Di banyak ajaran spiritual di dunia, 3 kekuatan alam : penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran sama sama diagungkan dan dimuliakan.
Ketiganya, yang disimbolkan dengan berbagai istilah : Tri Purusa, Tri Tunggal, dll dipahami sebagai manifestasi kesadaran semesta yang dibutuhkan agar kehidupan terus ada dan tergelar dengan segala pengalamannya.
Dalam skala kosmik, saat anda membaca tulisan saya di Ririungan ini, selalu ada bintang baru yang terbentuk. Juga ada bintang lama yang hancur menjadi supernova dan lubang hitam. Disaat yang sama, bintang bintang yang mulai bertumbuh membentuk galaksi dan sistem tata surya nya masing masing juga terus bergulir.
Pun begitu didalam diri kita, setiap saat, selalu ada sel lama yang mati, sel baru yang lahir, dan sel sel yang dalam proses pemulihan dan pemeliharaan dirinya. Saat anda membaca tulisan ini, selalu ada manusia yang lahir, yang mati, dan yang sedang bertumbuh.
Apa yang terjadi dalam skala kosmik, juga terjadi dalam skala tubuh kita sendiri.
As above, so below.
As with in, so with out.
Dalam drama bumi, 3 kekuatan alam itu juga termanifestasi dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Peradaban, ekonomi, teknologi, dll. Semua aspek kehidupan manusia juga tak akan luput dari proses penciptaannya, lalu berkembang menuju puncak, dan perlahan hilang atau hancur dan kembali memunculkan penciptaan baru.
Dalam pandangan spiritual, peperangan dibumi, baik yang terjadi dalam skala individu atau sebuah negara dan peradaban, adalah bentuk pengalaman kesadaran dalam proses evolusinya kembali menjadi kesadaran yang tunggal.
Pemantiknya bisa macam macam : ego manusia, perebutan wilayah, sumber daya alam, ekonomi dll. Itu hanya lapisan terluarnya saja. Serupa atribut panggung agar sebuah pertunjukan terjadi.
Namun dibalik semua yang nampak itu, ada kekuatan alam dari sifat alami nya sebagai penghancur agar suatu tatanan baru, suatu kehidupan baru, suatu pengalaman rasa yang baru muncul menjadi realitas.
Itulah kenapa, perang yang dialami manusia sejatinya juga merupakan bagian dari pengalaman rasa yang dibutuhkan dalam proses evolusinya.
Lalu bagaimana kita menyikapinya?
Bersambung