"There are no bad children, just bad parents!"
Nah lo! Kata saya dalam hati ketika sekilas membaca salah satu artikel saat sedang beristirahat di kantor. Saya tahu dan menyadari bahwa tugas dan peran orang tua dalam kehidupan anak dan mempersiapkan mereka untuk menuju kedewasaan sangat krusial. Tapi begitu membaca kalimat di atas, saya sempat tercenung juga. Tidak ada anak yang buruk, yang ada justru orang tua yang buruk. Kalimat ini mempunyai pengertian yang sangat mendalam.
Menjadi orang tua itu bukan hanya menyediakan anak-anak makanan dan pakaian yang cukup, orang tua memiliki peran yang sangat kompleks dalam kehidupan anak-anaknya karena keberadaan orang tua tidak hanya dibutuhkan secara fisik, tapi juga orang tua dibutuhkan laksana pilar-pilar yang mendukung dan menyangga mereka sekaligus juga menjadi role model bagi anak-anak. Orang tua dituntut untuk mampu memberikan bimbingan, dukungan dan juga sumber kasih sayang. Kalau ada peribahasa "buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya", menurut saya itu sangat tepat sekali. Artinya orang tua tidak hanya ada secara fisik, tapi juga secara emosional. Itu yang akan membentuk anak-anak menjadi sebuah pribadi yang lengkap. Contoh, misalnya ada anak-anak yang tidak terlibat secara emosional dengan orang tuanya, maka ketika dewasa mereka cenderung bergulat secara emosional karena kurangnya perhatian.
Tugas menjadi orang tua menurut saya dimulai sebelum anak dilahirkan dan pada saatnya nanti orang tua akan menjadi alter ego anak-anaknya, dan juga anak-anak bagi orang tuanya. Tidak seorangpun yang mampu membentuk dan mencetak perkembangan dan tingkah laku anak-anak selain orang tuanya. Atau setidak-tidaknya sebagian besar pengaruhnya berasal dari orang tua. Orang tua tidak pernah bisa berhenti berusaha membantu dan meng-inspire anak-anaknya sehingga sebetulnya orang tua adalah guru terbaik bagi anak-anaknya.
Saya tidak pernah gegabah menyatakan diri sebagai orang tua yang baik. Lebih aman jika saya mengatakan bahwa saya "berusaha" menjadi orang tua terbaik bagi anak saya, terlepas dari keterbatasan pengalaman, kemampuan dan ketrampilan sebagai orang tua. Tidak ada sekolah menjadi orang tua, kecuali dari pengalaman, pengamatan dan usaha "mengintip" pengalaman orang-orang lain. Banyak hal yang saya lakukan atau tidak lakukan mengacu pada pengalaman saya ketika melihat orang tua sendiri. Tidak semuanya contoh-contoh yang saya alami itu baik, dari pengalaman buruk saya mengambil hikmahnya dan berusaha melakukan hal yang lebih baik. Apakah selalu berhasil? Tidak! Banyak hal yang telah saya lakukan dan jika mempunyai pilihan untuk mengulang masa-masa itu kembali, saya akan memilih tindakan yang berbeda. Tapi itu sudah terjadi, saya mengingatkan pada anak saya bahwa tindakan saya itu buruk dan kalau dia nanti jadi orang tua, saya minta dia belajar dari kejadian itu dan tidak melakukannya.
Menjadi orang tua itu tidak pernah selesai. Jika saya mengenang kembali ketika sejak awal hingga kini perjalanan menjadi orang tua, saya merasa sangat kaya. Ambil saja satu kata: "Mengantar". Nah kata ini saja sudah memberikan makna yang sangat menarik. Saya bisa membayangkan pertama kali mengantar Kano ke dokter, itu ketika dia masih bayi. Dokter dan rumah sakit adalah tempat "favorit" kami, 3 kali seminggu selama bertahun-tahun! Bayangkan! Lalu yang selalu saya kenang adalah ke sekolah. Kano saya bawa ke sekolah sejak sebelum berusia 2 tahun. Ada sekolah "bermain" yang seru. Saya duduk bersama dia dan sekolah bareng. Ini merupakan kegiatan yang lengkap, tidak hanya fisik tapi juga emosional. Berapa ribu kali saya mengantar Kano ke sekolah hingga jenjang 12 tahun pendidikan selesai? Tidak terhitung dan saya menyimpan peristiwa-peristiwa itu sebagai harta yang tidak bisa diambil oleh siapapun. Sekarang saya mengantar dia ke tempat kerja. Rasanya sudah beda lagi! Tapi sungguh, saya merasa kegiatan "mengantar" ini sebagai masa-masa yang spesial! Bonding secara fisik dan emosional bisa saya nikmati terus hingga suatu waktu nanti dia akan melepaskan diri.
Menjadi orang tua itu tidak mudah, tapi saya sangat menikmatinya. Kalau banyak orang tua mengeluh dan ingin cepat anak-anak mereka menjadi dewasa karena seringkali orang tua tidak punya waktu untuk diri sendiri, saya sekarang berharap waktu "mengantar" saya tidak segera berakhir karena saya menikmatinya dan berharap masih lama lagi ini berlangsung.
Foto credit: parentsvictoria.asn.au