AES 661 Set Back & Reflect
joefelus
Thursday March 16 2023, 12:30 AM
AES 661 Set Back & Reflect

"Mas, tuh bapak marah ga mau dibantu." Kata salah seorang wanita ke suaminya.

"Ya biar saja, mungkin beliau merasa belum perlu dibantu." Jawab suaminya.

Saya memperhatikan seorang tua yang memegang tongkat berjalan dengan perlahan dan hati-hati. Usianya sudah senja, keriputnya menyimpan jutaan kisah hidup yang sudah dilaluinya. Pancaran matanya walau tidak lagi seterang ketika masih muda karena sudah ada lapisan putih dimakan usia, menampilkan perjuangan keras yang sudah dilakukan sepanjang hidupnya. Tubuhnya terlihat sudah lelah dan rapuh. Katanya usianya sudah menjelang 90 tahun.

Saya kemarin baru saja menulis surat ke diri sendiri di masa depan. Kalau bahasa Inggrisnya writing to your future self. Tidak mudah, mungkin saya harus sering melakukan itu sebagai bentuk refleksi, sebagai bentuk penyadaran diri bahwa apa yang saya lakukan saat ini akan berdampak di masa yang akan datang. Surat itu untuk saya nanti di saat berusia 100 tahun. Hmm.. sepertinya saya akan lebih buruk kondisinya dibandingkan dengan bapak tua yang hampir 90 tahun itu.

Kita hidup di masyarakat di mana banyak anak-anak dipukuli, banyak perempuan diperlakukan dengan buruk, relasi yang abusif, orang-orang yang kelaparan, masyarakat yang harus membanting tulang dan memeras keringat hanya sekedar berupaya agar ada sepiring nasi dan semangkuk sayur di atas meja. Masyarakat yang dihadapkan pada ancaman penyakit, kekerasan di jalan bahkan kejahatan. Dunia penuh dengan tekanan dan stress.

Tapi kita bisa lihat anak-anak begitu riang, masuk ke sekolah dengan senyuman; para perempuan menutupi memar dan lebam di wajah dengan bedak dan make up, para laki-laki yang menyembunyikan kelelahan dan kekhawatirannya dengan sikap yang sangar dan jantan. Orang-orang yang cemberut kebanyakan dihindari dalam pergaulan sehari-hari, katanya mereka-mereka itu punya tabiat negatif dan toxic. Hmm.. jangan-jangan mereka itu justru yang jujur! Pernah tidak terpikir demikian?

Dalam masyarakat hanya orang-orang yang ramah, penuh senyuman dan riang gembira yang diterima. Siapa yang senang dengan anak-anak yang menangis? Di sekolah? Di restoran? Bahkan di gereja? Tidak ada. Dunia hanya menerima yang positif-positif saja. Yang cemberut, yang bersedih, yang sakit harap menyingkir karena disediakan tempat tersendiri dan jauh dari masyarakat. Baru sesudah bisa tersenyum, sehat, bahagia mereka-mereka ini akan disambut dengan gegap gepita, kalau perlu digelar karpet merah. Dunia sepertinya penuh dengan kepalsuan!

Kita tidak punya waktu untuk mendengarkan keluhan, kita tidak menyambut kesenduan maupun kesedihan. Dunia hanya untuk mereka yang berbahagia. Hitung saja berapa banyak orang yang memilih ke pesta perkawinan, lalu bandingkan dengan mereka yang melayat! Terlihat bedanya bukan? Orang-orang hanya ingin bergaul dan bergabung dengan mereka yang fun dan positif.

Seorang wanita sedang mengemudi di jalan dan berhenti ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Satu persatu kendaraan mendekat dan berhenti di belakang kendaraan wanita itu. Tidak berapa lama sudah ada 4 hingga 5 buah mobil yang antri di belakangnya. Lampu berubah menjadi hijau. Kendaraan wanita itu masih belum bergerak. Orang-orang masih menunggu, 2 menit, 3 menit belum juga bergerak. Orang-orang mulai gelisah, kemudian berubah menjadi kemarahan dan klakson dibunyikan. Akhirnya orang terdekat keluar dari kendaraannya, mendekati kendaraan wanita itu sambil marah-marah dan menggebrak pintu kendaraan. Wanita itu sedang menangis, menutupi wajahnya. Air matanya mengalir deras bahkan menetes mengalir diantara jari-jarinya. Orang-orang sekitarnya tidak peduli, memaki-maki dan menyuruh wanita itu meminggirkan kendaraannya agar mereka yang antri bisa melaju. Tidak ada tempat untuk orang yang bersedih!

Wanita itu baru saja menerima berita bahwa suaminya kecelakaan di tempat kerja dan meninggal dunia. Di rumah menunggu 2 orang anak yang masih kecil-kecil.

Mungkin sebaiknya jika mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan, seperti misalnya berhadapan dengan seseorang yang kasar dan judes atau arogan, mungkin kita jeda sejenak sebelum bereaksi. Pelayan toko bisa saja judes dan tidak menyambut dengan ramah karena pada saat itu dia sedang pusing karena ada keluarga yang sakit, atau misalnya ada orang yang menyalip kita di jalan raya seenaknya karena kita tidak tahu pada saat yang sama dia harus secepatnya ke rumah sakit karena anaknya harus operasi. Mereka semua melakukan itu bukan karena tidak suka dengan kita, orang yang mengemudi seenaknya itu bukan karena ingin membahayakan kita. Atau seperti contoh wanita di lampu merah itu, mungkin lebih baik kita bertanya dan membantu meminggirkan kendaraan daripada memukul-mukul pintu mobil dan memaki-maki. Dia sudah mempunyai masalah yang jauh lebih berat daripada kita yang hanya harus menunggu beberapa menit di lampu merah. Mereka melakukan itu tidak dengan sengaja untuk mempersulit kita. Jangan dimasukan kedalam hati. Untuk apa? Kita tidak kenal mereka dan mereka tidak tahu siapa kita. Jadi tidak ada kesengajaan. Kita tidak dapat merasakan kekhawatiran wanita di lampu merah yang memiliki anak kecil-kecil dan ditinggal suami. Mungkin saja wanita itu sedang memikirkan bagaimana nasib dia kedepan karena tidak memiliki mata pencarian karena selama ini mendiang suaminya yang mengurus segala sesuatu. Dia bisa saja kehilangan segala-galanya, sementara kita hanya kehilangan 5 menit menunggu.

Masyarakat hanya menuntut suatu yang harmonis, kegembiraan, senyuman dan keramah-tamahan, lupa bahwa dibalik itu pada kenyataannya banyak kesedihan, ketidakberuntungan, kekacauan. Jika kita jeda sejenak, mungkin akan dapat melihat dunia secara utuh dan menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, bahwa dunia, semesta mempunyai dua sisi dan kita tidak dapat membutakan diri hanya menuntut satu sisi yang kita inginkan. Itu artinya kita tidak adil pada kehidupan, itu artinya kita menipu diri dan membiarkan hidup dalam kepalsuan.

Set back and reflect!

Foto credit: hrkatha.com

You May Also Like