Hari ini sepertinya pikiran saya mirip dengan kak Andy yang sedang ngobrol soal politik. Nah ini adalah topik yang hampir 90 persen saya jauhi karena berbagai alasan. Alasan yang utama adalah karena ketika ngobrol soal politik apa lagi jika mengamati aktor dan pendukungnya, yang saya rasakan justru hal-hal yang mengarah ke sisi negatif, dan saya tidak suka itu.
Di Amerika dan di Indonesia tidak banyak berbeda. Orang mungkin berpikir bahwa Amerika yang dianggap sebagai negara maju, masyarakatnya sudah jauh lebih cerdas. Hahaha.. Menurut saya itu pendapat yang salah. Pada kenyataannya tidak jauh berbeda dengan di tanah air. Debat yang tidak karuan karena jauh dari fakta selalu terjadi. Kebodohan masyarakat yang dimanfaatkan oleh aktor politik juga terjadi di sini. Semuanya sangat subjektif dan pertentangan para pendukung selalu terjadi karena masing-masing memiliki bias konfirmasi. Saya saja yang tidak terkait dengn pihak manapun merasa terganggu apalagi jika terlibat. Itu alasan utama mengapa saya menjauhi ikut-ikutan soal politik.
Di Amerika partai yang dominan hanya dua yaitu Demokrat yang juga disebut sebagai sisi kiri, yang lebih moderat, dan yang kedua adalah republikan atau garis kanan yang lebih konservatif. Nah pihak konservatif selalu menganggap kelompok moderat adalah sosialis lah, bebas, mendukung LGBT, bahkan ada yang bilang atheis. Entah mengapa, mungkin karena moderat dibandingkan dengan kelompok konservatif yang lebih agamis, nasionalis, mendukung tradisi dan sebagainya. Saya tidak terlalu mendalami tapi jika melihat perdebatan meraka kadang-kadang saya harus garuk-garuk kepala sebab banyak sekali hal-hal yang absurd, diluar nalar dan sangat naif. Ya, pendidikan, kekurangan pengetahuan, bahkan maaf, kebodohan sering terlibat dalam depat yang seringkali ngawur. Akhirnya saya berhenti memperhatikan karena ujung-ujungnya membuat jengkel.
Nah demikian juga di tanah air. Masyarakat seringkali jadi korban karena dimanfaatkan oleh aktor politik. 5 tahun yang lalu A melawan B saling menjelek-jelekan, saling manjatuhkan, perang karakter hingga sangat tidak masuk akal. 5 tahun kemudian kubu aktor A dan aktor B bergabung? Loh gimana ini? Sementara masyarakat sudah terlanjur terpecah, persahabatan jadi hancur gara-gara mendukung aktor yang berbeda. Sesudah bermusuhan sekarang mereka bergabung, lalu pendukung yang sudah perang hingga bermusuhan harus bagaimana? Hahaha.. ini sandiwara konyol! Dulu mengutuk sekarang berteman. Dulu ngata-ngatain antek asing dan harus dibasmi, bahkan ada yang berdoa hingga mengancam Tuhan (oh boy!), sekarang malah saling mendukung? WTH!!!!
Saya sudah memutuskan untuk menjauh dari keterlibatan dalam hal ini. Saya netral tidak mendukung siapa-siapa. Tapi bukan berarti saya tidak akan mempergunakan hak saya. Saya akan menentukan sesuai dengan kehendak bebas saya, sesuai dengan pendapat yang objektif. Jika semua buruk saya akan memilih yang terbaik dari yang terburuk. Yang jelas saya tidak akan mendukung kaum hiprokrit, kaum oportunistis dan aktor-aktor yang hanya memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.
Apakah saya pernah kecewa? Hampir selalu. Ada teman baik saya yang menjadi aktor politik. Saya kagumi dia, tapi karena aktor politik terikat pada partai, ya jelas dia tidak dapat menentang partainya toh? Jadi ya sudahlah, itu risiko dia. Banyak hal yang tidak bisa dengan bebas dia lakukan, itu memang rule of the game-nya. Namanya juga politik, kita harus bisa dengan bijak menyaksikan, membuat keputusan objektif dan yang jelas harus tetap cerdas dan memiliki pengetahuan yang cukup. Tapi jujur, saya tetap tidak suka. Tidak suka bukan berarti saya lepas tangan dan tidak melakukan apa-apa loh. Bagi saya politik sama seperti urusan agama, itu hal pribadi dan itu adalah keputusan saya untuk menyimpannya sendiri atau tidak.
Foto credit: differencebetween.net
Betul Joe. Mengamati panggung politik memang menyebalkan, tapi buat saya ini jadi cara belajar dan mengamati tentang berbagai karakter manusia. 😊
Kadang untuk bicara politik, kita harus cari yang selevel. Tujuan yang sama walau pilihan beda. Sehingga perbedaan ini tidak membawa keributan. Masalahnya, sulit untuk cari teman yang selevel. Banyaknya yang levelnya lebih tinggi.