AES 897 We Are All In God's Hands
joefelus
Tuesday November 7 2023, 9:49 AM
AES 897 We Are All In God's Hands

Saya bukan orang yang religius. Well, saya pernah menganggap diri ini religius, pergi ke gereja setiap hari, mengambil komuni setiap hari. Hingga ada peristiwa yang sedikit menjauhkan saya dari gereja walau saya masih berdoa, masih percaya pada kuasa Ilahi.

Beberapa waktu yang lalu saya katakan bahwa pengalaman itu sangat dalam dan perlu untuk direnungkan. Hanya saja sepertinya saya belum menemukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Entahlah mungkin saya masih dalam proses mengenali atau melepaskan diri dari masa denial. Bayangkan saja, saya bisa terharu ketika menonton film Star Trek, tapi ketika Nina mengalami peristiwa luar biasa ini saya malah lurus-lurus saja, seperti yang tidak mempercayai bahwa kondisinya sangat berbahaya.

Pagi ini saya menemani Nina pergi menemui dokternya. Dokter ini yang secara reguler membantu Nina jika ada masalah kesehatan. Di Amerika memang hampir setiap orang memiliki primary doctor, yaitu dokter yang selalu kita datangi jika mengalami masalah kesehatan. Dokter ini bersama rekannya yang menyelamatkan Nina. Sebetulnya rekannya yang lebih berjasa karena pada hari itu Nina tidak membuat appoinment sehingga primary doctornya tidak mempunyai slot waktu, sehingga dokter Terry, seorang dokter wanita yang sangat baik hati, yang membantu Nina.

"Nina has a very high resistance to pain, so when she told us 2 out of 10, for other people maybe 12 out of 10. Very stoic! So when Terry asked me about your case, I told her, that if Nina started screaming, there is something wrong so we should see the case more thoroughly." Kata Dokter

"It's time to start getting closer to God because you have a guardian angel who protects you. I think God works through Doctor Terry and she really saved your life." Sambung dokter.

Kami terus mendengarkan. Dokter ini menjelaskan secara detail apa yang terjadi dengan Nina. Betapa mereka sebetulnya sangat khawatir dan dokter tadi terus terang mengatakan dia tidak banyak berharap bahwa Nina bisa pulang.

Seperti saya katakan beberapa saat yang lalu. Saya masih membutuhkan waktu untuk benar-benar mencerna semua peristiwa yang kami alami beberapa waktu terakhir ini. Sudah sekian banyak dokter dan perawat yang berusaha menjelaskan semua peristiwa yang kami alami, sebagian besar berbentuk fragmen sehingga kami harus menyatu-nyatukan kepingan-kepingan itu untuk memperoleh gambar yang utuh. Secara garis besar saya tahu apa yang terjadi. Tapi, sekali lagi, sepertinya ada tembok yang kokoh yang membatasi saya untuk bisa "merasakan". Apakah saya memaksakan diri untuk bisa merasakan? Mengapa tidak bisa? Saya tidak mengerti.

"Well, maybe it's good that the doctors did not tell you in detail and they just told you after everything's done." Kata dokter lagi.

Itu juga saya sadari. Saya juga tidak bisa memaksakan diri untuk bisa masuk kedalam perasaan yang saya inginkan. Yang saya inginkan adalah closure, saya menyadari, merasakan, menerima dan move on. Itu yang saya inginkan tapi sepertinya ada back-log yang belum mampu saya tembus. Mungkin hanya waktu yang nanti bisa menuntaskan. Saya tidak tahu. Yang saat ini harus saya lakuan adalah yang seperti dokter katakan tadi pagi. Bersyukur bahwa Tuhan selalu menjaga kami, ada malaikat pelindung melalui orang-orang di sekitar kami dan mengingatkan ketika ada di saat-sat genting, menghibur ketika kami sedang dirundung kemalangan, membantu ketika kami sedang dalam kondisi yang sangat lemah dan menyelamatkan ketika kami butuh bantuan. Ya, we are all in God's hands!

Foto credit: aspiregod.wordpress.com

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Thank you Joe. This is a very deep and powerful piece of essay. GBU always. ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ™๐Ÿผ
You May Also Like