AES 988 Almost There
joefelus
Tuesday February 6 2024, 11:52 AM
AES 988 Almost There

Saya banyak membaca blog atau esai dari banyak orang dari berbagai tempat di segala penjuru dunia. Ada tulisan yang sangat menarik perhatian saya, ada yang sengaja saya baca karena ingin belajar dari pengalaman orang lain, atau hanya sekedar membaca. Tujuan yang paling utama adalah menghidupkan sel-sel dalam otak saya untuk ikut menulis. Sering saya membaca lalu kemudian bertanya kepada diri sendiri,"Kenapa saya tidak dapat menulis seperti itu?" Itu salah satu hal yang sering memotivasi saya untuk belajar menulis.

Di Atomic Essay Smipa, kelompok dimana saya ikut bergabung dengan komunitas menulis setiap hari, saya mempunyai target untuk menulis sebanyak 1000 esai. Itu sudah hampir terlaksana. Sejauh ini, jika tulisan ini saya selesaikan akan mencapai 988, artinya saya masih butuh 12 hari lagi untuk menulis hingga mencapai target. Ini merupakan motivasi kedua untuk terus melakukan kegiatan menulis ini. Masih ada 12 tulisan, dan saya tidak selalu tahu akan menulis apa, kadang juga belum memilih topik apa yang akan ditulis hingga duduk di depan komputer dan jari-jari saya mulai manari diatas keyboard.

Kalau dipikir-pikir apa sih susahnya menulis setiap hari selama 15 menit? Terdengar sangat mudah, bukan? Hanya lima belas menit kok! Kita main games, menonton film, atau bermain smart phone bisa menghabiskan waktu lama, berjam-jam. Masa sih hanya menyisakan 15 menit untuk menulis tidak bisa? Kenyataannya tidak begitu. Duduk di depan komputer, lalu kita mendedikasikan 15 menit yang kita miliki untuk menulis. Layar monitor kosong, dan 10 menit kemudian belum satu katapun tertulis. Bingung dan masih terus menimbang-nimbang tema apa yang ingin kita uraikan dalam bentuk tulisan. 15 menit terlewatkan, 30 menit bahkan 1 jam. Akhirnya banyak yang menyerah. Semua waktu kita habis untuk hanya sekedar menimbang-nimbang.

Kenapa kita terlalu banyak menimbang-nimbang? Karena pada dasarnya kita tahu bahwa tulisan kita akan disodorkan di depan umum. Tidak hanya tulisan yang kita sajikan, tapi banyak lagi. Harga diri, rasa khawatir akan penilaian orang terhadap hasil tulisan kita, rasa ragu-ragu apakah orang lain akan menganggap kita pintar. Lalu kita mulai mempertanyakan diri sendiri, apakah kita resourceful? Apakah kita malah justru mengumbar kebodohan sendiri? Ujung-ujungnya kita takut gara-gara tulisan, orang lain malah mentertawakan kita. Betul begitu? Sampai di sini kita yakin menulis itu tidak hanya sekedar mendedikasikan 15 menit waktu kita, tapi jauh lebih besar dari itu. Mangkanya tidak heran jika dalam kelompok menulis yang saya ikuti, walau anggotanya banyak, yang menulis setiap hari bisa dihitung dengan jari. Nah, ini yang selalu menantang motivasi untuk menulis.

Tantangan berikutnya, topik. Ini salah satu tantangan terbesar. Saya menghadapi ini setiap kali selama hampir 3 tahun saya menulis setiap hari. Kadang ide begitu mudah muncul bahkan banyak sekali hingga tidak sabar menunggu esok hari untuk mulai menulis lagi, kadang malah 1 hari saya menulis lebih dari satu lalu menunggu hingga esok hari untuk menampilkannya. Tapi ada juga masa paceklik dimana saya selama berhari-hari tidak punya ide sama sekali. Padahal logikanya topik itu seharusnya mudah didapat. Coba saya buktikan. Anda duduk diam lalu memandang sekeliling anda 360 derajat. Bebas, boleh yang dekat atau sejauh anda dapat memandang. Ada berapa banyak benda yang bisa dilihat? Puluhan, ratusan bahkan ribuan, bukan? Seperti saat ini di meja di depan saya ada 2 mangkuk dan 2 piring kotor bekas makan malam, lalu ada gelas plastik dari salah satu restoran hamburger yang sudah puluhan kali saya gunakan ulang karena merasa berdosa telah mengotori bumi dengan sampah. Nah bukankah saya bisa menulis tentang gelas dan sampah plastik? Bukankah saya bisa menulis tentang piring kotor? Kenapa piring itu kotor, bekas makan apa, bagaimana membuat makanan itu, piringnya buatan negara mana? Dari bahan apa? Dan banyak lagi. Bukankah itu semua bahan tulisan? Lalu mengapa kita kesulitan memilih topik? Karena kita terlalu pilih-pilih! Karena ingin tulisan kita bermutu, karena malu kalau menulis tentang hal-hal yang receh. Kita menulis sama saja dengan mempertontonkan diri, menjual harga diri dan kita tidak mau menjual diri kita dengan harga murah! Jujur saja, bukankah begitu?

Kalau diperhatikan, 2 motivasi yang saya tulis di atas tampak tidak berimbang dengan tantangan yang saya hadapi bukan? Ingin dapat menulis seperti orang lain, pasti dengan mudah dkalahkan dengan kesulitan mencari topik. Keinginan untuk menyerah dalam upaya mencapai target 1000 tulisan hampir terjadi setiap kali saya dihadapkan pada banyak tantangan. Ketika lelah dan tidak punya topik, apakah akan mudah menulis? Apakah lebih enak duduk beristirahat sambil nonton TV? Tentu saja lebih enak menonton TV sambil menikmati kopi dan snack bukan? Masa lebih memilih merenung di depan monitor yang kosong sambil berusaha mencari tema tulisan? Hahaha.. Jujur saja, godaan untuk berhenti menulis tidak pernah berhenti.

Nah saya punya rahasia mengapa saya terus menulis. Karena saya merasa banyak menyia-nyiakan waktu dalam hidup. Saya pernah memiliki banyak pengalaman menarik yang kadang bisa dianggap sebagai pengalaman sekali seumur hidup, tapi kemudian terlupakan begitu saja, sebab tidak terdokumentasikan. Saya hanya ingat pernah begini dan pernah begitu tapi lupa ceritanya. Nah, sayang sekali bukan? Bagi banyak orang mungkin pengalaman itu tidak ada artinya, tapi bagi saya belum tentu begitu. Oleh sebab itu saya rajin menulis agar supaya waktu, peristiwa dan pengalaman yang sudah pernah saya nikmati tidak hilang begitu saja. Nah, salah satu cara untuk mendokumentasikan peristiwa dalam hidup saya, dicurahkan dalam bentuk tulisan, apalagi jika didampingi dengan foto atau video, lengkap sekali bukan? Nah itu salah satu rahasia yang terus memotivasi saya untuk terus menulis.

Nah, ini tulisan saya yang ke 1119 di ruang blog pribadi, dan merupakan tulisan ke 988 di Atomic Essay Smipa, masih ada 12 lagi yang harus saya tulis untuk mencapai target 1000. Kurang dari 2 minggu lagi tujuan saya akan tercapai. Almost there! Saya sangat bersemangat untuk bisa menyelesaikan itu. Lalu apa yang akan saya lakukan sesudahnya? Ingat cerita 1001 malam? Nah anggap saja kalau saya berhenti bercerita maka saya akan mati dibunuh oleh sang Raja, jadi saya akan terus bercerita karena yang saya ceritakan adalah tentang hidup. Saya akan berhenti ketika hidup meninggalkan saya.. Mudah-mudahan ini menjadi ikrar yang dapat saya penuhi hehehe..

Foto Credit: kingfisherlabels.co.uk

You May Also Like