Alunan tiupan saxophone John Coltrane menemani saya siang ini. Tidak banyak yang bisa dikerjakan di kantor hari ini karena memang setiap Senin pekerjaan saya sangat ringan. Ruangan kantor begitu sunyi karena tidak banyak orang yang hadir hari ini. Rekan saya Cory berada di Braiden mengurus dining hall yang merupakan tanggung jawabnya, Garret yang menjadi "polisi" keamanan makanan, atau di sini dinamakan Food Safety sedang sibuk dengan tugasnya, jadi kami tidak terlalu banyak ngobrol. Saya agak bosan dan musik yang mengalun menambah suasana semakin mellow, tapi saya malas menganti musik.
Saya masih memandang email yang tadi pagi masuk dari International program. Pagi tadi akhirnya saya mendaftarkan diri untuk ikut menjadi peserta maraton tanggal 25 nanti. Bukan maraton yang serius sebetulnya, hanya salah satu bagian acara inaugurasi program internasional. Dana yang diperoleh nantinya akan disumbangkan untuk program mahasiswa internasional. Sesudah beberapa kali berencana untuk ikut lari akhirnya kali ini bisa terwujud. Dulu rencana saya akan berlari di Fortitude, gagal karena Covid, lalu tahun berikutnya dibatalkan karena entah apa. Lalu saya mencoba lagi berencana untuk ikut lari di event lainnya tapi lagi-lagi gagal. Teman saya yang tadinya berencana ikutan, ternyata batal. Akhirnya saya tahu mengapa dia membatalkan, ternyata teman saya itu mengandung! Hahahaha Kali ini saya akan berlari sendiri, tidak mau tergantung pada siapa-siapa sebab tidak mau gagal lagi.
Apa yang saya lakukan pagi tadi, yaitu mendaftar maraton, sebetulnya merupakan semacam refleksi kecil. Refleksi merupakan bagian yang penting, yang esensial dalam hidup dan refleksi membutuhkan kita untuk melihat ke belakang. Refleksi dibutuhkan untuk mengarahkan perubahan di masa yang akan datang. Nah dengan belajar dari masa lalu, saya dapat memutuskan apa tindakan yang harus dilakukan. Refleksi dengan melihat ke belakang dapat menunjukkan kesalahan langkah apa yang telah kita ambil. Semuanya bertujuan untuk menyiapkan masa depan. Kelihatannya sederhana bukan? Cuma daftar maraton yang sudah berkali-kali berakhir dengan kegagalan. Belajar dari pengalaman masa lalu membuat saya bisa lebih teliti untuk menyambut hal-hal yang akan datang. Maraton ini hanya salah satu contoh kecil, tapi soal kehidupan tentunya membutuhkan refleksi yang jauh lebih serius.
“Reflection requires looking back so that the view looking forward is even clearer.”
Kutipan di atas dengan sangat jelas mengingatkan kita semua karena seringkali kita tidak menyempatkan diri dengan serius merefleksikan masa lalu kita untuk menyiapkan petualangan ke depan. Oleh sebab itu saya sekarang menyempatkan diri untuk ngobrol tentang ini walaupun contohnya sangat sepele dan sederhana. Cuma ingin ikut maraton yang sebetulnya tidak terlalu penting. Maraton itu akan diadakan di hari Sabtu 2 minggu lagi pukul 9. Hari Sabtu adalah hari lari saya, pukul 9 juga merupakan jam biasa saya berlari, atau kadang sedikit lebih awal jika sesudahnya saya punya kegiatan lain. Jarak larinya juga bahkan sedikit lebih pendek dari jarak yang biasa saya tempuh. Karena lebih pendek, saya akan berlatih untuk berlari dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Kembali ke looking back, apalagi kalau menulis esai sudah menjadi sebuah kebiasaan, ketika kita mulai berpikir tentang saat-saat di masa lampau, ketika kita sedang berada di puncak, ketika kita sedang berhasil, catat itu semua, tulis semua itu sebagai bukti yang nantinya akan sangat berguna ketika sedang menghadapi saat-saat sulit. Refleksi diri adalah bentuk rekaman keberhasilan yang sangat baik yang akan terhubung dengan tujuan saat ini.
Catat pula segala prestasi yang membanggakan, foto-foto, sertifikat mapun piagam penghargaan bahkan ucapan-ucapan selamat dari rekan kerja. Ini akan menjadi sebuah dorongan dan juga pengingat ketika kita sedang membutuhkannya. Mengenang suatu keberhasilan dan kebahagiaan di masa lalu tidak hanya memberikan perasaan puas dan bangga tapi juga sebagai pendorong semangat ketika kita sedang lesu dan dihadapkan dengan setumpuk permasalahan. Hal ini juga menjadi pendorong bagi diri kita bahwa jika dulu kita dapat melakukannya, kenapa sekarang tidak? Dengan kata lain, looking back in time is empowering! Karena apa? Karena dengan melihat kembali pencapaian yang pernah kita peroleh, bukti-bukti itu akan meningkatkan kepercayaan diri kita, kita juga tahu akan segala potensi yang dimiliki dan mendorong kita ke pencapaian selanjutnya.
Foto Credit: Twitter.com