AES 479 Hil Yang Mustahal
joefelus
Wednesday September 14 2022, 10:50 AM
AES 479 Hil Yang Mustahal

Saya barusan membaca satu esai yang ditulis oleh kakak di Smipa, menarik! Yang juga menarik adalah fotonya, yaitu hydrant yang berwarna merah. Saya perhatikan hydrant itu terletak di tempat yang unik, sepertinya (mungkin saja saya salah) agak sedikit menghalangi pejalan kaki di ujung anak tangga dan agak nyempil dari jalan. Melihat foto ini saya mulai berpikir tentang perencanaan. Kalau benar terjadi kebakaran, pemadam akan agak sulit menyambungkan selang air ke hydrant itu karena limited working space. Hydrant sebaiknya terletak ditempat yang agak terbuka yang memudahkan akses untuk digunakan. Bukannya begitu?

Saya juga ingat beberapa waktu lalu banyak foto-foto tersebar di jagat maya, tentang jalur kuning di trotoar. Konon katanya ini diperuntukkan bagi penyandang tuna netra, sebagai petunjuk jalan, begitu. Betul atau tidaknya saya tidak tahu. Yang menarik, jalur kuning itu terhenti di parit yang tidak berpagar. Berhenti begitu saja, terpotong oleh parit lalu jalur kuning itu dilanjutkan di seberang parit. Nah ini juga salah satu contoh yang membuat saya bertanya-tanya soal perencanaan.

Saya bukannya mau protes soal kondisi ini. Walau saya agak terganggu, tapi ada hal yang lebih penting dan membutuhkan energi serta keseriusan daripada mengurusi hal-hal yang sering tidak masuk akal yang ada di masyarakat. Bukan berarti saya ignorance dan masa bodoh dengan kondisi sekitar, tapi saya juga harus memilih mana yang bisa saya hadapi mana yang tidak. I have to choose my own battle, bukan begitu?

Yang ingin saya obrolkan adalah soal perencanaan. Lebih dikerucutkan adalah tentang perencanaan dalam hidup. Banyak orang tidak suka membuat perencanaan mengenai masa depannya. Kebanyakan beralasan bahwa mereka terlalu sibuk dan tidak memiliki waktu untuk berpikir tentang hal-hal semacam itu. Terlalu filosifis, katanya. Kebanyakan mikir daripada bekerja hanya membuang waktu dan kesempatan untuk berhasil. Kedua katanya juga rencana biasanya memang ditakdirkan untuk gagal. Sama seperti resolusi tahun baru, saya beberapa kali pernah menulis bahwa resolusi semacam itu menurut statistik 88% gagal. Cuma hangat hangat tahi ayam, beberapa saat kemudian mati dimakan kemalasan atau kehilangan motivasi. Demikian juga rencana masa depan, rencana sudah dibuat tapi kesempatan tidak pernah muncul, lalu rencana tinggal rencana dan akhirnya dicampakkan.

Saya juga, sejauh yang dapat diingat, tidak selalu mencanangkan sebuah rencana yang serius mengenai masa depan. Mimpi dan keinginan selalu ada dan saya pegang sebagai titik-titik yang pada saatnya jika memungkinkan akan saya raih, tapi jika secara serius merencanakan secara detail untuk meraih titik-titk itu tidak juga. Hidup saya penuh dengan kejutan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Ada beberapa hal yang selalu saya pegang, kok. Yaitu rencana yang saya pikirkan biasanya sesuatu yang doable, sesuatu yang menurut saya masih bisa dijangkau, tidak muluk-muluk. Mungkin terlalu muluk-muluk itulah yang seringkali membuat banyak orang gagal. Misalnya, resolusi akhir tahun: mempunyai tubuh 6 packs! Hahaha.. Untuk usia saya ya jelas ini sesuatu yang para pelawak Srimulat katakan sebagai: suatu hil yang mustahal hahaha... Nah jika rencana yang berusaha dicapai terlalu muluk, maka kemungkinan gagal ya sangat besar.

Fokus, itu hal berikutnya yang menurut saya sangat penting dan tidak boleh dilupakan. Pandangan terfokus tidak berarti kita mengabaikan apa saja yang persis ada di depan mata. Fokus artinya arah yang ingin kita tuju terpusatkan, dan segala bentuk detail kita eksplor, kita disiapkan dan dan disusun prioritasnya agar tujuan itu dapat tercapai. Nah itu yang menurut saya sangat doable dan berdasarkan pengalaman saya, memiliki kemungkinan berhasil yang sangat tinggi.

Yang tidak kalah pentingnya menurut saya adalah evaluasi. Dalam hidup kita selalu melalui banyak trial dan error. Tindakan yang kita pilih tidak selalu tepat, pendekatan yang kita gunakan tidak selalu cocok. Di sini kita butuh jeda sebentar dan melihat secara keseluruhan apakah yang sudah kita rencanakan, yang sudah kita eksplorasi dan kita jalankan itu baik dan cocok. Jika tidak, kita harus melihat ulang dan mengevaluasi untuk perbaikan. Mengatur kembali prioritas, mengubah jika butuh perubahan, dan sebagainya.

Memang semua terdengar sangat abstrak dan teoritis. Tapi pada praktiknya ternyata biasa saja. Sama seperti memilih jalan menuju suatu tempat, yang terdekat belum tentu yang tercepat, yang berputar ternyata jauh lebih lancar. Itu ibaratnya. Semuanya butuh pemikiran dan pertimbangan. Yang jelas, perencanaan tetap dibutuhkan. Hanya saja memang bagaimana kita merenanakannya, itu bisa menjadi penentu kesuksesan. Jika rencananya tidak akurat ujung-ujungnya bisa jadi seperti jalur kuning bukannya menuntun untuk memudahkan tapi malah menjerumuskan. Begitu bukan?

Foto: Tribun Bali

You May Also Like