Saya masih harus menulis 3 esai lagi untuk mencapai angka 1000 di kelompok Atomic Essay Smipa dimana saya ikut bergabung. Bagaimana perasaannya bisa mencapai angka segitu? Excited, sambil terus berpikir tulisan apa yang nanti akan saya buat untuk menandai esai saya yang ke-1000 itu. Sejauh ini belum ada ide, tapi keinginan saya adalah menulis sesuatu yang agak spesial. Bisa atau tidaknya ya lihat saja nanti, karena sering kali ide menulis itu tidak dapat diduga munculnya. Banyak keinginan untuk menulis tapi belum tentu dapat melakukannya dengan baik dan hasilnya juga belum tentu baik. Namanya juga masih belajar.
Ada yang bilang, "Mas, masa sih sudah bisa menulis 1000 esai tetap menganggap diri masih belajar?" Hahaha... angka itu hanya sekadar angka. Soal ketrampilan, kemampuan itu harus terus diasah. Kalau hanya sekedar menulis yang tidak ada isinya sih mudah, sama seperti ngobrol tapi dalam bentuk tulisan. Seperti contohnya ya tulisan saya hari ini, saya tidak punya ide yang bermutu tapi hanya ingin ngobrol soal keseruan dan rasa semangat menjelang tercapainya angka 1000 yang sudah saya tunggu-tunggu.
Satu kebiasaan yang saya peroleh dari menulis setiap hari adalah perhatian, pandangan dan kepekaan saya terhadap segala peristiwa di sekeliling saya semakin tinggi. Saya umpamakan dengan usaha mencari kupu-kupu, misalnya. Ketika kita memasuki taman atau hutan, mata kita langsung dipaksa untuk menjelajah kemana-mata, setiap ada gerakkan sedikit kita langsung memfokuskan pandangan kita pada gerakan itu, apakah itu kupu-kupu atau hanya sekedar daun yang ditiup angin? Itu metafor nya. Lama-kelamaan mata kita menjadi terlatih dan dengan mudah membedakan kupu-kupu dengan daun, kupu-kupu dengan serangga lain. Nah demikian juga dengan usaha menulis. Setiap hari saya berusaha melihat segala sesuatu dengan lebih fokus dan jernih. Tanpa sadar kegiatan semacam itu menjadi sebuah kebiasaan yang terjadi secara otomatis.
Seperti saya pernah katakan, ide menulis itu sebetulnya banyak, kelemahannya adalah apakah kita sungguh-sungguh memperhatikan keadaan sekeliling kita atau hanya sekedar melihat. Sama seperti suara, ada banyak sekali suara yang bisa diterima oleh telinga kita, tapi pertanyaannya adalah apakah kita mendengarkan serta memilah-milah suara itu atau hanya sekedar mendengar? Sulitnya dalam bahasa Indonesia kata mendengar itu sama, jika dalam bahasa Inggris misalnya ada kata hear dan listen dua-duanya mempunyai arti yang sama tapi dengan fokus yang berbeda. Mendengar yang hanya merupakan kemampuan telinga, atau mendengarkan yang merupakan kemampuan telinga ditambah dengan fokus serta upaya yang sungguh-sungguh untuk bisa memahami suara itu, atau dengan perhatian. Nah itu bedanya. Mungkin dalam bahasa Indonesia bisa dibedakan dengan mendengar serta mendengarkan. Nah melihat dan memperhatikan juga dua hal yang berbeda. Melihat hanya sekedar kemampuan mata kita, sementara memperhatikan adalah melihat dengan tambahan upaya untuk melihat sesuatu dengan kesungguhan dan fokus untuk membedakan benda atau peristiwa satu dengan yang lainnya.
Saya menyukai hampir semua novel karangan Dan Brown, seperti Davinci Code, Angels and Demons, The lost Symbols dan lain-lainnya kecuali satu judul yang sampai sekarang belum juga saya selesaikan, judulnya Digital Fortress. Walau plot hampir semua novel itu sama, yaitu seorang professor ahli simbolism yang "kikuk" didampingi oleh seorang wanita dengan karakter yang kuat bersama-sama melakukan petualangan seru, tapi banyak hal yang membuat saya tertarik yaitu kemampuan penulis untuk memperhatikan benda-benda tertentu dibandingkan dengan kita yang awam hanya sekedar mengagumi keindahan dari benda-benda yang sama. Misalnya kita masuk kesebuah gereja tua yang megah dan Indah. Kita yang awam hanya menikmati keindahannya saja, sementara Dan Brown dapat melihat sesuatu dengan wawasan yang berbeda. Nah di situ faktor-faktor yang menarik perhatian saya. Kok bisa ya? Nah itu juga pertanyaan saya setiap kali membaca sesuatu. Kenapa saya tidak bisa begitu? Nah itu yang saya ingin dapat pelajari. Tapi namanya belajar menulis secara autodidak, ya kemajuannya sangat lambat jika tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Tidak apa-apa, saya tidak pernah ingin menjadi penulis sungguh-sungguh, saya hanya ingin bisa menulis pengalaman dan petualangan hidup saya dengan cara yang menarik. Itu saja.
Nah obrolan saya akan ditutup dengan sebuah cerita. Saya tinggal di kompleks besar yang isinya keluarga-keluarga yang merantau, yang berasal dari berbagai pelosok dunia yang salah satu anggota keluarganya belajar di Colorado State University. Ada banyak teman saya dari Afrika, Asia, Eropa dan entah dari mana lagi. Banyak teman-teman dari India dan Timur Tengah di sini dan beberapa adalah keluarga besar dengan jumlah anak yang banyak. Jadi tidak heran di kompleks saya banyak berceceran mainan anak-anak, sepeda anak kecil, scooter, bahkan stroller untuk bayi di halaman, di lapangan, pokoknya di mana-mana. Beberapa diantara mereka sulit menjaga kebersihan rumahnya, jadi ada yang halaman rumahnya penuh dengan barang dan berantakan. Memang tidak selalu sedap dipandang, tapi saya tidak punya wewenang untuk menegur. Ya sudah saya terima saja.
Nah sore tadi saya menyempatkan diri membuang sampah, mumpung udara sedang lumayan hangat, dan mengingat besok akan turun salju maka saya sempatkan membuang sampah, saya tidak mau mengangkat tempat sampah yang berat sambil tertatih-tatih di atas salju. Itu alasannya. Nah ketika saya selesai membuang sampah lalu berjalan ke rumah kecil yang isinya mailbox untuk mengambil surat-surat, saya tertegun sebentar. Ada sebuah mobil SUV putih yang bagi saya termasuknya mobil mahal dan mewah, merk Lexus bergerak perlahan-lahan menuju tempat pembuangan sampah. Saya bengong sambil akhirnya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Didalamnya sorang wanita memakai pakaian khas daerah tertentu (saya tidak mau melakukan stereotyping hahaha) mengemudikan mobilnya perlahan-lahan. Di atas kap mesin mobilnya, menutupi pandangan pengemudi penuh dengan kantong-kantong belanja berisi sampah! Hahaha.. mobil itu berhenti di depan tempat sampah, wanita itu turun lalu membuang sampahnya satu persatu diambil dari atas kap mesin mobilnya. Lalu sesudah selesai, dia masuk ke dalam mobil lalu putar balik dan kembali ke apartemennya yang jaraknya tidak lebih dari 50 meter. Memang itu mobil dia, dan tidak ada larangan melakukan itu, tapi mengapa? Hahaha.. Dia pasti punya alasan tertentu, tapi sangat menguntungkan bagi saya, karena sesudah menyaksikan itu, saya punya ide untuk cerita! Hahahaha...
Foto creditL nzherald.co.nz