Saya mengemudi bersama Nina ke Laporte. Laporte adalah kota sangat kecil dipinggiran Fort Collins. Tujuan kami adalah mengirim resoles ke 2 keluarga yang kami yakin seumur hidup mereka belum pernah merasakan apa itu resoles. Saya tidak berusaha taking credit, resoles ini bukan saya yang buat, tapi sahabat saya yang juga minggu depan akan menjadi boss besarnya Kano di tempat kerja di CSU hahaha.. Resoles sahabat saya ini super enak, dan saya bisa claim bahwa ini risoles terenak yang pernah saya rasakan, bahkan lebih enak dari resoles yang saya bisa beli di Indonesia. Saya punya 40 buah di freezer! semua pemberian sahabat saya ini.
Pagi ini agak berkabut dan dingin walau matahari bersinar cerah. Entah bagaimana, saya tidak mengerti hukum fisika, kabut itu lalu berubah menjadi serpihan-serpihan kristal yang halus. Jadi saya perhatikan udara penuh dengan kristal kecil mengkilat memantulkan sinar matahari. Indah sekali kelihatannya. Persis seperti glitter perak berterbangan dimana-mana. Sayang saya tidak bisa menangkapnya dengan kamera. Betul-betul saya merasa seolah-olah berada di dalam snow globe, bedanya yang ini bukan snow, tapi seperti bubuk berwarna perak yang banyak dijumpai di toko-toko suvenir. Ya seperti itu tadi, hanya saja yang ini nyata, betul-betul real.
Perjalanan ke Laporte tidak terlalu jauh, tidak lebih dari 30 menit menuju tempat itu karena jalanan di hari Minggu sangat kosong, tidak ada keramaian sama sekali. Sepanjang jalan bisa menikmati pegunungan yang masih sebagian tertutup salju. Di sisi-sisi jalan bisa menyaksikan pepohonan yang gundul diselingi pohon-pohon cemara yang hijau. Saya senang sekali mengemudi dalam suasana seperti ini karena jalanan kosong sehingga saya dapat menikmati semua pemandangan. Ini salah satu latihan awareness, be present (nyambung obrolan saya kemarin hahahaha).
Sepanjang jalan saya ngobrol dengan Nina tentang banyak hal. Salah satunya ngobrol tentang hutang budi. Banyak orang yang memiliki peran besar dalam hidup kami. Untuk dapat tiba di kondisi sekarang ini saya tidak bisa menampik bahwa banyak tangan-tangan yang ikut menjamah, mendukung bahkan mendorong saya untuk berani mengambil keputusan dan melangkah. Dan saya sangat sulit untuk dapat membalas budi sahabat-sahabat ini.
"Mas, saya tidak perlu balasan, pahala itu datang dari mana saja, tidak harus dari orang yang saya bantu." Jawab sahabat saya ini ketika saya menyatakan rasa terima kasih dan merasa berhutang budi karena sudah membantu Kano untuk mendapat posisi di kampus.
"I will pay it forward." Janji saya.
Kenapa saya berjanji begitu? Terus terang ini karena alasan yang sedikit egois (tapi dalam konteks positif, loh) yaitu pada dasarnya saya merasa jauh lebih bahagia jika saya memberi daripada menerima. Tentu saja saya bersyukur ketika menerima sesuatu, itu saya anggap sebagai uluran tangan yang tentu saja sebagai manusia yang kadang berada di bawah sering membutuhkan bantuan. Uluran tangan orang lain merupakan semacam berkah yang merupakan campur tangan Yang Kuasa, saya harus mensyukuri ini sebagai insan yang tahu berterima kasih. Tapi menjadi alat yang bisa menjamah orang lain yang membutuhkan, tentu mempunyai kebahagiaan tersendiri yang luar biasa.
Saya pernah duduk bersama seorang imam Jesuit. Beliau juga yang membaptis Kano. Namanya Father Jim. Seorang imam berperawakan tidak terlalu tinggi, berjenggot putih yang sangat ramah, ceria dan menyenangkan, cocok jika jadi Santa, dan kalau dari jauh mirip dengan aktor Sir. Richard Attenborough. Pastor ini pernah mampir ke restoran saya lalu saya jamu. Kami ngobrol ngalor ngidul dan saya duduk menghadapinya. Enaknya jadi boss besar karena saya bisa bebas melakukan apa saja hahaha.. Ketika pastor Jim akan pamit dan membayar, saya tolak. Lalu beliau berkata,"Thank you, I'll receive your gift and I will not pay you back because if I do, your gift will be meaningless."
Perkataan father Jim ini terus saya ingat hingga sekarang. Saya selalu diingatkan bahwa jika ada orang berbuat baik pada kita, terima saja. Orang itu akan mendapat pahalanya dan jangan membalasnya, sebab jika dibalas, kebaikannya tidak akan berarti lagi. Yang harus kita lakukan adalah berbuat baik pada orang lain sebagai bentuk balasan terhadap orang yang telah berbuat baik pada kita. Nah ini yang dimaksud dengan pay it forward. Jadi akhirnya saya simpulkan bahwa tidak ada sebetulnya hutang budi itu, yang ada sebetulnya adalah meneruskan budi yang kita terima dari satu orang kepada orang lain. Di sisi lain juga kita jangan pernah pamrih meminta balasan jika melakukan kebaikan pada orang lain, sebab jika begitu kebaikan kita tidak akan berarti lagi. Itu menurut saya, bagaimana menurut teman-teman?
Foto Credit: jefmenguin.com