Embrace your tears as much as you embrace your smiles. Appreciate pure and real feelings because they make us feel alive. (source: unknown)
Kebanyakan dari kita hidup di tengah-tengah, di zona aman. Maksudnya jika kita memperoleh kesempatan untuk berbahagia, kita tidak berusaha berbahagia secara maksimal. Kenapa begitu? karena kita menjaga diri dari kesedihan dan emotional pain. Cara yang paling efektif agar kita tidak terlalu terluka secara sangat mendalam adalah dengan membatasi kebahagiaan. Kita selalu diberi nasihat untuk tidak berlebihan. Jangan terlalu tinggi karena semakin tinggi kalau kita jatuh akan semakin sakit. Bukan begitu? Jadi paling aman adalah ditengah-tengah. Dengan demikian kita tidak merasakan kebahagiaan yang sempurna demi menjaga diri dari kesedihan dan luka yang terlalu dalam. Itu kata ahli psikologi, entah betul atau tidak, saya melihat sesuatu yang rasional di situ.
Kita juga menciptakan dinding untuk menjaga diri dari luka batin. Semakin tinggi tembok dan semakin tebal kita bangun menunjukkan semakin dalam luka kita di masa lampau. Tidak semua orang melakukan hal yang demikian, karena tidak semua orang pernah mengalami luka batin yang mendalam. Dengan adanya dinding ini, seseorang menjaga diri agar tidak terpapar secara emosinal yang kemungkinan akan menghadirkan luka, tapi di sisi lain, dinding itu menghalangi orang tersebut untuk memperoleh kebahagiaan yang sempurna. Terlalu berhati-hati, semuanya terukur maka semuanya akan berada di tengah-tengah.
Sekitar 7 tahun yang lalu, istri saya memberikan kabar yang membahagiakan bahwa ada kemungkinan kami akan bisa kembali hidup di States. "Tapi jangan terlalu berharap, Jo!" katanya. Saya tanya,"Kenapa?" Jawabnya: "Ya belum tentu berhasil, kalau gagal bagaimana?" Saya tidak setuju! Saya lebih memilih untuk merangkul perasaan bahagia itu. Seandainya gagal pun minimal saya sudah dapat merasakan excitement, merasakan kesenangan akan adanya sebuah harapan yang seru untuk kembali hidup di negara lain. Kesenangan dalam membayangkan hidup di tempat dengan 4 musim, kesenangan dalam membayangkan bermain salju, menikmati warna warni musim gugur. Ini sangat mengasyikan bagi saya. Kenapa tidak? merangkul sebuah harapan itu merupakan perasaan yang menyenangkan. Kalau gagal ya saya juga dapat menikmati kesedihan dan kekecewaan. Itu suatu yang normal khan? Kenapa harus menghindari kebahagiaan supaya tidak kecewa? Sayang sekali jika kemampuan untuk merasakan suatu perasaan yang membuat hidup kita penuh warna dibuang begitu saja!
Sama seperti berlibur. Saya sudah menikmati "liburan" bahkan sebelum liburan itu terjadi. Ketika memutuskan untuk pergi lalu mulai dengan persiapan, mencari tahu tempat-tempat wisata yang akan dikunjungi, tempat makan yang menarik, membayangkan petualangan dalam perjalanan yang akan dialami. Semua itu membuat saya begitu bersemangat, dan perasaan ini sangat menyenangkan. I am trying to embrace every emotional feelings that I can feel!
Demikian juga kesedihan! Kenapa kita senang nonton film yang sedih, lalu bercucuran air mata sepanjang film karena terharu, karena ikut bersedih? Mungkin juga karena kita hanya terhanyut dengan perasaan dan pada saat itu tetap merasa aman karena kita menangisi orang lain bukan diri sendiri. Mungkin itu benar, tapi sesungguhnya kita membutuhkan kesedihan! Karena dengan merasakan kesedihan kita juga mengenali kebahagiaan.
The greater degree of sadness, the greater degree of happiness. Without sadness, happiness has no meaning. Ironically, the fear of emotional sadness often restricts a person’s ability to experience the high heights of happiness.
Atau seperti kata Carl Jung tentang hubungan kesedihan dan kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa tidak ada artinya kebahagiaan jika tidak diimbangi dengan kesedihan. Kita butuh perasaan sedih agar mampu menikmati kebahagiaan.
The word happiness will lose its meaning if it were not balanced by sadness. — Carl Jung
Saya lebih setuju dengan menjalani hidup ini secara penuh. Saya pernah bersorak sorai tengah malam karena mendapat rejeki nomplok ribuan dollar. Saya pernah bersedih hati karena tidak mempunyai apa-apa, tidur di atas kasur tipis seharga 15 ribu rupiah bersama tikus yang berkeliaran di mana-mana, bahkan berlarian di atas tubuh sehingga saya terbagun dan sulit tidur karena jijik. Bagi saya hidup maksimal untuk meraih kepenuhan dalam hidup itu sangat penting sehingga jika besok harus meram untuk seterusnya pun tidak akan ada kata menyesal karena sudah mengalami semuanya.
Just live it, cry and show your sorrow, take your time and accept the truth that sadness is as much part of the life as happiness is.
Bedanya kebahagiaan dan kesedihan adalah kita menikmati kebahagiaan di hadapan dunia, di depan semua orang, sementara kita mengalami kesedihan dan kekecewaan dalam kesendirian.
Bersedihlah jika kita merasa sedih, menangislah jika kita memang perlu menangis. Berdiamlah jika kita memang ingin berdiam diri, berbicara atau berteriaklah dengan penuh perasaan, secara emosional, jika memang kita butuh melampiaskan. Cintai diri kita sebesar-besarnya jika kita memang begitu bangga telah menjadi diri sendiri sama halnya dengan membenci diri sendiri ketika merasa malu telah gagal atau melakukan kesalahan, atau karena telah membuat kekacauan di tempat kerja. I have been there, done that, every single thing!
Kita diberi kehidupan untuk mengalami semuanya, jadi sudah sewajarnya kita memberi kesempatan pada diri sendiri untuk meraih kepenuhan hidup. Merasa bosan, takut, khawatir, sedih, bahagia, menangis dan tertawa adalah bumbu dalam kehidupan. Hidup menjadi penuh warna. Life is worth living!
Fort Collins, April 1st, 2022