AES 728 Turis
joefelus
Monday May 22 2023, 8:40 AM
AES 728 Turis

Weekend ini saya tidak mempunyai rencana apa-apa. Seharian di rumah saja, bahkan kemarin saya hanya melakukan 681 langkah, target saya biasanya 10 ribu. Sekali-kali saya ingin beristirahat, benar-benar menghabiskan hari tanpa melakukan apa-apa. Ada sih niat untuk pergi berlari, tapi begitu duduk di sofa, saya enggan berdiri lagi, seperti iklan salah satu merk furtiture jaman dulu, kalau sudah duduk lupa berdiri hahahaha..

Seharian saya duduk di depan TV menonton berbagai film. Salah satu film yang saya tonton ceritanya ya begitu-begitu saja, seperti film-film di Hallmark Channel atau Lifetime, saya menonton itu karena tertarik pada lokasi shootingnya di Asia tenggara. Ceritanya sendiri sudah saya bisa tebak dari awal karena plotnya sangat cliche! Sudah ada ratusan mungkin ribuan cerita yang plot nya seperti ini, jadi tidak aneh dan sebetulnya tidak menarik jika saya tidak memperhatikan dialognya yang sarat dengan pesan-pesan filosofis. Nah itu menarik dan memberikan beberapa ide untuk dipikirkan dan juga ditulis.

Seperti judul esai ini adalah turis, sengaja saya ungkapkan karena saya merasa selama ini hidup saya seperti itu. Hidup yang saya jalani sesudah seharian saya renungkan, seolah-olah sedang melakukan perjalanan liburan. Saya pergi ke berbagai tempat hanya untuk menyaksikan, tidak untuk "mengalami" dan kalaupun mengalami, tetap menjaga jarak. Tempat-tempat yang saya datangi dan tinggali sesudah saya pikirkan sungguh-sungguh, seolah-olah hanya tempat melarikan diri dari kepenatan hidup saya sebelumnya. Lelah berada di tempat A saya pindah ke B, lalu karena sudah bosan pindah lagi ke C, begitu seterusnya.

Di film yang barusan saya saksikan, salah seorang tokohnya berkata," You do not know how long you live will be, so don't waste on escape, start experiencing it." Begitu kurang lebih, tepatnya saya tidak ingat. Itu kemudian saya sadari dalam menjalani hidup, ketika pulang dari petualangan pertama di samudera Pasifik dan pulang ke Bandung, saya tidak pernah membeli perlataan rumah yang kuat dan tahan lama, saya hanya memilih yang fungsional dan tidak memilih berdasarkan kualitas dan durabilitasnya. Mengapa? Karena entah mengapa, saya merasa di Bandung itu hanya sementara! Saya membeli rak-rak buku dari bahan sederhana, jelas saja begitu beberapa bulan rak itu mulai melengkung karena tidak mampu menahan berat buku-buku saya yang banyak sekali. Itu salah satu contohnya.Waktu di rantau sudah sangat jelas bahwa itu hanya sementara, bagaikan liburan panjang selama bertahun-tahun, otomatis barang-barang yang saya miliki juga seadanya. Demikian juga saat ini. Seumur hidup saya merasa belum pernah benar-benar "settled"!

Apakah saya begitu rapuh sehingga memutuskan untuk hanya setengah-setengah? Maksudnya, tidak pernah saya sugguh-sungguh menjalani, karena bukan apa-apa,
jika hanya setengah-setengah kalau saya harus meninggalkannya, maka tidak terlalu menyakitkan. Apa karena itu? Saya memang senang berpetualang. Hampir dari setengah dari hidup, dihabiskan di rantau. Sense of adventure memang sangat kuat karena disitu keseruannya hidup di rantau, tapi sekali lagi hanya sebatas “turis”, dan berusaha tidak terlalu attached dengan lokasi yang saya tinggali serta benda-benda yang saya miliki. Sekali lagi karena semuanya hanya sementara!

Saya memang selalu berusaha menyerap semua yang saya jalani, salah satunya dengan misalnya menulis peristiwa-peristiwa yang pernah saya jalani, tapi setelah dipikir-pikir saya tidak pernah secara benar-benar intens 100% mengalaminya. Maksudnya, selalu ada sedikit yang saya sisakan sebagai bumper atau apalah istilahnya demi kemananan. Bukan begitu di kendaraan? Bumper tujuannya agar bagian utama tidak langsung rusak jika bertabrakan? Nah itu untuk tujuan keselamatan.

Saat ini saya bertanya-tanya, seperti apa rasanya jika saya settle down where my roots are? Mungkin sudah saatnya saya mulai memikirkan roots saya di mana. Apa yang menjadi kriteria roots itu. Apakah keluarga? Apakah hanya sekedar dimana saya bisa menemukan home, bukan hanya sekedar tempat tinggal? Akar biasanya dikaitkan dengan masa lalu, bukan? Dimana kita mempunyai keluarga, teman kecil, teman sekolah dan sebagainya. Mungkin karena semua sudah bergeser, maka saya merasa kehilangan faktor-faktor itu apalagi dalam menjalani hidup saya selalu berpindah-pindah. Yang paling lama mungkin hanya di masa kecil hingga belasan tahun, selebihnya tidak pernah selama itu. Sesudah orang tua pergi dan pindah, akar itupun terasa tercabut dan sulit untuk kembali kesana. Tapi jika memikirkan istilah home, saya memiliki beberapa. Tapi itu semua di masa lalu.

Mungkin yang harus saya pikirkan bukan roots yang berdasarkan masa lalu, tapi sekarang sudah seharusnya facktor masa depan yang menjadi kriteria utama. Mungkin ini menjadi proyek yang harus saya fokuskan dalam menjalani sisa hidup, mulai memikirkan untuk settled down dan memikirkan dimana saya memiliki keterikatan. Harus mulai berani melekatkan diri dan attached pada sesuatu agar bisa melepaskan diri dari zona nyaman dan merusaha melepaskan diri dari limiting myself, memasang rambu-rambu membatasi diri. Karena sekali lagi kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan hidup sehingga sudah saatnya berhenti berlari dan mulai benar-benar “mengalami”. Toh itu hanya sekedar sebuah keputusan! Saya ingin berhenti menjadi turis!

 

You May Also Like