"Mau duduk dan makan es krim di luar sini?" Tanya saya kepada Nina.
"Sure." Katanya sambil mendekati bangku panjang yang terletak di depan toko es krim yang baru saja kami datangi.
"Ga jadi ah, dingin. Di dalam mobil aja yuk." Kata Nina
Akhirnya kami berjalan menuju mobil yang parkir persis di depan toko, hanya beberapa langkah dari bangku yang barusan akan kami duduki.
Kami memutuskan keliling kota sebentar dan makan es krim sesudah selesai Physical Therapy Nina sepulang kerja. Nina harus terapi 3 kali seminggu. Kemajuan kali ini jauh lebih pesat daripada operasi kaki kiri dulu. Entah karena apa. Mungkin karena kami sudah tahu segala macam seluk beluk proses penyembuhan, Nina juga sudah bisa mengantisipasi tingkat rasa sakit yang harus di hadapi, maka proses penyembuhan paska operasi lutut kanan ini sepertinya jauh lebih cepat dan lancar. Hari ini tepat 2 minggu sejak operasi, Nina sudah bisa naik sepeda dan membuat putaran penuh. Kursi roda juga semakin jarang digunakan, bahkan kalau di rumah Nina sudah tidak memakai tongkat, bisa berjalan perlahan-lahan dengan rasa percaya diri yang tinggi. Jika dibandingkan dengan operasi yng pertama, Nina dulu masih menggunakan kursi roda bahkan sesudah 2 bulan paska operasi, mungkin malah menjelang 2 bulan baru bisa berjalan perlhan-lahan tanpa tongkat. Kali ini hanya 2 minggu. Saya begitu senang dan bangga akan usaha dia.
Nah, sesudah selesai terapi, saya mengusulkan mencari es krim, dari rumah bahkan kami sengaja membawa granola. Enak sekali makan eskrim ditaburi granola. Ada toko es krim di down town yang enak, kami berdua sangat menyukainya.
Entah siapa yang menciptakan es krim. Menurut saya ini sebuah ide jenius. Katanya sih kudapan semacam es krim ini sudah mulai ada di dataran Persia ratusan tahun sebelum masehi. Entah benar atau tidak, tapi katanya di Mesir sekitar era yang sama es diketemukan.
Akhirnya kami berdua duduk di dalam mobil menikmati es krim. Saya memilih butter pecan, es krim favorit dan satu lagi rasa lain yang saya lupa namanya. Menikmati es krim sambil ngobrol dan saya mengingat masa kecil. Di masa itu Es krim bukan makanan yang sering saya rasakan karena harganya tidak terjangkau. Uang saku saya tidak cukup. Sesekali saya beli dari bapak-bapak penjual es krim yang menjajakan jualannya dengan dipikul. Saya bahkan membuat sendiri dengan menggunakan kaleng bekas biskuit dan menggunakan santan kelapa sebagai pengganti susu. Salah satu kebiasan menikmati es krim di kampung juga unik, seringkali dijadikan sandwich dengan roti tawar hahaha.. Sampai sekarang jika saya kangen makan es krim seperti itu masih sering melakukannya. Ternyata kebiasaan semacam itu juga di kenal di Philipines. Waktu di Hawaii, di restoran tempat saya bekerja kadang ingin snack, jadi saya mengambil roti tawar lalu diberi es krim. salah seorang anak buah saya mengatakan bahwa di kampungnya juga sering makan es krim dengan cara seperti itu. Menarik ya?
Jaman dahulu sebelum ada kulkas, katanya membuat es krim itu sangat sulit dan membutuhkan tenaga yang banyak. Es katanya diambil dari danau, dipotong-potong lalu dibawa dan dimasukkan kedalam lubang. Saya jadi ingat di awal-awal film frozen yang Kano dan saya tonton ketika Kano masih kecil hahaha.. Ya, kita beruntung sekali hidup dijaman modern ini dimana segala sesuatu dapat dengan mudah kita nikmakti, salah satunya es krim, Makanan yang luar biasa!