AES176 Perfect Days: Bagaimana Cara Mencintai Kesederhanaan?
carloslos
Monday April 13 2026, 10:05 PM
AES176 Perfect Days: Bagaimana Cara Mencintai Kesederhanaan?

Baru-baru ini aku nonton Perfect Days karya Wim Wenders, dan rasanya langsung nyambung banget sama pengalaman nonton Taste of Cherry dari Abbas Kiarostami. Keduanya bisa dibilang “slow cinema” murni, tapi punya rasa yang kontras meski sama-sama minimalis. Taste of Cherry terasa lebih gelap dan filosofis—hampir seluruh filmnya berputar di satu premis sederhana tapi berat: seorang pria yang mencari orang untuk menguburkan dirinya setelah bunuh diri. Film itu seperti meditasi panjang tentang kematian, kesepian, dan alasan-alasan kecil yang membuat manusia tetap memilih hidup.

Sementara itu, Perfect Days justru terasa jauh lebih tenang dan life-affirming. Kita hanya mengikuti rutinitas Hirayama (Koji Yakusho): bangun pagi, membersihkan toilet umum di Tokyo, mendengarkan kaset lagu-lagu lama di mobil, makan siang di bawah pohon, pulang, membaca buku, lalu tidur. Pola itu berulang terus, nyaris tanpa konflik besar atau plot dramatis. Di awal, aku sempat merasa film ini agak monoton. Ritmenya lambat, adegannya repetitif, dan dialognya minim tapi justru di situlah kekuatannya. Film ini seperti sengaja “memperlambat” kita memaksa kita keluar dari ritme hidup yang serba cepat, lalu duduk diam dan benar-benar memperhatikan hal-hal kecil. Semakin lama ditonton, semakin terasa bahwa yang ditawarkan bukan cerita tapi pengalaman.

Dan pengalaman itu pelan-pelan berubah jadi refleksi. Kita mulai ikut merasakan kebahagiaan kecil Hirayama: dari lagu kaset yang diputar berulang, cahaya matahari yang menembus dedaunan, sampai momen sederhana seperti menyeruput kopi di pagi hari. Setelah selesai ada perasaan hangat yang susah dijelaskan seolah film ini berbisik, “hidup yang sederhana pun sebenarnya sudah cukup.”

Salah satu kekuatan terbesarnya ada di pendekatan “show, don’t tell” yang konsisten. Hampir tidak ada eksposisi verbal, jadi emosi sepenuhnya disampaikan lewat visual. Di sini penggunaan close-up terasa sangat penting, kamera sering “menempel” di wajah Hirayama yang menangkap detail kecil seperti tatapan kosong, senyum tipis, atau ekspresi yang nyaris tak berubah. Dari situ kita bisa merasakan lapisan emosi yang tidak pernah diucapkan: kesepian, kenangan masa lalu, hingga penerimaan.

Menariknya kesepian yang ditampilkan tidak terasa tragis, justru sebaliknya. Ia hadir sebagai peaceful solitude, kesendirian yang tenang dan penuh kesadaran. Film ini tidak mengasihani Hirayama, dan karena itu kita juga tidak merasa perlu mengasihaninya ia hidup sendiri, tapi tidak hampa. Secara visual, Wim Wenders sengaja pakai aspect ratio 4:3 (Academy ratio) sepanjang film. Bukan full screen atau widescreen kayak film modern. Makanya frame-nya keliatan sempit dan kotak banget, agak intimidatif dan claustrophobic di awal. Tapi itu pilihan yang jenius: bikin kita merasa lebih intim, lebih fokus ke detail kecil, dan kayak lagi ngintip ke diary pribadi Hirayama. Gak ada ruang buat melarikan mata ke landscape luas, kita dipaksa masuk ke dunia kecil dia.

Selain itu penggunaan musik juga diam-diam jadi elemen penting. Lagu-lagu klasik yang diputar dari kaset bukan cuma pemanis, tapi seperti jendela ke kepribadian Hirayama soal nostalgia, kesederhanaan, dan hubungan personal dengan waktu. Musiknya terasa bukan sebagai background, tapi sebagai bagian dari ritme hidup itu sendiri. Pada akhirnya Perfect Days bukan film yang menawarkan ketegangan atau kejutan besar. Ia tidak mencoba menghibur dalam arti konvensional, sebaliknya film ini seperti ruang hening tempat kita berhenti sejenak dan melihat hidup dengan cara yang lebih pelan.

Kalau Taste of Cherry mengajak kita merenungkan kematian untuk memahami hidup, maka Perfect Days melakukan kebalikannya: ia menunjukkan kehidupan sehari-hari yang sangat sederhana, lalu dari situ kita justru menemukan makna hidup itu sendiri. Dan mungkin itu yang paling membekas, film ini tidak mengubah hidup kita secara drastis tapi diam-diam menggeser cara kita melihat hal-hal kecil. Setelah menontonnya, rutinitas yang tadinya terasa biasa saja jadi sedikit lebih berarti.

Andy Sutioso
@kak-andy   3 weeks ago
Wah keren ini ulasan filemnya. Asik bacanya. Disebut filem lain yang sepertinya perlu dicari. Terima kasih Carlos. Kangen udah lama ga baca tulisan Carlos. Pilihan kata dan narasinya selalu asik dibaca. Semoga filem ini bermanfaat untuk penjelajahan kalian. 🙏🏼🤗🌱
Tatha Wu
@tatha-wu   3 weeks ago
Setuju Bang 👍🏻