Ini renungan saya yang ketiga, juga merupakan kelemahan saya yang harus terus dilatih agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Memaafkan juga adalah bagian dari kebaikan dan sejauh yang saya alami selama bertahun-tahun dalam menjalani hidup merupakan sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Jika ada istilah patah arang, nah saya orangnya begitu. Jangan sekali-kali saya disakiti maka saya akan sulit bisa memaafkan. Ada beberapa orang dalam hidup saya yang menjadi semacam duri karena benar-benar menyakiti perasaan dan hingga sekarang kadangkala saya masih mengingatnya, grudge dan jika saya tampilkan ke permukaan, saya bisa betul-betul terganggu. Ini bisa jadi pemicu emosi saya yang luar biasa. Kalau istilah yang sedang populer di Indonesia (terus terang saya tidak benar-benar mengerti mengapa kata ini jadi begitu trending dan dipakai di mana-mana bahkan dengan gaya dan istilah yang sering kurang tepat) yaitu saya butuh healing! Hahahaha!
Satu orang, oh lebih tepat dua orang sebetulnya secara tidak langsung mengubah saya menjadi seseorang seperti sekarang ini. Kebencian saya karena diperlakukan dengan tidak baik memacu saya untuk berusaha sekeras mungkin dan membuktikan di depan mereka bahwa saya betul-betul worthy. I am not the person who deserved to be treated the way you did! Saya bukan orang yang layak diperlakukan seperti itu! Luka saya masih ada walau sudah lewat puluhan tahun, satu orang walau sudah lama meninggal, masih tetap memberikan rasa kesal. Rasa sakit masih ada, saya belum bisa sepenuhnya memaafkan, tapi saya akui bahwa karena mereka berdua ini saya bisa membuktikan bahwa saya mampu, saya orang yang bisa diandalkan dan sekali lagi worthy! Saya harus berterima kasih pada mereka walau saya yakin mereka tidak secara sengaja mengakibatkan saya bisa menjadi saya sekarang ini.
Anehnya dari beberapa orang yang menjadi duri dalam hidup saya, justru mereka yang mengakibatkan saya mengalami segala macam keajaiban! Kadang saya berpikir bahwa Tuhan begitu humoris sehingga ketika ingin mengangkat seseorang dari jurang kesulitan maka harus dipicu dengan sesuatu yang sangat emosional sehingga orang itu bisa bangkit, mengangkat dada dan kept my chin up lalu menuju keberhasilan. Mengapa demikian? Apakah saya tipe orang yang harus dipacu dengan sebuah situasi yang keras dan menyakitkan? Lalu apakah sesudahnya saya dapat bertolak pinggang dan menyombongkan diri bahwa tanpa mereka saya bisa berada di posisi yang jauh lebih baik? Tidak juga! Saya tidak bisa berjumawa seperti itu, justru saya merasa berhutang karena tanpa perlakuan buruk mereka saya tidak akan berani mengambil keputusan yang sangat berarti dalam hidup ini. Apakah rasa sakit itu hilang? Tidak juga. Apakah saya sudah memaafkan mereka? Tidak tahu juga. Sangat kontradiktif antara sakit hati dan berterimakasih. Hidup memang aneh dan lucu!
Psychology Today dalam sebuah artikelnya mengatakan bahwa memaafkan adalah melepaskan kebencian dan kemarahan. Kalau lama dipikir-pikir, saya sudah tidak benci lagi pada mereka, rasa sakit itu masih terasa walau sudah semakin membaik dengan berjalannya waktu apalagi jika membandingkan dengan akibatnya yang sudah membentuk saya menjadi sekarang ini. Everything I experienced finally paid off at the end! Saya sudah mengambil hikmahnya dari peristiwa-peristiwa itu dan berbuah berlimpah pula. Mungkin saya sebetulnya sudah memaafkan tapi belum pada rekonsiliasi dan relasi saya dengan mereka tidak bisa berjalan seperti semula.
Di artikel itu juga dikatakan: Forgiveness has been shown to elevate mood, enhance optimism, and guard against anger, Stress, anxiety, and depression. Saya mengakui ini benar dan jika saya perhatikan betul-betul tanpa sadar saya sudah memaafkan karena peristiwa-peristiwa itu telah menjadikan saya more empowered.
Terakhir, dalam artikel itu juga menyajikan opini berikut: cultivate forgiveness by developing compassion for the offender. Reflect on whether the act was due to malicious intent or circumstances in the offender’s life. Lastly, release the harmful emotions and reflect on how you may have grown from the experience and the act of forgiveness itself. Tanpa sadar bahwa sesungguhnya saya sudah melakukan hal-hal tersebut. Saya merasa kasihan pada mereka karena mungkin melakukan hal-hal demikian karena keterbatasan mereka sendiri, toh akhirnya mereka juga harus menghadapi konsekuensi atas perlakuan mereka. Kedua, berkaca dari pengalaman-pengalaman itu saya sudah tumbuh bahkan menikmati buahnya!
Pada akhirnya saya harus kembali ke cerita biksu yang kak Ine ceritakan beberapa hari yang lalu, yaitu melepaskan beban dari tanggungan saya karena semuanya sudah lewat. Buat apa terus-menerus memikul beban masa lalu yang sudah sangat tidak relevan lagi? Terus menerus memikul beban itu hanya memberikan beban dalam perjalanan saya ke masa depan, menghambat kemajuan, membuang-buang energi yang tidak perlu, lagian sudah jadi karakter manusia yang secara otomatis menghapus hal-hal buruk yang tidak terlalu penting dalam kehidupan di masa lalu dan hanya mengingat yang indah-indah, bukan begitu? Sekarang saya hanya sekedar sesekali ingat, tapi sudah tidak emosional lagi karena diimbangi dengan penyadaran yang saya lakukan jika mulai ada rasa yang mengganggu. Saya akui memaafkan itu sulit, jika diawal saya bilang tidak pernah dapat memaafkan, ternyata salah juga. Renungan semacam ini ternyata sangat baik dan memberikan semacam enlightening!
Foto credit: livingroomconversation.org