AES 638 Mengenang
joefelus
Tuesday February 21 2023, 12:11 AM
AES 638 Mengenang

Di luar masih gelap, hanya bunyi burung yang ramai dan truk sampah yang berbunyi nyaring ketika memundurkan kendaraannya. Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Honolulu. Siang nanti akan sangat sibuk dengan kegiatan-kegiatan terakhir seperti membeli beberapa perlengkapan untuk perjalanan pulang, mencuci kendaraan sebelum dikembalikan dan sebagainya. Besok ada kemungkinan saya akan terlambat untuk menyelesaikan tulisan AES, mudah-mudahn saya punya banyak waktu ketika transit di bandara agar bisa menulis sesuatu.

Perjalanan kali ini sangat berkesan bagi saya. Mungkin karena menyadari bahwa perjalanan ini bisa saja menjadi yang terakhir sebelum Kano dan saya berpisah mengambil jalan masing-masing. Jadi ya begitulah, lumayan berat begitu menyadari bahwa beberapa jam lagi akan berakhir dan kembali ke keseharian.

Saya sedang duduk di lobby berusaha menulis sesuatu. Kano dan Nina masih beristirahat, saya tidak mau menggangu mereka dengan cahaya monitor sehingga memutuskan untuk mencoba mencari tempat lain. Jam-jam sekarang kebanyakan orang lain masih beristirahat, jadi saya memilih lobby yang sepi dan luas untuk bekerja.

Tiba-tiba ada seorang ibu muda mengeluarkan stroller bayi dari sebuah ruangan dan tidak lama kemudian terdengar suara seorang bayi yang baru bisa berjalan. Seorang anak laki-laki bule yang sangat lucu dan ramah, melemparkan senyuman kepada siapa saja, termasuk saya yang berusaha melambai-lambaikan tangan untuk menarik perhatian dia dan berusaha mengajak dia bermain cilukba.


Abraham Lincoln Hall


15 tahun yang lalu Nina, Kano dan saya tinggal di sini, Abraham Lincoln Hall, selama sekitar 1 minggu sebelum kembali ke tanah air. Kano pada saat itu mungkin 1 tahun lebih tua dari bayi ini. Dia sudah bisa berlari kesana kemari. Ada sebuah mainan truk sampah yang dihadiahkan oleh sepasang suami istri yang berjualan makanan Vietnam di dekat tempat kerja saya waktu itu. Kerennya, truk sampah yang menggunakan batere itu tertrigger pergerakannya jika ada garis yang dibuat dengan menggunakan kapur tulis. Saya sering mengajak Kano di belakang gedung besar tempat konferensi, lalu bermain truk sampah. Otomatis halaman belakang itu menjadi penuh dengan garis-garis dari kapur hahaha..

Selama 1 minggu itu kami habiskan banyak dengan perpisahan. Dari satu makan malam ke makan malam lainnya dengan berbagai sahabat. Lalu pada hari keberangkatan ke tanah air, kami diantar dengan beberapa kedaraan. Bayangan itu kembali hinggap dalam benak saya, karena saat ini tinggal di tempat yang sama. Bedanya kali ini kami sedang "liburan" sehingga perasaan yang ada pada diri saya jauh berbeda. Tapi mau tidak mau gedung ini mengingatkan saya pada pengalaman-pengalaman di masa lampau. Bahkan beberapa hari yang lalu, saya berhasil membujuk salah seorang panitia dari Nepal untuk "mengajak" kami ke Hale Manoa, nama asrama yang pernah saya tinggali selama setidak-tidaknya 5 tahun.


Hale Manoa, Asrama Mahasiswa Internasional 12 lantai



Dapur lantai 12 Hale Manoa (Ewa side)



Pemandangan Manoa Valley yang biasa terlihat dari jendela kamar.


Kami diajak ke lantai 12, tempat dulu kami tinggal. Ada sebuah dapur dimana saya dulu biasa menyiapkan makanan. Sekarang jauh lebih modern karena menggunakan kompor-kompor yang baru. Counter di dapur itu penuh dengan rice cooker, seperti jaman saya dulu, Kabinet-kabinet sudah jauh lebih baru dengan kunci kombinasi. Setiap penghuni asrama mendapat jatah 1 kabinet untuk menyimpan peralatan masak dan bumbu-bumbu. Saya dulu punya 2, karena mewarisi kabinet milik seorang teman yang pulang walau sebetulnya satu kamar hanya bisa mempuyai 1 kabinet. Dapur itu sekarang memiliki desain yang berbeda, dulu terlihat jauh lebih luas walau terlihat sangat sederhana, sekarang lebih bagus tapi terkesan sempit. Ada sepasang mahasiswa entah dari negara mana sedang masak. Seperti biasa orang-orang di sana sangat ramah dan menyambut kami dengan hangat. Itu juga kami lakukan dulu ketika dikunjungi alumni yang pernah tinggal di sana, kini giliran kami, perannya sudah berbalik hahaha..

Kami hanya berkeliling sebentar, tidak lupa saya juga mengambil beberapa foto, termasuk mengambil foto lorong dimana dulu Nina terjatuh karena ada sebuah lemari es yang bocor. Saya pernah menulis cerita tentang peristiwa ini di blog saya berjudul: Cyborg. Pemandangan dari dapur dan dari tempat-tempat lain masih terlihat tidak banyak perubahan.

Kemarin ketika ada waktu luang, saya berjalan kaki berkeliling. Di belakang gedung konferensi ada sebuah taman yang diberi nama Japanese Garden. Taman ini memang didesain ala Jepang lengkap dengan sebuah rumah kecil untuk upacara minum teh, kalau tidak salah diberi nama tea house, di taman ini juga ada sebuah kolam yang penuh dengan ikan koi besar-besar. Dulu saya sering menggunakan taman ini untuk duduk merenung. Dibalik semak-semak yang membatasi taman ini ada sebuah sungai kecil yang suara gemericik airnya sangat jelas terdengar. Ini juga sering saya jadikan tempat persembunyian jika saya sedang ingin menyepi dan bermeditasi.


Japanese Garden


Satu minggu ini memang tanpa sadar menjadi liburan yang saya jadikan sebagai perjalanan mengenang masa lalu. Tempat-tempat yang dulu merupakan bagian dari keseharian saya, kembali saya kunjungi dan saya rasakan. Ya, ini bagaikan kegiatan reminiscing yang sangat efektif sebagai bentuk refleksi untuk membangkitkan rasa syukur bahwa perjalanan hidup ini telah berlangsung dengan sangat indah. Saya begitu bahagia pernah selama bertahun-tahun tinggal di sini. Sebuah pengalaman hidup yang sulit dapat dilupakan begitu saja.