AES #26 Indahnya Berbagi
joefelus
Wednesday June 16 2021, 7:01 AM
AES #26 Indahnya Berbagi

Indahnya Berbagi. Pernah dengar kata-kata ini? ya, saya juga! Dan reaksi saya kebanyakan negatif karena kata-kata ini nongol di ujung sebuah posting dan lebih dari 50% posting itu tidak akurat. Lalu apa Indahnya? jangan saya disalahkan kalau saya jadi sebel dengan kata-kata ini.

Kemarin saya ngobrol dengan seorang teman yang tinggal Belanda dan baru saja selamat dari virus Covid 19. Dia bercerita bahwa bulan April dia kena Covid, lalu bukannya ke dokter tapi malah main dokter-dokteran seperti pakai minyak kayu putih, minum parutan lobak seperti yang dia dapat dari postingan-postingan di media sosial. Seminggu kemudian dia tidak kuat dan langsung ke rumah sakit dan diisolasi, diberi ventilator. Dia cerita selama sakit sulit bernapas, jalan kaki 2 langkah langsung ngos-ngosan. Susah bicara karena masalah pernapasan dan lain-lain. Singkat cerita, dia akhirnya boleh pulang sesudah 21 hari di rumah sakit dan sekarang masih dalam masa pemulihan sambil menyesal karena mengikuti apa yang dia peroleh di media sosial, dia juga bilang bahwa dia hampir menyerah karena tidak kuat dengan penderitaan selama sakit.

Saya mengangkat kisah nyata di atas untuk sekedar mengungkapkan betapa mengkhawatirkannya lalu lintas informasi yang tidak akurat di media sosial. Dan lebih diperparah lagi begitu mudahnya orang-orang menyebarkan informasi ini tanpa menyelidiki dahulu apakah informasi itu betul atau tidak. Sekarang saya tidak lagi sebel dengan kata kata "indahnya berbagi"! Tapi marah! Apa indahnya kalau hasilnya menjerumuskan seseorang? Coba pikirkan, jika seandainya minyak kayu putih memang bisa menyembuhkan, buat apa pemerintah susah payah menyediakan Vaksin yang harganya trilyunan? Penah dengar memangnya bahwa minyak kayu putih bisa membunuh virus? Di mana buktinya bahwa minum madu dan air jahe setiap hari dapat menangkal Virus? jika betul saya yakin pemerintah akan mewajibkan setiap warganya di seluruh dunia untuk mengkonsumsi ini, sebab harganya terjangkau dan juga bisa membantu para petani!!! Lobak dan kunyit, itu memang sehat untuk dikonsumsi, demikian juga jahe dan madu tapi itu bukan untuk melawan virus, mungkin bisa menaikkan daya tahan tubuh! Jadi sekali lagi, ini sangat dangkal jika dipercaya begitu saja.

Hal semacam ini juga terjadi di Amerika, loh. Tidak tanggung-tanggung, mantan presiden sendiri yang bilang jika virus Covid itu mudah ditangulangi, dan mengusulkan penelitian untuk menyuntikkan disinfektan, juga meradiasi pasien dengan sinar UV!!!! Disinfektan adalah substansi yang berbahaya dan beracun jika dimasukkan pada tubuh. Disinfektan emang membunuh bakteri hingga 99%, tapi jika diserap tubuh, tidak hanya bakteri yang mati tapi manusianya juga. Sementara Sinar UV jika kena mata bisa membutakan jika terekspos terlalu lama. UV juga menyebabkan masalah kesehatan yang serius, seperti misalnya kanker, yang paling sering adalah kanker kulit. Jadi ini bukan jawaban tapi malah menyebabkan masalah baru.

Saya jadi ingat waktu kecil saya memiliki seorang teman yang mempunyai anjing. Anjingnya penuh dengan kutu, lalu oleh ayahnya anjing itu disemprot baygon karena Baygon memang bisa membunuh kutu. Besoknya anjingnya harus dikubur!

Kembali ke topik utama soal "Indahnya Berbagi", platform sosial media adalah "sosial"! Fokus tertuju pada hal-hal yang ngetrend di masyarakat, seperti misalnya berapa banyak tanggapan terhadap postingan kita, berapa banyak teman-teman yang ikut menikmati postingan yang kita bagikan, dan seberapa besar teman-teman kita menanggapi identitas kita di media sosial. Jadi sepertinya lebih banyak mengetengahkan "status" Karena semakin banyak "like" atau tanggapan di media, semakin hebat.

Riset memang mangatakan bahwa masyarakat sebetulnya tidak mau menyebarkan informasi yang tidak akurat atau bahkan menyesatkan. Tujuan mereka bukan membuat orang yang membaca informasi itu menjadi celaka. Tidak demikian. lebih dari 80% pada sebuah survey mengatakan bahwa masyarakat ingin membagikan informasi yang dapat membantu orang lain. Tapi mengapa justru berita bohong, tidak akurat dan Hoax begitu meraja lela? Statistik mengatakan bahwa lebih dari 50% berita yang beredar ternyata tidak akurat. Sekai lagi mengapa bisa begitu?

Riset mengungkapkan bahwa informasi tidak akurat itu beredar bukan semata-mata karena masyarakat tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi karena semata-mata "malas berpikir"!!! Masyarakat mempercayai berita bohong karena hanya berpaku pada intuisi dan emosi. Mereka tidak berpikir lebih keras dalam mengolah informasi itu pada saat membacanya. Kebanyakan orang membaca secara cepat, scroll down secara kilat dan perhatiannya seringkali teralihkan secara emosional terhadap foto-boto lucu, atau video anjing atau kucing yang imut-imut misalnya. Jadi jika memperhatikan bagaimana meningkatnya berita tidak takurat bukan karena tingkah laku manusia yang tidak peduli pada kebenaran, tapi lebih karena rapuhnya perhatian masyarakat pada fakta kebenaran.

Lalu menghadapi issue-issue yang seperti ini apa tindakan saya? serius ya, saya sekarang tidak lagi langsung membaca forward-an teman-teman saya, tapi saya lebih selektif. kalau tertarik baru saya baca, lalu saya berusaha menjadi Fact-checker. Saya jarang membagi-bagikan berita sebab saya berasumsi bahwa jika seseorang butuh sesuatu informasi, yang bersangkutan bisa dengan mudah mencari sendiri. Buat apa menuh-menuhin group chat dengan sampah? begitu bukan? Agak sinis memang, tapi minimal saya mengurangi kejengkelan orang lain karena membaca "Indahnya Berbagi" hehehehehe***

 

Andy Sutioso
@kak-andy   5 years ago
Memang bener. Karenanya yg namanya literasi dan critical thinking sangat nyambung ya. Lagian media sosial sekarang sdh bergeser jadi media anti sosial...
You May Also Like