Ini renungan saya yang kedua. Kesabaran adalah bentuk dari sebuah kebajikan, atau setidak-tidaknya itu yang dianggap kebanyakan orang. Orang yang bijak biasanya sabar, tidak grasa grusuh dalam bertindak dan juga sangat piawai dalam mengendalikan emosi. Kesabaran sangat erat kaitannya dengan kedewasaan emosi. Kesabaran adalah salah satu kelemahan yang saya miliki, oleh sebab itu bentuk renungan kedua dari serangkaian yang sedang saya lakukan ini secara khusus saya ingin mengangkat tentang kesabaran.
Orang sabar mampu menerima dan memaklumi bila terjadi sebuah keterlambatan, penundaan dan kesulitan tanpa menjadi marah atau jengkel. Sebuah ketrampilan yang harus selalu diasah dan dilatih terus menerus karena tidak selalu mudah sebab kesabaran sangat berkaitan dengan ekspektasi. Jika kita mengharapkan sesuatu berjalan dengan mulus dan sesuai rencana lalu menghadapi rintangan, di sini kesabaran kita benar-benar diuji.
Saya paling sulit menghadapi orang yang lamban. Dari pengalaman saya bekerja selama puluhan tahun, ini bagian yang sangat sulit bagi saya untuk bisa terima terutama karena saya termasuk orang yang sangat tepat waktu dan lumayan disiplin. Seingat saya hampir setiap tugas yang harus saya kerjakan berjalan dengan baik kecuali suatu saat ketika di jaman kuliah saya ketiduran karena mengerjakan tugas semalam suntuk. Itu tidak pernah saya lupakan karena sebagai salah satu bentuk kegagalan yang tidak disengaja tapi membuat saya sangat kesal.
Toleransi sangat dituntut dalam menghadapi keterlambatan dan penundaan. Toleransi dalam hal lain mungkin buat saya tidak masalah tapi kalau urusan ketidak tepatan waktu dan kelambanan, saya menghadapi masalah yang sangat serius! Saya tidak tahan dengan orang malas dan lambat! Itu saja.
Berdasarkan input yang saya baca dari berbagai sumber, salah satu cara untuk melatih kesabaran adalah dengan lebih mindful, menyadari segala bentuk distraksi dan mengolah pernapasan dengan demikian segala bentuk emosi negatif secara perlahan-lahan dapat diubah kebentuk yang lebih nyaman.
Kedua adalah dengan melatih penerimaan akan kondisi yang sedang dihadapi. Misalnya kita terjebak kemacetan, daripada mengeluarkan sumpah serapah, larut dalam kejengkelan, kita bisa mengubahnya ke hal-hal yang lebih positif, toh kondisi tidak dapat diubah karena menyangkut situasi yang melibatkan banyak orang. Menerima kondisi walau tidak menyenangkan dan mengubahnya ke hal yang positif butuh latihan. Putar lagu favorit akan mengubah mood kita, misalnya. Atau mencari bentuk distraksi lain yang tidak menyebabkan bertambahnya rasa jengkel. Mengalihkan energy negatif kita ke sesuatu yang lebih konstruktif. Susah memang tapi bisa dilatih.
Yang ketiga, ini latihan yang sangat menantang, sangat tidak mudah dan butuh pengendalian diri yang lebih dewasa. Yaitu membangun toleransi pada hal-hal yang tidak nyaman. Nah ini keren! Coba misalnya mempersilahkan orang lain dalam antrian lalulintas. Secara sadar mencoba ini dan berusaha melawan rasa gatal untuk ngomel, jengkel dan sebagainya. Di Fort Collins tempat saya tinggal sekarang adalah hal yang biasa dilakukan. Saya berada di jalan raya tapi bisa secara bergantian mempersilakan mereka yang akan keluar dari tempat parkir, misalnya. Di Bandung ini tidak pernah saya lakukan, ada mobil akan keluar malah sengaja kita tutup karena tidak suka diserobot, ya khan? Hahaha.. Karena dari awal kita sudah salah strategi dengan menggunakan istilah SEROBOT. Dari katanya saja sudah negatif, bayangkan jika kita mengganti dengan kata "GANTIAN", lebih positif dan jadi semacam bentuk courtesy bukan? Courtesy mengubah karakter kita menjadi lebih baik dibanding dengan "nyerobot" atau "tidak mau kalah", bukan begitu? Menantang tapi bisa dilakukan dan terus terang saya malah merasa jauh lebih bahagia dan bangga diri bahwa saya sudah melakukan courtesy!
Yang terakhir, saya sengaja memilih hanya 4 walau sebetulnya banyak lainnya, karena saya mau melatih yang doable untuk saat ini dan masuk akal. Kalau semua dilatih saya khawatir malah tidak berhasil. Yang terakhir ini menantang juga, yaitu jika kita punya perasaan "tergesa-gesa" coba secara sadar kita "memperlahankan diri" Nah hahaha... Ini membuat saya tersenyum sebab disini kesabaran saya dapat secara jelas diuji. Alasannya satu: Karena saya bisa! Ini benar-benar melatih kesabaran. Tapi sekali lagi memang saya harus selalu mindful, sadar bahwa saya sedang menghadapi situasi tertentu dan sadar bahwa saya harus melatih diri. Mudah-mudahan bisa.
Foto credit: Columbiametro.com