Saya tergoda juga akhirnya bicara soal musik, walaupun terus terang pengetahuan soal musik sangat minim. Saya hanya penggemar, dan sama sekali tidak serius. Kalau ditanya saya menggemari musik apa, saya sulit jawab karena hampir menyukai semua jenis musik. Saya suka Jazz, suka pop, rock, dan lain-lain. Ada sih yang saya tidak suka, pertama mungkin karena tidak mengerti. Misalnya Rap, hip hop saya merasa seperti orang buta huruf yang dipaksa membaca! Atau dangdut, bukan karena warna musiknya, tapi seringkali issue yang diangkat buat saya terlalu seronok walau saya yakin itu diangkat dari fakta di masyarakat. Jadi ingat saya pernah nulis blog tentang dagdut gara gara saya tidak mau Kano yang waktu itu masih SD mendengar kisah tentang Janda 7 kali hahahaha!
Mungkin berbeda dengan yang lain, musik bagi saya (mudah-mudahan tidak bosan ya, karena saya sering ngomong soal ini) adalah bagian dari perjalanan hidup. Musik erat dengan peristiwa. Jazz mengingatkan saya pada sebuah pub yang romantis di sebuah kota di musim gugur. Lagu-lagu di album pertama Andrea Bocelli mengingatkan saya pada hutan sequioa di california, lagu Hawaii yang dinyanyikan Kealii Richel, Kawaipunahele bukannya mengingatkan saya ketika berenang di pantai, tapi justru mengingatkan pada Smipa! Lagu-lagu Village People maupun Earth, Wind and Fire anehnya membuat saya membayangkan duduk di stadion menonton pertandingan basket atau Volley. Musik seperti perhentian-perhentian dalam perjalanan hidup saya. Karena sering kali peristiwa itu kebetulan terjadi ketika saya sedang menyukai musik itu. Seperti misalnya ada musik-musik yang selalu mengingatkan saya pada saat duduk di bus kota sambil merenung dan kelelahan sepulang kerja menjelang tengah malam. Semua musik ini memberikan perasaan yang nostalgik, kebahagiaan maupun kesedihan! Begitu kuatnya pengaruh musik pada diri saya yang tidak tau apa-apa mengenai musik, bahkan sering kali penyanyi maupun pemainnya saya tidak tau. Saya hanya penikmat!

Cafe Sistina
Belum lama ini saya berjumpa lagi dengan teman dari Brazil yang dulu memperkenalkan saya pada roti keju yang namanya Pão de Queijo. Lalu kami ngobrol banyak hal tentang Brazil dan jenis-jenis makanannya yang ernah saya cicipi. Nah tiba-tiba saya ingat sebuah peristiwa bertahun-tahun yang lalu ketika diajak seorang kawan ke sebuah tempat namanya Cafe Sistina. Ini sebenarnya adalah restoran Italia, tapi kalau malam sesudah tutup, berubah menjadi late night Jazz venue! hanya saja, malam itu bukan jazz yang dimainkan tapi Brazilian drums!
Cafe itu tidak lagi terlihat seperti gambar di atas, tapi justru agak gelap dan tidak ada kursi, hanya ada beberapa sofa di samping dekat dinding, sisanya sebuah bar dengan beberapa orang bartender yang menyediakan minuman (kebanyakan beralkohol). Kami tiba sekitar pukul 9 malam dan ruangan sudah mulai penuh dengan manusia. Keharuman parfum dan minuman beralkohol langsung menyapa indra penciumanku. Beberapa saat kemudian musikpun bergema. Beberapa orang berdiri dengan drum besar di panggung, atau lebih tepat semacam platform yang lebih tinggi dari lantai dimana semua orang berdiri. Dan malam yang sangat energik pun dimulai!

Musik drum gaya brazil ini sangat energik. Sulit untuk hanya diam atau menagguk anggukkan kepala mengikuti beat yang sangat menghipnotis ini. Saya begitu terpukau karena ternyata variasi beat nya sangat beragam. Semua orang seperti diguna-guna, tidak ada yang tidak bergerak. Saya berusaha memesan minuman, bartender begitu sibuk karena banyak pesanan dan berkata,"saya ada Mai Tai, jika mau. Kalau tidak harus menunggu agak lama menunggu giliran!" akhirnya saya ambil Mai Tai. Mai tai adalah minuman yang dibuat dari jus nanas yang diberi rum, air jeruk nipis lalu diberi dark rum di atasnya.
Lagu demi lagu berganti, tanpa nyanyian, kadang kadang ada bunyi peluit, dengan variasi beat yang berbeda-beda. Saya terpukau karena kehebatan aransemen yang sangat menarik. Tadinya saya kira bunyi drum akan monoton, ternyata tidak, saya salah besar! Katanya jenis musik ini ada pengaruh musik perkusi dari Afrika. Kalau saya tidak mengalami sendiri, saya tidak akan pernah tertarik. Apa sih musik drum seperti ini? Saya membayangkan semacam kendang di Jawa, eh sama sekali tidak. Saya tidak pernah bosan mendengarkannya.Dan sekali lagi saya bilang bahwa musik ini sangat menghipnotis. Semua orang seperti kerasukan sesuatu dan bergerak sesuai dengan irama, kadang cepat, kadang agak lambat lalu sangat amat cepat. Tidak aneh jika orang-orang yang bergerak itu sampai berteriak teriak karena begitu intens pengaruhnya terhadap semua orang. 1 gelas minuman cepat habis karena badan penuh keringat dan butuh di hidrasi, sementara alkohol tidak menolong meng-hidrate tubuh, jadi semua orang kehausan dan terus menerus memesan minuman sehingga bartender tidak pernah berhenti bekerja.
1 jam berlalu dan musik berhenti untuk beristirahat. Semua orang berpeluh tapi tidak ada wajah yang murung atau lesu. Ruangan penuh dengan Endorphine!!! Semua orang terlihat bahagia. Ini semacam olah raga aerobik tanpa istirahat selama 1 jam. Bayangkan berapa banyak kalori yang dibakar saat itu! (tapi sesungguhnya impas karena jumlah minuman manis berakohol yang dikonsumsi hahaha) Saya sekarang memaklumi mengapa pantai di Rio de Janiero penuh sesak dengan orang-orang yang menari di festival-festival yang sering mereka adakan. Saya sekarang sungguh mengerti.
Jam 2 malam, batas akhir semua pesta di kota Honolulu. Semua harus berhenti. Saya berdua dengan kawan keluar dari cafe Sistina ini. Jalanan sepi, hanya ada beberapa taxi yang menunggu karena kebanyakan sesudah acara semacam ini orang-orang tidak bisa mengemudi. Resikonya besar! Jadi sering kali mereka memang pergi tanpa kendaraan dan pulang naik taxi. Bagaimana dengan saya dan teman? Jalan kaki! Angin malam (atau pagi) menghembus dingin, tapi tubuh kami hangat dan basah berkeringat, tidak lagi perduli, apalagi sesudah sekian banyak Mai Tai, tubuh menjadi sangat ringan dan jumlah endorphine yang mengalir dalam tubuh saya yakin sangat berlimpah. Hanya rasa bahagia dan kepuasan yang kami rasakan. Untuk sampai rumah mungkin harus berjalan beberapa kilo meter, kami tidak peduli. Malam itu adalah malam yang sangat indah dan saya jatuh cinta pada musik Brazil!***