan masing-masing. Sehelai baju hangat untuk saya, sebuah topi lucu yang telinganya dapat bergerak-gerak untuk Nina, beberapa bungkus kue nastar kesukaan Kano, itu adalah beberapa diantara bingkisan kecil yang merekatkan kami bertiga sepanjang siang. Ini yang saya butuhkan, yaitu kebersamaan, kedekatan dan kehangatan. Bukan pesta, bukan makan makanan mewah. Yang saya nikmati malah sayur lodeh sisa beberapa hari lalu. Makanan hanya saya butuhkan karena tubuh membutuhkannya. Tapi hati lebih membutuhkan kebersamaan dan kehangatan, itu yang jauh lebih penting. Natal kali ini memang tidak seperti biasa. Natal yang sederhana tapi di hati saya adalah Natal yang luar biasa!