Baiklah. Sekarang pertanyaannya adalah apa tujuan dari segala sesuatu yang kita sedang lakukan sekarang? Tentunya ini jika dikaitkan dengan tujuan jangka panjang yang kemudian akan terkait dengan tujuan hidup kita. Kalau yang simpel saja sih sangat mudah, seperti misalnya mengapa saya berjalan kaki ke kantor. Tujuannya jelas ya pergi ke kantor, untuk bekerja, agar nanti mendapat penghasilan yang akan digunakan untuk menjalani hidup. Atau jika ingin menelaah dengan lebih filosofis dan lebih mendalam, tujuan berjalan kaki ke kantor adalah untuk dapat mengaktualisasi diri, dan seterusnya dan seterusnya.
Tujuan hidup selalu menjadi topik yang tidak pernah selesai dibahas. Saya sudah menulis dan merefleksikan ini berkali-kali. Apakah saya tahu dengan pasti tujuan hidup? Hmm.. saya masih ragu-ragu. Beruntunglah mereka yang sudah menemukan tujuan hidup, sebab katanya mereka yang sudah memiliki ini akan lebih menikmati hidupnya daripada yang belum. Sejauh ini saya masih mereka-reka. Mungkin sampai pada titik dan detik terakhir saya baru bisa mengkaitkannya dengan lebih akurat. Sekarang ini jauh lebih ke menduga-duga. Yang jelas yang saya lakukan adalah untuk mencapai kualitas diri yang lebih baik. Ironisnya hal ini tidak benar-benar sejalan dengan kondisi tubuh, kondisi fisik, karena pada saat tertentu sesudah mencapai puncak, tubuh kita mulai menurun kualitasnya. Teman-teman yang sudah mencapai usia yang melewati puncak produktifitas dan puncak 'well-being" tentunya mengerti apa yang barusan saya maksudkan.
Pencarian diri tidak selalu mudah dijalani. Jika kita menelusuri perjalanan hidup kita, sejak jaman sekolah kita dibimbing oleh para guru maupun orang tua untuk mulai mengenal diri, menemukan diri dan mencari identitas siapa diri kita sebenarnya, tentunya bisa kita banyangkan seluruh perjalanan yang sudah kita lalui. Apakah berhenti begitu saja? Tidak, hingga saat ini saya masih terus menerus mewujudkan figur dan identitas diri yang jauh lebih "sejati". Seringkali saya masih tersesat. Mencari berbagai informasi bahkan bergelut secara filosofis tidak selalu membantu bahkan seperti yang diungkapkan oleh Aristoteles tentang fungsi kemanusiaan atau Immanuel Kant yang membahas "highest good", malah membuat kita bingung serasa melayang-layang di awan tanpa sadar akan akar diri kita sendiri.
Hidup yang saya jalani memberikan pengertian bahwa perjalanan yang sudah saya lakukan ini memiliki banyak destinasi. Kadang saya harus tinggal begitu lama di suatu tempat, jauh lebih lama dari tempat yang lain, kadang yang saya alami tidak cukup dan saya harus pergi lagi. seringkali pengalaman positif yang menurut hasrat harus bisa terus dipertahankan dan dalam hati tidak ingin berkahir ternyata harus dihentikan dan membuat patah hati, namun tidak jarang pengalaman yang menyakitkan yang diharapkan segera berkahir ternyata berlarut-larut. Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Banyak rasa sakit yang sulit dilupakan, dan tidak sedikit rasa bahagia yang sulit dipertahankan. begitulah dinamika kehidupan.
Pada saat-saat tertentu saya sering bertanya, kemana hidup ini akan mengarahkan saya? Bagaimana pula dengan orang-orang yang kita cintai? katika kita terus memikirkan ini dan berpikir jauh lebih dalam, kita menyadari bahwa hidup ini tidak selalu mudah untuk dijalani oleh setiap orang. Tapi semuanya dapat kita pahami jika berpikir dalam berbagai perspektif yang berbeda.
Saya ingat percakapan dalam sebuah film kartun Madagascar antara Alex, si singa dan Marty si zebra. Alex berkata," tentu saja kamu berbeda sebab zebra-zebra yang lain warnanya hitam dan putih, sementara kamu adalah putih dan hitam!" Ini adalah perspektif. Dan jika kita menerapkan hal ini dalam kehidupan, segala sesuatu dapat dilihat dari berbagai pandangan yang berbeda. Sama seperti orang-orang di jawa ketika melihat kecelakaan. Ketika teman saya patah tangannya karena ngebut naik motor di tikungan sehingga terjungkal, orang-orang mempunyai pendapat berbeda. Satu orang berkata," Wah parah sekali hingga tangan patah-patah.", sementara yang lain berpendapat lain,"Untung hanya tangan bukan leher!" satu peristiwa yang sama tapi orang melihat dari siusi yang berbeda.
Nah, hingga disini saya mulai berpikir tentang kejadian kahir-akhir ini dimana saya banyak mempertanyakan tujuan hidup. "Jika sudah sampai sini, apakah tujuan saya tercapai dan selesai?" Apa yang kemudian saya harus lakukan? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain. Saat ini saya sedang berpikir bahwa mungkin sesungguhnya saya harus mampu melihat hidup ini dari sisi yang lain. Perspektif saya ketika melihat perjalanan kehidupan diubah sehingga mampu memberikan arti yang baru tentang kehidupan, new meaning of life!
Foto credit; inc.com