Natal jaman sekarang begitu gegap gepita. Jauh-jauh hari orang-orang sudah ramai berhias, merencanakan berbagai acara untuk merayakan peristiwa yang hanya dilakukan setahun sekali ini. Kumpul keluarga menjadi salah satu hal yang sangat besar. Kalau dilihat, masyarakat yang berpergian jumlahnya tidak sedikit, kebanyakan mudik untuk berkumpul dengan keluarga. Sebagian lagi justru menjauh untuk berlibur. Natal kemudian menjadi acara hura-hura. Tidak semua begitu, saya yakin, banyak yang lebih berusaha mendekatkan diri pada Pencipta, ke gereja, banyak merenung dan berdoa.
Kalau lebih serius sedikit, makna Natal sebetulnya lebih ke sebuah harapan. Lihat saja dari cerita-cerita gembala, bintang dan malaikat, semuanya menawarkan tentang harapan. Kisah epifani 3 raja, juga menawarkan harapan akan sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang besar. Jaman sekarang yang dionjolkan misalnya magic! The magic of Christmas menawarkan titik terang, menawarkan sesuatu yang lebih baik, akhirnya menawarkan sebuah harapan.
Harapan tentang apa? Tentu saja tentang hal yang lebih baik, tentang mimpi, keberhasilan, keutuhan rumah tangga, ekonomi, bahkan cinta. Epiphany 3 raja mengajak kita untuk mengikuti bintang, mengikuti suara hati agar mencapai sebuah kebaikan. Ketika kita mengikuti ini, pada saatnya akan tiba di tempat yang kita harapkan.
Natal juga mengajarkan kita untuk percaya. Seeing Christmas through the eyes of a child. Orang dewasa sudah terlalu skeptikal, berbeda dengan anak-anak. Mereka sangat eksploratif penuh pertanyaan, kadang tidak ada rasa takut, jujur, bebas dan lepas dari prasangka.
Natal juga mengajak kita untuk mempraktikan cinta pada sesama. Berbagi dari hal yang sederhana. Karena pada dasarnya "Christmas is not the season, it is a feeling!"
Foto credit: guideposts.org
Terima kasih banyak buat esai yang ini karena sangat menyentuh buat saya pribadi. Saya akan respon di tulisan berikutnya. 🙏😇