"When we read about other people, we can imagine ourselves into their position and we can imagine it's like being that person," Keith Oatley pernah berkata. Beliau adalah cognitive psycologist dari University of Toronto dan juga seorang penulis.
Semakin banyak membaca, empati kita semakin membaik dan dengan sendirinya akan lebih mudah mengerti orang lain. Dengan lebih mudah mengerti orang lain, kita akan semakin mudah pula terkoneksi. Masalahnya, bacaan yang bagaimana yang akan dapat membantu kita?
Kemarin saya menulis tentang mimpi besar saya. Saya hanya tulis begitu saja, dan untuk hal itu saya tidak terlalu menggebu-gebu bahkan kali ini saya mengikuti saran istri saya untuk tidak berharap banyak. Kenapa? hahaha.. Mudah saja, karena hal tersebut bukan hal yang sangat mudah untuk diwujudkan. Tapi saya juga percaya bahwa hidup itu aneh dan penuh dengan kejutan. Saya sudah ungkapkan juga mengapa saya percaya itu. Ya, semata-mata karena yang saya alami dalam hidup itu juga sering saya anggap surreal, penuh dengan ungkapan "siapa sangka", "siapa kira" dan "I've never thought"!
Dari mana sebetulnya mimpi-mimpi itu muncul? Dari pengalaman orang lain. Hasil dari membaca, melihat dan mendengar pengalaman-pengalaman orang lain lalu saya "membayangkan" menjadi orang-orang itu. Saya punya beberapa teman yang tinggal di Perancis, satu diantaranya dulu teman di jaman kuliah dan saya pernah cerita di salah satu esai saya bahwa kami kemudian berjumpa lagi tanpa sengaja di sebuah elevator di Hawaii. Bayangkan, dulu kami sering saling mengganggu di jaman kuliah, melakukan kegiatan sama-sama, seru-seruan, lalu kami lulus dan menjalani kehidupan masing-masing. Tiba-tiba, siapa pernah menyangka kami bertemu kembali di elevator di sebuah pulau di tengah samudra Pasifik! Siapa pernah menyangka? Berapa besar probabilitasnya bahwa kami akan bertemu seperti itu? Nah sejak saat itu kami bisa kembali terkoneksi. Saya bisa melihat apa yang dia lakukan di Perancis dan memberikan semacam inspirasi sekaligus juga keinginan dan mimpi yang mungkin suatu waktu nanti bisa saya lakukan. Itu baru satu. Saya banyak membaca pengalaman-pengalaman orang lain di berbagai tempat yang berbeda. Lalu lama kelamaan semua hal yang saya lihat, saya baca, saya dengar itu menciptakan sebuah rangkaian mimpi yang ingin saya wujudkan suatu waktu nanti.
Itu baru satu contoh yang membentuk mimpi berdasarkan pengalaman-pengalaman orang lain. Lalu apa lagi? Banyak! Insprirasi bisa kita peroleh dengan belajar dari pengalaman orang lain. Kita tidak hanya membaca atau melihat keseruan-keseruan orang lain, tapi juga pengalaman yang lebih dalam ketika mereka menghadapi berbagai permasalahan hidup. Membaca pengalaman hidup orang lain dapat mengubah hidup kita! Inspirasi yang kita angkat dari pengalaman orang lain dapat memperkaya kita dalam menjalani kehidupan, dan itu mengarah pada perubahan. Bagaimana seseorang dapat bertahan dalam tempaan kehidupan dapat memperkuat perspektif kita dalam menghadapi masalah yang kita alami.
Satu hal yang penting, tapinya. Kita harus bijak dalam memilih bacaan yang ingin kita baca. Akhir-akhir ini saya sering merasa sebal karena banyak sekali berita atau tulisan yang sangat tidak bermutu dari tanah air. Surat kabar, tabloid sepertinya hanya mengumbar hal-hal yang picisan. Apakah begitu miskinnya selera masyarakat sehingga surat kabar yang menurut saya bermutu makin lama makin mengumbar tulisan yang murahan. Saya berhenti membaca tulisan-tulisan itu walau masih suka muncul di sosial media karena banyak yang membagikan, juga di grup-grup ngobrol teman-teman sekolah. Kita tidak akan bisa belajar banyak jika yang dibaca adalah orang-orang yang cari sensasi dengan bertinju misalnya, atau orang-orang yang saling mengadu ke kantor polisi gara-gara "ngomong" sesuatu di sosal media! Yang recehan semacam ini tidak akan pernah habis dan para pembaca hanya digiring oleh mereka yang cari sensasi. Lalu apa yang kita bisa pelajari dari itu semua? Nol! tidak ada!
Jadi di akhir esai (atau omelan) saya ini, saya ingin menyimpulkan jika kita ingin dapat belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi lebih empati, menjadi lebih mengerti orang lain, agar kita lebih mudah terkoneksi dengan orang lain, pilihlah bacaan yang bermutu seperti misalnya memoir seseorang yang bisa kita jadikan panutan, dan sebagainya.***
foto credit: knliterary.com