AES 55 Reminiscing
joefelus
Friday July 16 2021, 9:44 PM
AES 55 Reminiscing

(Repost from Ning) 

Kemarin saya cerita bahwa salah satu alasan menulis adalah mengabadikan moment-moment yang saya alami dalam menjalani kehidupan. Selama ini saya banyak mengenang peritiwa-peristiwa indah maupun yang menyedihkan lewat foto, tapi sepertinya tulisan akan lebih mampu menggambarkan emosi dibanding hanya suasana yang diabadikan dalam gambar. Alangkah lebih baik jika peristiwa itu disamping diabadikan dalam gambar juga dalam tulisan. Kalau sudah begini, pengabadiannya menjadi jauh lebih lengkap.

Semalam, saya mendapat sebuah screenshot dari adik di Bandung (gambar di atas) dengan sebuah pesan berikut:

"Hey Jo, akhirnya ketemu juga! Majalahnya malah masih bagus saking rapih nyimpennya!" Katanya.

Ternyata adik saya kemarin menemukan sebuah majalah F yang dulu (entah sekarang masih ada atau tidak) sangat digemari para ibu-ibu. Di majalah itu ada sebuah cerita tentang liburan ke Maui. Ini kisah liburan 3 pasang mahasiswa pasca sarjana yang sedang menuntut ilmu di Amerika, kejadiannya sudah sangat lama, tahun 2003 dan salah satu pasangan itu adalah saya dan Istri hahahaha!

 

Yah, teringat akan liburan yang seru itu memberikan semacam bitter-sweet feeling. Sweet karena itu menjadi liburan kami yang sangat menyenangkan. Salah satu perjalanan yang tidak akan terlupakan adalah jalan berkelok-kelok melewati hutan dan air terjun sepanjang 102 km yang bernama Road to Hana. Ini perjalanan seru karena kelok-keloknya, pemandangan yang indah dan jika memang menyukai hiking di tempat-tempat tertentu bisa berheti lalu hiking ke air terjun yang jumlahnya ada beberapa. Satu hal yang tidak terlupakan juga adalah salah satu rekan kami yang berasal dari Yugoslavia mabuk perjalanan, teman kami ini menikah dan bertahun-tahun kemudian ikut suami menjadi dosen di UI dan 2 tahun sesudah liburan ini menjadi orang tua "angkat" Kano dan mereka pernah ke Smipa, loh! Ini perjalanan yang unik. Ketika tiba di Hana, kami hanya menemukan sebuah pantai yang hampir jarang diusik manusia. Di sana hanya ada sebuah warung yang menjual makanan ala kadarnya. Selesai! Tidak ada apa-apa! Ini betul-betul mengejutkan karena kami sama sekali tidak menyangka di ujung perjalanan akan menjadi seperti ini sebab Road to Hana sangat populer dan kami sudah banyak mencari referensi sebelum memutuskan untuk pergi ke sini. Ternyata yang menjadi titik utama keseruannya adalah perjalanan itu sendiri, bukan tujuannya. Di sepanjang jalan yang lumayan jauh itu kami dapat berhenti di beberapa spot yang indah, seperti pantai dan tempat rekreasi lainnya. Sayangnya selama perjalanan kami juga sibuk dengan rekan yang mabuk hahahaha! Tak terlupakan bukan?

 

Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan kami yang menarik seperti pergi ke gunung Haleakala yang puncaknya ada di atas awan dan melihat sunrise yang sangat menakjubkan. Kami harus berangkat jam 2 malam juga melalui jalanan gelap berkelok dan menanjak tinggi, di atas kami kedinginan karena memang berada di ketinggian 10,023 kaki. Hebatnya banyak sekali orang yang naik ke atas dengan tour bus lalu mereka turun bersepeda! Kami juga pergi ke sebuah pertunjukan yang sangat kental dengan budaya dan legenda setempat yang digarap dengan indah lalu diakhiri makan malam yang berkelas karena salah seorang rekan kami berulang tahun. Maui adalah pulau yang sangat indah! Untuk ke sana harus melakukan riset yang baik terutama kalau anggaran terbatas, seperti halnya kami pada saat itu sebagai mahasiswa miskin.9254652497?profile=RESIZE_710x

 

Lalu kegetiran apa yang saya rasakan? bukan perjalanan wisatanya tapi mengingat pada orang-orangnya. Salah satu pasangan yang ikut serta pada saat itu sedang hamil. Lucu dan seru karena saat itu sedang ngidam, dan sang istri memaksa suami harus mencari nasi di pagi hari. Nasi sangat jarang untuk ditemui di pagi hari karena lokasi saat itu di daerah wisata yang kebanyakan pendatangnya orang kulit putih yang tidak makan nasi untuk sarapan hahaha.. Nah pasangan ini akhirnya mempunyai seorang anak perempuan yang cantik dan sangat pandai. Sayang pernikahan mereka tidak langgeng dan akhirnya berpisah. Anak perempuan satu-satunya ini meninggal dunia dan sang istri menghilang entah ke mana hingga sempat diangkat dalam satu episode televisi di Indonesia, Kick Andy. Nah di sini getirnya sebab mereka semua adalah sahabat kami bagai keluarga waktu di rantau. Kisah perjalanan yang diabadikan di majalah ini di tulis oleh rekan kami yang hilang ini, saat itu dia bekerja sebagai kepala redaktur majalah. Hingga saat ini kami semua masih berusaha mencari keberadaannya, tapi dia seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada yang tahu, bahkan saudara kandungnya sekalipun.***

 

You May Also Like