Bagiku berpuasa memiliki makna yang luas, tak sekedar menahan lapar dan haus saja. Menariknya saat berpuasa secara tersurat kita mencegah sesuatu masuk ke dalam tubuh lewat mulut, tersiratnya kita juga mencegah sesuatu keluar dari dalam tubuh lewat mulut. Tidak boleh makan dan minum karena membatalkan, tidak boleh mengumpat atau mengeluarkan kata-kata tidak baik lainnya karena ‘dilarang’.
Berpuasa katanya menahan nafsu, padahal nafsu sendiri berasal dari bahasa arab jika diartikan dalam bahasa indonesia artinya jiwa. Jiwa mana yang harus ditahan? Jiwa sendiri dibagi menjadi tiga bagian:
Jiwa amarah, dorongan melakukan perilaku negatif bersifat destruktif keluar diri. Jiwa yang tersesat. Dikuasai oleh amarah meluapkan lewat perkataan kurang baik, perilaku merusak sekitarnya seperti boros, tamak, dengki, egois. Menggebu-gebu menggapai puncak tak berkesudahan. Menggapai langit demi langit, merasa tinggi namun abai semua semakin nampak kecil bagi yang lain. Menjauh tak terkendali.
Jiwa lawamah, dorongan melakukan perilaku negatif bersifat kedalam diri. Jiwa yang terbelenggu. Dikuasai oleh rasa rendah diri meluapkan lewat ketidakpercayaan diri, perilaku merusak dirinya seperti cemas, takut, ragu, sedih, putus asa, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Tenggelam dalam lubang tanpa dasar, makin gelap dan semakin jauh dari cahaya. Lubang yang digali semakin jauh ke dasar, pikiran yang sempit sulit menghentikan diri menggali lebih dalam.
Jiwa mutmainnah, bukanlah keduanya melainkan kebalikan dari kedua jiwa sebelumnya. Jiwa yang tenang. Jiwa yang telah menemukan kesadaran, keberadaan, dan tujuan hidupnya sendiri. Jiwa yang telah berserah menerima kehidupan yang sedang dijalaninya, sabar dalam jalan berprosesnya, selalu bersyukur atas karunia yang diberikan. Nyaman dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Menerima semua keadaan baik dan buruk, bahagia dan sedih. Mendekap erat diri dalam ketenangan.
Dari sana kita dapat menyadari bahwa sebagai manusia, yang diberikan akal sebagai penyempurna diantara makhluk lainnya, kita diberi kesadaran untuk merasa cukup. Tak berlebihan, tak kekurangan selalu menjaga jiwa pada garis nol.
Bulan suci menjadi pengingat dari sebelas bulan lainnya. Mengembalikan grafik fluktuatif pada garis netralnya. Sebagai momen pengingat, mengkalibrasi diri kembali ke garis nolnya. Kembali kepada jiwa yang tenang.