Hari Sabtu pagi ini seperti biasa saya nongkrong di kedai kopi. Pagi ini saya sangat berharap akan timbul sebuah ide untuk menulis sebab sejak semalam pikiran saya buntu dan tidak mempunyai ide menulis sama sekali.
Sesudah memesan kopi, semangkuk sup tomat dan pastries, saya mulai memandang sekeliling dan membuka pikiran saya seluas-luasnya untuk mencari ide. Nol besar! Malah saya asyik memandangi anjing yang lucu lucu, anak anak kecil yang diajak menikmati akhir pekan oleh orang tuanya, seperti yang saya ambil gambarnya, sebuah keluarga dengan 3 orang anak yang menikmati hari libur dengan bersepeda. 2 sepeda untuk orang tua mereka, sementara 3 orang anaknya duduk di keranjang raksasa.
Sambil menikmati sarapan di depan saya, sebuah butter croissant yang krispi bagian luarnya tapi sangat lembut, airy dan flaky di dalamnya.. ini croissant yang sangat sempurna. Lalu lemon raspberry tart yang bukan main enaknya. Isinya lemon custard dengan beberapa buah raspberry yang dipanggang di atas puff pastry yang sebetulnya mirip dengan croissant tapi lebih airy karena mengandung ragi. Siapapun yang menciptakan pastry semacam ini adalah orang yang sangat jenius! Dough yang diciptakan sebetulnya sederhana tapi butuh keuletan sebab harus melalui teknik melipat dengan lapisan mentega yang sangat membutuhkan kesabaran dan ketelitian.
Saya tiba-tiba berpikir, mengapa saya begitu tertarik dengan makanan? lalu pikiran saya berpindah ke puluhan tahun yang lalu ketika masih kecil di kampung dan hobby membaca cerita anak-anak karangan Enid Blyton. Lima sekawan, Sapta Siaga, dan seri-seri misteri yang membuka ruang imajinasi saya ketika itu. Pada saat itu saya seolah-olah menciptakan sebuah dunia imajinasi yang luar biasa! Bayangkan seorang anak kampung yang sibuk membayangkan bagaimana rasanya makan roti lapis dengan daging asap dingin, limun jahe dan telur rebus, jenis-jenis makanan yang selalu diceritakan oleh Enid Blyton di buku-bukunya! Pada saat itu saya tidak pernah tau seperti apa rasanya daging asap dingin! Limun jahe? hahaha... hanya angan-angan, dikampung cuma ada sekoteng!! Jangankan membayangkan daging yang diasap, makan daging saja jarang sekali. Pada saat itu saya ingin seperti Jack, Julian, Anne, George bahkan Timmy!
Hidup dan kegemaran saya di masa sekarang ini mungkin saja diciptakan berdasarkan imaji-imaji masa kecil. Segala keterbatasan yang saya hadapi di masa kecil menciptakan angan-angan yang selalu ingin dicapai ketika kemungkinan pertama muncul. Contohnya menikmati makanan yang bagi saya di masa kecil sangat tidak mungkin dijumpai. I think I am now living my dream, living inside my childhood imagination!
Hahaha... berhasil juga saya menulis, walau mungkin agak ngawur, tapi nulisnya asyik!***