Sinar matahari tidak mampu memasuki ruang kamar yang sejuk karena terhalang tirai yang memang didisain untuk menahan cahaya masuk. Saya masih menebak-nebak apakah di luar cerah, kusam atau mendung. Tubuh ini begitu malas untuk mulai digerakkan. Sejak semalam saya tahu akan ada masalah karena tenggorokan saya mulai sakit dan agak susah menelan sementara hidung mulai berair.
"Kejadian lagi." Kata saya
"Kenapa?" Tanya Nina
"Kayaknya kena cold. Tenggorokan engga enak dan hidung mulai berair." Kata saya
"Makan imboost sama tylenol." Kata Nina
Itu tadi malam. Pagi ini tubuh saya memang limbung, kepala pening, tenggorokan seperti terbakar dan hidung bagaikan mata air yang deras disertai bersin-bersin. Entah sudah berapa kali saya terganggu kesehatannya sejak di Bandung, tidak terhitung!
"Mungkin kamu kecapean, 2 malam yang lalu hampir tidak tidur karena ngurus air." Kata Nina
Bisa jadi, pikir saya. Memang gara-gara air saya hanya istirahat 2 hingga 3 jam, lalu sepanjang hari jadi sopir dan sepanjang hari berusaha memejamkan mata ketika ada kesempatan. Sebegitu rentannya kah tubuh saya di sini? Kebugaran tubuh begitu merosot dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Eniwei, itu masalah sederhana. Saya hanya butuh istirahat dan membiarkan tubuh membenahi dirinya.
Saya kemudian memperhatikan ambalan yang semalam saya pasang di dinding. Selembar kayu jati dari jepara setebal 3 cm, dengan bentuk yang sangat natural karena bagian sisinya dibiarkan memiliki lekukan-lekukan kayu asli, diproses dengan finishing seminimal mungkin, hanya dihaluskan lalu diberi lapisan warna kayu tanpa merusak garis-garis pola naturalnya. Di atasnya saya beri 2 buah pot kaktus mungil dan sebuah tanaman kecil sejenis photos atau philodendron. Saya tidak ingat yang mana. Ambalan itu saya pasang untuk mengisi bidang kosong di bawah beberapa foto keluarga dan teman-teman dekat. Terlihat cantik dan saya menyukainya. Butuh waktu yang agak lama untuk memasang ambalan ini karena desainnya lumayan tradisional. Hanya menggunakan penopang besi yang ditanam ke dinding tanpa penyangga ataupun lubang pengunci di bagian bawahnya seperti ambalan-ambalan modern yang sekarang banyak tersedia.
Ambalan itu menurut saya terlihat artistik. Sudah lama saya ingin memiliki ambalan seperti ini, tapi jika dulu di Fort Collins, saya akan harus merogoh dompet 10 kali lipat lebih banyak. Di tanah air harganya jauh lebih terjangkau. Mungkin karena penjualnya hanya memperhitungkan harga bahan baku dan tidak memasukkan tenaga kerja dan nilai seninya. Mungkin saja tenaga kerja dihitung tapi ya jika saya perhatikan harga jual, sangat amat murah.
Seni memang nilai subjektifnya sangat tinggi. Ini bagian yang saya tidak mengerti. Saya pernah menghadiri pameran karya seni Van Gogh dan Monnet. Itu karya luar biasa yang sangat diakui dunia, tapi di mata saya, seolah-olah sedang membaca aksara dari bahasa yang asing, tidak saya mengerti. Pemandu menceritakan sejarahnya, oke itu sangat informatif tapi begitu masuk ke penjabaran karya seninya saya seperti berada di dunia asing. Seni lukis bagi saya hanya sebatas pengertian indah atau tidak. Itu saja.
Sekarang perhatikan pelukis jalanan. Saya kagum dengan karya mereka. Memang banyak karya mereka yang sangat generatif, monoton dan temanya itu-itu saja. Gambar sungai, hutan dengan pepohonan, langit, air terjun, matahari dan sebagainya. Itu-itu saja tapi di mata saya terlihat indah. Goresan-goresan kuasnya yang halus, detail cahaya dan sebagainya terlihat indah. Tapi coba lihat harganya. Saya yakin tidak sebanding dengan waktu, tenaga, usaha serta bahan baku yang sudah dikeluarkan. Saya yakin waktu, keahlian dan tenaga para seniman ini tidak diperhitungkan dengan baik. Mereka menghargai waktu mereka dengan sangat rendah. Saya tidak dapat membayangkan berapa banyak waktu yang sudah mereka habiskan untuk melukis karya mereka. Ya begitulah seni. Semua tergantung pada apresiasi. Jika ada yang mengpresiasi tinggi dan memiliki nama, karyanya menjadi semacam investasi. Jika tidak ternama, maka akan dinilai dengan rendah.
Saya ingin berbagi sebuah cerita. Seorang kolektor benda seni dari Inggris pergi ke Jepang untuk membeli sebuah lukisan dari seorang master artis. Mereka setuju seniman itu akan melukis seekor ayam jago. Seniman itu memberi tahu bahwa dia butuh waktu untuk melukisnya. Kolektor itu pergi dan kembali seminggu kemudian. Seniman mengatakan bahwa dia perlu waktu lebih banyak. Sebulan kemudian dia kembali dan belum selesai, 3 bulan belum ada hasil hingga akhirnya dia menjadi jengkel dan frustrasi karena merasa dibodohi.
Setahun kemudian dia kembali dan bertanya apakah lukisannya sudah siap. Seniman itu berkata:"Ya!" Kolektor itu datang ke studio, para asisten seniman meninggalkan ruangan, lalu seniman itu mengeluarkan sehelai kertas dan mulai melukis. Lukisannya begitu indah dan sangat luar biasa. Ketika dia selesai, dia bertanya pada si kolektor apakah dia menyukainya. Kolektor berkata,"Ya, tapi kenapa kamu membuat saya menunggu 1 tahun sedangkan kamu dapat melukisnya hanya dalam waktu kurang dari 1 jam? Kamu telah membuat saya terlihat seperti orang bodoh."
Seniman itu mengajak si kolektor ke sebuah ruangan dimana ada ratusan lukisan ayam jago yang gagal yang saat itu sedang dilemparkan ke dalam api oleh para asistennya.
"Setahun yang lalu, saya belum bisa melukis ayam jago seperti tadi hanya dalam 1 jam." Kata seniman itu.
Mengingat cerita tentang karya seni ini, saya selalu melihat setiap karya seni bukan sebagai sebuah benda. Yang saya lihat adalah waktu, tenaga, pikiran, ide, keahlian dan yang pasti adalah jiwa yang tertuang dalam mewujudkan karya itu. Saya merasa sangat beruntung melihat ambalan yang saya miliki ini, karena bukan karya mesin seperti benda serupa yang saya bisa peroleh di amazon, tapi ini adalah hasil karya dari sepasang tangan yang trampil.