Saya tahu bahwa dalam hidup satu hal yang paling konstan adalah perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang tidak pernah dapat ditahan atau dihindari. Hidup adalah perubahan. Nah jika hidup adalah perubahan, kita yang merupakan bagian dari kehidupan harus mampu menghadapi segala bentuk perubahan. Bukan sesuatu yang mudah untuk dapat ikut mengalir dan bergerak bersama perubahan, sebagai manusia yang sangat menyukai keadaan yang stabil dan nyaman, menghadapi perubahan sangat sulit apalagi berjalan bersama dan mengalir bersama perubahan itu. Saya mengalami ini dan walau sudah beruban seperti sekarang, yang namanya perubahan seringkali sangat sulit dicerna.
Saya ambil sebuah ilustrasi, misalnya pekerjaan. Saya sangat menyukai pekerjaan saya saat ini, mungkin jika ditilik kembali sejak saya mulai meniti karir ketika masih berusia belasan tahun hingga sekarang, ini adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan, mudah, nyaman dan juga memuaskan. Juga jika ditilik kembali, ini pekerjaan yang paling lama yang pernah saya lakukan. Tapi walau begitu, saat ini daya tariknya semakin menyusut.
Ada orang pernah mengatakan pada saya bahwa ketika sesuatu yang biasa kita alami mulai memberikan perasaan yang kurang menyenangkan, mulai banyak mengganggu kenyamanan, membuat lelah secara mental, maka jangan diabaikan begitu saja. Kita harus mulai menelaah kembali dan melihat serta menyelidiki apa yang menyebabkan itu. Mungkin saja kita sudah mulai harus melakukan perubahan, mungkin sudah saatnya untuk memutuskan koneksi dengan situasi itu atau bahkan dengan orang-orang itu. Katanya juga jangan langsung memutuskan hubungan itu untuk seterusnya, mungkin hanya untuk beberapa saat, memberikan ruang untuk diri sendiri dan juga waktu untuk melakukan permenungan dan berpikir sebelum membuat keputusan.
Berapa kali saya pernah mengalami hal semacam ini? Hmm.. jika dipikir-pikir sudah berkali-kali terutama ketika sudah tidak merasakan adanya tantangan, sudah menemui kebosanan karena harus melakukan hal-hal yang sama selama bertahun-tahun, atau ketika menjelang "akhir".
Lalu apa yang harus saya lakukan? Dulu ketika masih di awal-awal dan masih hijau, saya sama sekali tidak mengerti dan lebih terbawa pada kondisi yang emosional. Lama-kelamaan yang kemudian saya lakukan adalah menyadarinya. Kondisi semacam itu memang tidak pernah dapat dihindari. Dalam segala hal, tidak hanya mengenai pekerjaan, tapi juga misalnya relasi. Ada kalanya kita menemui saat-saat yang stagnan serta membosankan, itu wajar. Jika kita menyadarinya dan bukannya tenggelam di dalamnya maka kita bisa melakukan tindakan. Dulu seringkali saya menuntut perubahan, tapi diarahkan pada objek yang salah. Yang harus berubah justru saya sendiri. Seperti Carol Burnett pernah katakan,“Only I can change my life. No one can do it for me.”
Nah akhir-akhir ini saya mulai menyadari bahwa kondisi seperti ini mulai terulang lagi, karena saya tahu bahwa saat ini menjelang "akhir" dan seringkali pada saat-saat semacam ini motivasi saya berubah. Banyak hal yang biasanya dapat menjadi trigger untuk terus berkembang dan menjadi semakin baik, justru sekarang tidak mampu lagi menjadi stimuli yang efektif karena saya punya alasan untuk berdalih," Buat apa? Toh sebentar lagi saya akan...." Nah, ini harus selalu saya sadari karena jika tidak kondisi tidak akan menjadi semakin baik dan seolah-olah berjalan mundur. Ini bukan merupakan bagian dari tujuan hidup saya. Saat akhir suatu hal, adalah awal dari hal yang baru, jadi jangan pernah disia-siakan.
Sebagai penutup saya ingin mengutip sebuah rangkaian kata-kata yang sangat bijak untuk diingat sebagai prinsip menjalani hidup:
“Don't Just"
Don't just learn, experience.
Don't just read, absorb.
Don't just change, transform.
Don't just relate, advocate.
Don't just promise, prove.
Don't just criticize, encourage.
Don't just think, ponder.
Don't just take, give.
Don't just see, feel.
Don’t just dream, do.
Don't just hear, listen.
Don't just talk, act.
Don't just tell, show.
Don't just exist, live.”
― Roy T. Bennett, The Light in the Heart
Foto Credit: the100yearlifestyle.com