Saya punya sebuah pertanyaan untuk teman-teman semua. Setiap orang, guru kita, orang tua kita, bahkan pemuka agama sering mengatakan bahwa nasib kita sudah ditentukan, bahwa kita berusaha dan Tuhan yang menentukan. Bukan begitu? Nah pertanyaan saya, Jika kita mempercayai itu semua, mengapa kita begitu khawatir akan masa depan? Nah, jangan dijawab dulu, mari kita bersama-sama memikirkan ini, sebab saya juga mengalami hal yang sama.
Sudah banyak sekali nasihat atau kata-kata bijak yang bisa kita temukan di mana-mana, bisa kita cari dan baca di mana-mana atau kita dengar di mana-mana. Bahkan presiden Obama sendiri pernah berkata demikian: "We did not come to fear the future. We came here to shape it." Nah, kenapa banyak sekali orang yang memberi nasihat tentang melupakan masa lalu karena tidak dapat diubah, tapi kita belajar daripadanya, lalu fokus pada masa kini dan jangan takut akan masa depan karena masih merupakan misteri. Kenapa? Karena pada hakikatnya semua orang khawatir akan masa depan.
Banyak orang yang begitu khawatir akan masa depan hingga karena begitu terpakunya pada kekhawatirannya, dia lupa akan masa kini, mengabaikan saat ini. Bahkan Buddha memberi nasihat: "Be where you are; otherwise you will miss your life."
Mungkin jika kita melihat masa depan dari sisi yang lain, kita akan semakin mengerti bahwa tidak mengetahui masa depan menjadikan hidup kita jauh lebih menarik. Bayangkan jika kita nonton pertandingan sepakbola, misalnya. Mana yang lebih menarik menonton pertandingan yang sudah kita ketahui hasil akhirnya atau yang belum? Pasti jawaban teman-teman adalah yang belum, bukan? Sebab jika kita sudah mengetahui hasilnya maka excitement kita akan jauh berkurang. Tidak ada lagi perasaan was-was, jantung berdebar-debar dan sebagainya. Yang jelas, sama sekali tidak seru kalau kita sudah tahu hasilnya. Sama seperti menonton film, banyak film yang sudah dapat kita tebak arah ceritanya, nah jika sudah begitu tidak terlalu menarik lagi. Saya malah sering tertidur kalau menyaksikan film seperti itu, atau bahkan tidak akan saya selesaikan. Nah untungnya hidup kita tidak begitu bukan? Itu yang membuat hidup menjadi sangat berarti. Life which is worth living. Bukan begitu?
Nah saya akan mengutip apa yang Paulo Coelho katakan: "The secret is here in the present. If you pay attention to the present, you can improve upon it. And if you improve on the present, what comes later will also be better." Jadi kalau menilik kutipan dari Coelho ini, kita bisa melihat bahwa yang terpenting adalah sekarang karena apa yang kita buat aekarang menentukan apa yang akan terjadi di masa depan, bukan begitu? Jadi persis juga seperti yang dikatakan presiden Barack Obama, kita tidak perlu takut akan masa depan tapi justru kita ada sekarang untuk membentuknya.
Tapi siapa sih yang kebal akan rasa khawatir akan masa depan? Saya yakin tidak ada. Sesudah menulis seperti ini, mendengar atau membaca sekian nasihat dan kita memahaminya, tetap saja kita was-was. Apa ketakutan saya saat ini? Jujur saja, meninggalkan Kano sendirian membuat saya begitu khawatir. Memang benar saya dulu juga mengalaminya, bahkan lebih muda dari Kano waktu saya merantau jauh dari orang tua. Saya mengalami masa yang sangat berat, rindu keluarga, bahkan saat itu saya tidak diijinkan untuk berkirim kabar. Sadis memang. Entah tujuannya apa. Padahal jika diijinkan, setidak-tidaknya masalah saya waktu itu sedikit berkurang dan dapat berkonsentrasi dengan hal-hal lain. Saat itu seolah-olah saya sedang dihukum. Tapi walau begitu, kondisi saya waktu itu berbeda dengan yang nanti Kano akan alami. Saya hanya berjarak sekian ratus kilometer dari keluarga, Kano dan saya nanti akan berada di belahan dunia yang berbeda, ribuan kilometer. Nah siapa yang tidak khawatir?
Satu hal yang sedang saya usahakan saat ini adalah seperti judul yang saya pilih: Be positive and motivated. Saya berusaha berpikir positif. Jika saya terus menerus kahwatir itu artinya sama saja dengan saya tidak mempercayai diri sendiri. Maksudnya apa? Maksudnya adalah, selama lebih dari 18 tahun saya bersuaha mempersiapkan Kano untuk menghadapi saat-saat seperti ini. Saya yakin sudah mendidiknya dengan sebaik-baiknya, saya yakin sudah memberikan bekal yang cukup. Nah ini saatnya membuktikan bahwa saya telah berbuat dengan benar. Bukan begitu? Jika saya khawatir artinya saya tidak yakin sudah berbuat dengan sebaik-baiknya. Sekarang yang harus juga saya lakukan adalah memotivasi diri sendiri dan tentunya juga Kano. dengan memberikan keyakinan pada dia, dan tentunya pada saya sendiri maka kami akan merasa lebih siap. Kalau orang tuanya saja ragu-ragu, bagaimana anaknya bisa yakin?
Yang kedua, lakukan segala sesuatu pada saat ini sebaik-baiknya. yang kita lakukan sekarang akan membentuk masa depan. Ada sebuah pribahasa Arab yang saya sukai, "What is coming is better than what is gone."
Sekarang bagaimana tentang pertanyaan saya di awal esai ini? Nasib kita sudah ditentukan. Mungkin saya akan menjawab bahwa itu benar. Nasib kita sudah ditentukan, tapi bukan nanti melainkan sekarang. Contoh sederhana. Jika kita hanya duduk berdiam diri maka pintu di depan rumah tidak akan bisa terbuka. Tapi coba perhatikan jika saat ini kita bangun dan membuka pintu, maka pintu itu akan terbuka. Jadi jika pintu kita ibaratkan dengan nasib, yaitu terbuka atau tidak, maka ditentukannya saat ini, apa yang kita buat saat ini menentukan masa depan. Jadi memang nasib sudah ditentukan, tapi ditentukan saat ini, yang menunggu kita adalah hasilnya. Setuju tidak?
Foto credit: viadvocacy.com