AES126 - Menganyam
Ara Djati
Friday May 22 2026, 4:19 PM
AES126 - Menganyam

Di hari-hari awal kami tiba di Ngadiprono, kami lewat di depan rumah berpintu biru dengan seorang bapak dan ibu sedang duduk menganyam keranjang. Aku sangat tertarik melihatnya. Tapi, waktu itu, kami masih malu-malu.

Sore hari, di saat eksplorasi bebas, aku melihat bapak itu sedang duduk menganyam. Aku menyapanya dan minta izin mampir. Akhirnya, kami semua jadi sering main ke sana. Rumah ini adalah rumah keluarga Bu Ud bersama suami dan anaknya. Kakaknya, Pak Yadi, juga tinggal di sana. Di Pasar Papringan, mereka bekerja di bagian kemasan, membuat keranjang anyaman sebagai pengganti kantong plastik.

Sejak awal ke sini aku sudah bercita-cita membuat keranjang sendiri, dari awal hingga akhir. Tapi saat pertama diajarkan oleh Pak Yadi, aku kurang menangkap caranya, mungkin juga kurang sabar.

Hari ini aku memutuskan untuk belajar. Bu Ud membimbingku di tiap langkahnya, mulai dari membuat bagian dasarnya hingga selesai dan menutup anyaman. Ternyata seru sekali. Lama-kelamaan aku terbiasa dengan bentuk polanya, dan bisa menganyam dengan lebih cepat.

Sambil menganyam, kami banyak mengobrol: soal sekolahku di Bandung, soal datangnya Pasar Papringan, soal warga Ngadiprono yang sudah terbiasa dengan orang luar yang berkunjung. Selang beberapa waktu, datanglah Bu Roh. Dia adalah istri dari Mbah Kabul, seorang pengrajin bambu yang pernah kami datangi rumahnya (pulang-pulang dihadiahi dua pepaya dari kebun). Dia mengobrol dengan Bu Ud dalam bahasa Jawa, tentang pengunjung pasar yang ingin memakai kantong plastik, tentang macam-macam yang tak kupahami. Aku bercerita padanya tentang pepaya di Bandung yang rasanya lebih pahit daripada pepaya pemberiannya.

Akhirnya keranjangku selesai, hanya tinggal dirapikan dan diberi pegangan. Bu Ud memperbolehkanku membawa keranjangku pulang. Besok aku akan diajarkan cara memasang pegangan keranjang, serta membakar ujung-ujungnya supaya tidak amburadul.