Di kulkas ada kale, kacang panjang, labu siam dan toge. Di freezer ada kelapa parut dan cabe. Saya mulai memutar otak, enaknya bahan-bahan ini dibuat apa yang akan menggugah selera makan. Sepagian saya berpikir apakah akan mengolahnya menjadi lodeh, tapi itu sudah saya lakukan minggu lalu. Sayur asem? hmm.. enak juga tapi susah untuk dibawa ke kantor untuk bekal. Entah dari mana, tiba-tiba saya ingat ketika masa kecil. Ada seoprang ibu yang selalu berjualan dengan membawa tenggok dan nyiru dari bambu. Saya lupa nama ibu ini tapi saya ingat tinggal di sebuah gang, namanya gang sumur, sebab di gang itu memang ada sumur besar yang digunakan oleh semua orang yang tinggal di gang itu. Ibu itu menjual urap dan juga singkong kukus yang diiris tipis dan ditaburi kelapa. Kalau di kampung singkong kelapa itu disebut krawu, walau krawu di daerah lain seperti di gresik, adalah nasi yang disajikan dengan daun pisang dengan lauk daging suwir dan serundeng.
Memikirkan urap, saya tidak dapat menahan air liur. Membayangkan daun kale yang sudah dimasak dengan tekstur yang khas, ditambah labu siam, kacang panjang dan toge yang sudah dicampur dengan parutan kelapa yang penuh bumbu, saya tidak tahan lagi. Bersyukur bahwa saya senang belanja bumbu, sehingga yang namanya gula jawa, terasi, bawang merah, cabe dan sebagainya selalu tersedia. Tinggal di rantau harus selalu siap dan kreatif, walau kalau dihitung-hitung ada belasan tahun saya di rantau jika diperhitungkan yang terdahulu, kangen makanan kampung, makanan jaman kecil, makanan tanah air tidak pernah pudar. Jadi memang harus benar-benar selalu siap.
Semua orang pasti senang membayangkan hidup kita di masa lampau, di masa kecil dimana tidak perlu khawatir akan masa depan, tidak memiliki tanggung jawab yang berarti. Hidup yang nyaman ditimbuni dengan kasih sayang dan makanan yang ibu sajikan. Kenikmatan masa kecil yang tidak tergantikan. Momen-momen yang sangat sempurna yang paling membahagiakan dalam hidup.
Cara kita mengenang masa lalu memang tidak biasa. Masa lalu bagai mimpi yang unik, sama seperti masa depan, selalu terdistorsi. Kita tanpa sengaja membelokkan kenyataan dan selalu bias. Yang terpatri adalah selalu yang indah, yang menyenangkan yang menarik untuk dikenang. Semua itu menjauhkan kita dari rada sakit dan penderitaan dari kenyataan yang kita jalani.
Berapa kali kita mengeluh ketika masih kecil sepulang sekolah melihat makanan yang tersedia di meja makan? Sering terjadi bukan? Tapi apakah itu bagian dari kenangan? hahaha.. tidak! Yang kita kenang adalah makanan yang disiapkan oleh orang tua kita yang selalu kita bayangkan bertahun-tahun kemudian dan selalu jauh lebih enak daripada makanan yang disiapkan oleh orang lain. Cara kita mengenang masa lalu memang selalu terdistorsi. Otak kita memilih untuk membelokkan kenangan-kenangan itu terlepas dari kenyataan yang sesungguhnya. Kita hanya memilih yang menyenangkan.
Alan R. Hirsch mengatakan, dalam laporannya tentang: "Nostalgia: A Neuropsychiatric Understanding", nostalgia is a yearning for an idealized past -- “a longing for a sanitized impression of the past, what in psychoanalysis is referred to as a screen memory -- not a true recreation of the past, but rather a combination of many different memories, all integrated together, and in the process, all negative emotions filtered out.”
Yang kita ingat adalah memori yang bias yang sengaja kita pilih untuk dikenang! Kita meletakkan faktor emosi yang jauh lebih mendalam daripada nostalgia itu sendiri. Nostalgia bukan mengingat peristiwa, bukan secara spesifik kita mengulang kembali sebuah peristiwa, tapi justru mengangkat emosi kita di masa-masa tertentu. Kita memilih waktu yang ideal yang untuk diingat dengan mengurangi hal-hal yang mengurangi kebahagiaan dan keindahan di masa lalu.
Jadi urap yang saya nikmati di masa kecil itu sebenarnya hanya sebagai sesuatu yang mewakili "emosi" saya tentang hal-hal yang baik yang ingin dikenang di masa lalu. Pada kenyataannya apakah urap itu memang luar biasa? Hahaha... sekarang malah saya jadi sulit menjawabnya. Yang saya ingat adalah dulu saya sangat menyukainya dan urap jadi semacam perwakilan dari sebagai peristiwa yang ingin saya kenang pada masa-masa itu.***