It's okay to be different. Itu adalah sebuah kalimat yang selalu didengung-dengungkan sebagai bentuk nasihat atau imbauan agar semua orang dapat menerima perbedaan. Perbedaan memang sering menjadi petaka karena banyak orang yang sulit menerima bahwa kita berbeda satu sama lain padahal sejak kecil, sejak kita mengenyam pendidikan, selalu dikatakan bahwa setiap manusia itu unik. Unik di sini artinya adalah tidak ada orang yang sama, bahkan mereka yang kembar sekalipun selalu memiliki keunikan masing-masing.
Saya sengaja mengangkat ide ini semata-mata hanya sekedar mengingatkan diri sendiri. Tadi siang saya iseng membaca sebuah artikel. Artikel itu menceritakan jenis makanan-makanan, buah-buahan tertentu yang dilarang dikonsumsi di berbagai negara. Seperti misalnya foie gras dilarang dikonsumsi di banyak negara. Foie gras adalah hati bebek/angsa. Alasan dilarang karena tidak humane. Bebek atau angsa sengaja dibuat "sakit" dengan diberi makan secara paksa sehingga kegemukan dan hatinya membengkak dan penuh lemak sehingga rasanya luar biasa.
Berbagai jenis makanan dilarang dibanyak negara dengan berbagai alasan. Misalnya pewarna makanan yang berbahaya, pengawet yang digunakan, bahkan makanan tertentu karena alasan kepercayaan.
Keisengan saya membaca artikel ini membuat saya begitu tertarik karena banyak alasan yang menurut saya agak unik. Misalnya di sebuah negara ada yang melarang mengonsumsi samosa. Jika ada yang tidak tahu samosa, ini adalah jajanan khas daerah India yang berbentuk segi tiga. Biasanya isinya adalah kentang, sayuran dan kacang polong, sesudah dimasak lalu dibungkus berbentuk segi tiga dengan kulit seperti kulit pastel lalu dgoreng. Nah itu adalah samosa. Lalu kenapa samosa ini dilarang di negara itu, karena bentuknya segitiga yang katanya mewakili simbol salah satu keyakinan.
Well, sekarang saya bukan orang yang sangat religius, masa itu sudah saya lewati. Mungkin lebih tepat saya menyebut diri lebih spiritual. Religius dan spiritual adalah hal yang berbeda. Religius berkaitan erat dengan religion yang merupakan organized beliefs dan practices. Spiritualitas lebih mengarah pada individual practice. Saya lebih menyukai yang kedua ini karena lebih mendamaikan. Saya sudah terlalu lelah dengan berbagai macam pertentangan yang terjadi karena beda kelompok dan golongan. Dalam perjalanan kehidupan spiritual saya, walau jujur saja saya masih "terikait" atau berafiliasi dengan satu kelompok, tapi ada proses perkembangan dalam keyakinan dan kaitannya dengan relasi saya dengan lingkungan dan orang-orang di sekeliling saya. Melepaskan keterikatan dengan kelompok tertentu secara de facto sangat "membebaskan", dan saya bisa lebih mudah menjalankan prinsip pribadi karena pada dasarnya sangat lebih mudah mengontrol diri daripada kelompok. Saya tidak mudah terpengaruh jika ada pertentangan kelompok sebab saya sendirian! Terdengar sangat selfish, tapi sekali lagi saya jauh lebih menikmati kedamaian dan kebebasan dalam menjalankan praktik spiritual saya!
Ada lagi sebuah wejangan soal tolerasi; "Do not yuck somebody's yum!". Maksudnya mudah diterka yaitu jangan mengejek, menghina atau menjelek-jelekkan apa yang orang lain sukai jika anda tidak menyukainya. Nah wejangan itu selalu saya ingat karena bunyinya juga bagus dan memang mudah diingat. Memang banyak hal yang kadang menggelitik karena tidak selalu sesuai dengan pendapat yang kita miliki, tapi ya itu tadi. Jangan berusaha mengejek, menjelek-jelekkan apa yang orang lain yakini.
Setiap orang bebas berpendapat, tapi bukan berarti kebebasan kita berpendapat juga akan bebas dari konsekuensinya. Setiap orang memang berhak mengutarakan suaranya tanpa ada campur tangan dari institusi yang berwenang (misalnya), Tetapi begitu pendapat kita disuarakan, dan jika suara itu terkait dengan dikriminasi, rasism, dan sebagainya maka akan ada backlash. Itu yang sering saya saksikan dalam komentar-komentar di media sosial, dan itu sangat melelahkan.
Pada intinya, kita memang selalu diharapkan untuk menghormati orang lain, menghargai pendapat orang lain, tidak peduli apakah itu sejalan dengan pendapat kita atau tidak. Tidak semua orang memiliki keyakinan dan pendapat yang sama, that's fine! Yang penting adalah bagaimana kita dapat menerima kenyataan bahwa orang lain memiliki realitas kehidupan yang berbeda yang merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan mereka bahkan jika seandainya kita tidak setuju atau tidak sependapat dengan mereka. Who are we to judge the way of their lives?
Kita juga dituntut untuk selalu well informed. Dengan mempelajari dan mendalami informasi dari spiritualitas serta kepercayaan lain, kita akan lebih mengenal dan mengerti lalu kita akan lebih mudah menghargai pendapat dan keputusan yang mereka ambil. Mengerti lebih banyak tentang spiritualitas akan membantu kita melepaskan diri dari pre-existing assumption dan prasangka yang kita warisi selama ini.
Foto Credit: Shutterstock/Teo Tarras