Hari ini salah seorang sahabat saya pulang ke tanah air karena tugas belajar dia sudah selesai. Peristiwa seperti ini memang bukan hal yang aneh. Bagi mereka yang tinggal di rantau dalam rangka tugas belajar, pertemuan, persahabatan dan perpisahan terjadi setiap waktu berulang-ulang dan menjadi pengalaman yang wajar dan biasa terjadi.
Saya mengalami ini terus menerus, maklumlah saya termasuknya lama tinggal di rantau. Yang seru memang berjumpa dengan teman baru kemudian selama berbulan-bulan, bertahun-tahun berinteraksi kemudian menjadi sahabat bahkan seperti keluarga lalu berpisah. Hanya saja perpisahan ini bukan berarti hubungan kami berakhir begitu saja, tali persahabatan kami terus berlangsung bahkan ketika kami kemudian sama-sama kembali ke tanah air dan berjumpa lagi.
Yang biasa saya lakukan adalah menyambut teman-teman baru ketika mereka baru tiba. Saya senang melakukan ini sebab dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat baru di rantau, saya banyak mengalami kesulitan dalam mengenal tempat baru dan beradaptasi, untungnya ada teman-teman yang membantu. Nah merasa pernah dibantu, tidak ada salahnya saya juga melakukan hal yang sama terhadap teman-teman baru, semacam pay it forward begitulah!
Apa yang biasa dilakukan? Banyak! Misalnya mengajak keliling kota, mengenalkan pada tempat-tempat belanja kebutuhan sehari-hari, peralatan kebutuhan sehari-hari, membantu pergi ke bank untuk membuka rekening, mengenalkan tempat-tempat makan yang harganya terjangkau dan cocok dengan lidah teman-teman setanah air dan sebagainya. Yang penting sebetulnya saya berusaha membantu mereka agar bisa settled karena biasanya tiba di rantau tanpa memiliki banyak persiapan dan perlengkapan, jadi memang banyak yang perlu dibantu.
Hal-hal semacam itu kemudian menjadi awal dari sebuah persahabatan. Hidup di tempat yang baru memang butuh banyak usaha untuk dapat beradaptasi. Kehadiran orang yang membantu pendatang baru untuk bisa settled memang memiliki peran yang sangat penting. Bayangkan saja jika tiba di sebuah tempat baru tanpa memiliki apa-apa, hanya kopor berisi pakaian. Beberapa hari pertama memang perlu mulai mengumpulkan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Peralatan makan, peralatan masak, bahan makanan, dan lain sebagainya. Kehadiran orang yang dapat membantu pendatang baru sangat penting. Itu saya rasakan sekali di hari-hari awal.
Nah hari ini yang terjadi sebaliknya. Sahabat saya bersama keluarganya pulang karena studynya sudah selesai. Pagi tadi ketika saya dan Nina menuju tempat kerja, kami melewati rumahnya. "Wah mas Wisnu sudah pulang ya, beda rasanya." Kata Nina. Saya mau tidak mau menoleh dan melihat lewat jendela kendaraan. Rumah itu terlihat kosong tanpa penghuni. Tirainya sedikit terbuka dan terlihat gelap. Tempat itu sekarang hanya sekedar "bangunan" saja. Saya merasa ada kekosongan dan rasa kehilangan mulai menguasai diri.
Sahabat, persahabatan adalah kata-kata yang sebetulnya biasa saja, tapi jika dipikirkan secara mendalam dan diendapkan beberapa saat, kata-kata ini menjadi sangat dalam artinya. Saya pernah merasakan di dua sisi yang berbeda, yaitu di sisi sebagai orang yang pergi dan di sisi sebagai orang yang pulang. Dua-duanya memiliki kesamaan yaitu "meninggalkan" dan dua-duanya mempunyai perbedaan yaitu satu menghadapi sebuah petualangan baru dan yang kedua, "kembali" ke rumah, kembali ke akar, kembali ke asal. Yang pertama biasanya ada semacam semangat, excitement karena seperti akan menjalani masa "liburan" pajang, yang kedua lebih kembali ke "kenyataan" hahahaha.. Ya memang begitu rasanya kalau mau jujur.
Barusan itu sebetulnya untuk menjelaskan urusan pindah tempat, pergi atau pulang dua-duanya adalah urusan pindah. Tapi soal persahabatan beda lagi. Ada yang memang dipisahkan dengan kemungkinan sangat kecil untuk berjumpa kembali, ada yang nanti akan disambung lagi karena berada di negara yang sama. Dengan mas Wisnu ini kami sudah berjanji jika kami menyusul pulang nanti akan saling mengunjungi. Kalau yang seperti ini memang rasa sedihnya tidak terlalu kental, berbeda jika perpisahannya kemudian dibatasi dengan jarak yang sangat jauh karena beda negara. Jadi ya sekarang sebetulnya bisa lebih dimengerti mengapa saya dan Nina begitu kembali ke Amerika sellau berusaha menyempatkan diri untuk mengunjungi berbagai tempat karena semata-mata untuk menyambung kembali persahabatan kami yang dulu pernah terbentuk dengan saling mengunjungi. Setelah belasan tahun berpisah saya dan Nina misalnya mengunjungi sahabat di Carmel, California, di San Bruno dan san Jose di Bay area juga di California, lalu mengunjungi juga sahabat kami di Washington State di dekat Seattle, atau kami pergi ke Delaware di East Coast untuk mengunjungi sahabat kami yang dulu berasal dari Vietnam, atau juga mengunjungi banyak teman, sahabat bahkan "saudara" karena kami begitu dekat seperti keluarga ketika di Hawaii dan sebagainya.
Begitulah persahabatan yang pernah terbentuk lalu dipertahankan terus berlangsung walau seringkali terhalang oleh jarak. Sahabat adalah harta karun, persahabatan adalah sesuatu yang sangat indah karena merupakan bagian dari hidup.***
Foto Credit: impoff.com