Seringkali saya bertanya, lebih bertanya pada diri sendiri tentunya, mengapa di dunia ini sepertinya manusia banyak mengumbar kekejaman. Kekejaman secara fisik, kekejaman secara verbal.
Jika iseng-iseng membaca komentar-komentar di media sosial, jangankan berita atau tulisan yang negatif, itu sudah jelas bisa dilihat ratusan, ribuan bahkan jutaan komentar yang dari sedikit "nyelekit" hingga penuh dengan makian; tulisan atau berita yang positif saja bisa banyak dijumpai komentar yang sangat negatif. Why?
Hal-hal tersebut sangat mengganggu saya. Cyber bullying sudah merajalela di berbagai lapisan, tidak hanya rakyat jelata yang seringkali bisa dilihat dari cara menulisnya bahwa mereka termasuk kelompok yang tingkat pendididikannya sangat pas-pasan, tapi juga dilakukan oleh kalangan orang-orang yang sangat berpendidikan. Sekali lagi pertanyaan saya, mengapa? Apakah begitu sulitnya manusia memperoleh kepuasan sehingga harus dicari dengan cara merendahkan orang lain? Memaki atau menghina orang lain?
Saya sering mengatakan, educate yourself! Dengan banyak belajar, banyak memiliki pengetahuan dan informasi, kita akan lebih mudah mengerti dan menerima banyak perbedaan, bisa mempertinggi kemampuan bertoleransi, bisa berjalan berdampingan dengan orang lain tanpa rasa takut dan lebih merasa aman dan nyaman dalam kehidupan sosial. Banyak "diskusi" yang saya perhatikan di dunia cyber menjadi begitu panas dan ruwet karena mereka memiliki keterbatasan pengetahuan dan informasi. Orang-orang banyak berusaha memaksakan pendapatnya walaupun jika dilihat yang mereka paksakan itu sama sekali naive dan tidak rasional. Semua itu hanya membuang-buang waktu dan energi tanpa ada ujungnya. Itu adalah mereka-mereka yang tingkat pendidikan ala kadarnya saja, tapi tidak jarang diskusi panas dilakukan mereka yang berpendidikan tinggi. Mereka malah terlihat kewalahan dalam meninggikan toleransi. Lebih parah lagi, mereka-mereka ini memiliki "pengikut'! Runyam!
Bullying memang bentuk perilaku agresif yang dilakukan karena ketidakseimbangan kekuatan dan kekuasaan. Ketika seseorang tidak memiliki kemampuan menguasai orang lain, dia akan cenderung "mengalahkan" lawannya dengan cara membully. Bullying juga merupakan pola tingkah laku yang dilakukan secara terus-menerus. Jika sudah berbicara mengenai "pola" maka sangat erat kaitannya dengan bentuk kebiasaan.
Nah, jika memperhatikan kondisi yang saya bicarakan di atas, pendidikan dan tingkat pengetahuan saja sepertinya tidak cukup. Bisa dilihat bahkan di tingkat pendidikan tinggi, pasca sarjana, bullying juga banyak dengan mudah dijumpai. Professor membully mahasiswanya bahkan sebaliknya mahasiswa membully professornya. Ya di sini sudah terjawab bahwa pendidikan saja tidak cukup!