Satu hal yang saya rasakan tinggal di rantau adalah tuntutan kemandirian. Untuk bisa survive, kita dituntut untuk memiliki banyak kemampuan pribadi, karena jika tidak akan sangat sulit untuk bertahan, kecuali jika memiliki resource yang tidak terbatas.
Mengapa kita membutuhkan skill untuk survive? Karena jika tidak, hidup kita akan sangat mahal. Di sini saya merasa bahwa hidup di Indonesia itu sangat mewah. Contoh sederhana, jika lampu depan kendaraan saya mati, dengan mudah saya ke bengkel karena murah! Di Fort Collins labor cost sangat mahal. Harga lampu depan mobil saya tidak lebih dari $27 tapi jika saya ke bengkel, saya harus merogoh kantong saya lebih dalam. Jika mencari informasi di internet, ongkos mengganti lampu depan bisa antara $70 hingga $400! Bayangkan saja bedanya. Walau pun sesudah berhari-hari yang lalu kejadiannya, tangan saya masih sakit hingga saat ini karena mengganti lampu depan sebelah kiri itu agak merepotkan sebab ruang untuk kerjanya sangat sempit, bahkan saya harus membongkar aki untuk bisa memasukkan tangan kiri saya untuk mengeluarkan lampu yang mati serta menggantinya dengan yang baru. Repotnya saya baru tahu lampu mati di malam hari, sehingga agak repot bekerja dalam gelap dan harus mengganti malam itu juga jika tidak mau kena tilang mengemudi dengan lampu mati sebelah.
Itu hanya sebuah contoh, banyak hal lain yang memang harus dikerjakan sendiri. Mencuci pakaian di Bandung kadang karena kesulitan air saya pergi ke laundry service, jika saya melakukan hal itu di sini, gaji saya 1 bulan tidak akan cukup! Saya memilih membeli mesin cuci dan dryer karena jika dikalkulasi untuk jangka waktu panjang akan jauh lebih murah dibandingkan jika saya mencuci sendiri di laundromat. Sekali mencuci menggunakan koin bisa menghabiskan 5 hingga 10 dollar tergantung banyaknya pakaian. Saya bisa membeli mesin cuci dan dryer seharga 500 hingga 600 Dollar dan bisa saya gunakan selama bertahun-tahun. Ujung-ujungnya saya hemat banyak!
Hidup di rantau juga membuat kita banyak belajar. Yang sederhana, makanan! Di Bandung jika saya ingin nasi padang tinggal meluncur sebentar dan membeli sebungkus dengan harga terjangkau. Di sini, hahaha.. Walau saya bisa memesan seharga $20 sebungkus dan bisa buat 2 kali makan, tapi kalau membuat sendiri saya bisa makan untuk berhari-hari untuk sekeluarga dengan biaya jauh lebih terjangkau lagi. Nah, tanpa sadar saya jauh lebih "jago" masak karena tinggal di rantau daripada di Bandung apalagi jika masih banyak lagi skill yang saya bisa pelajari untuk bisa bertahan hidup.
Di tanah air bukan hal yang asing melihat asisten rumah tangga atau nanny, bahkan dalam satu rumah tangga bisa menjumpai lebih dari 1 asisten dan jika memiliki lebih dari 1 anak kecil, bisa memiliki lebih dari 1 nanny. Itu kehidupan yang amat sangat mewah jika tinggal di rantau. Rata-rata masyarakat tidak memiliki kemewahan ini, justru yang keren banyak warga indonesia yang sengaja membawa nanny atau asisten dari tanah air! Hehehehe. Tahu alasan membawa asisten dari tanah air? Karena gajinya tidak lebih dari 5% gaji minimum di sini dan asisten dari tanah air tentu tidak keberatan karena bisa "liburan" dan mengenyam kehidupan di luar! The best for both worlds! Lalu kenapa saya mengangkat issue ini? Saya cuma mau bilang bahwa hidup di rantau itu lebih berat karena semua mau tidak mau harus dilakukan sendiri. Jadi tidak aneh melihat seorang pemuda yang pergi berbelanja di supermarket dengan menggendong bayi di dada sambil mendorong kereta belanja. Itu hal yang biasa. Ngevacuum ruangan sambil menggendong bayi itu juga merupakan bagian dari keseharian. Nah jadi tidak heran bukan bagaimana banyak orang terpaksa harus keluar dari pekerjaan ketika pandemik meraja lela dan anak-anak harus sekolah online. Orang tua harus menemani dan mereka yang tidak memiliki opsi untuk bekerja secara remote, maka terpaksa harus keluar dari pekerjaan. Ya berat memang.
Foto Credit: dreamstime.com