Saya sangat mengantuk saat ini sambil duduk menghadapi layar monitor dan sibuk berpikir mencari ide untuk menulis. Kosong! Saya hanya ingin cepat beristirahat sesudah sepanjang hari sibuk. Semalam saya hanya sempat tidur 3 jam. Semalam ada sedikit kekacauan dikamar mandi karena ada kesalahan teknis sehingga air meluap ke lantai san saya harus mengeringkannya sebelum merusak lantai. Kemudan baru mulai berusaha beristirahat menjelang tengah malam. Ketika berusaha untuk memejamkan mata, Nina ada masalah dengan kakinya sehingga saya baru mulai tertidur sekitar pukul 2 pagi. Lalu jadwal memberian antibiotik Nina dimulai pukul 5 pagi. Jadi total saya hanya istirahat 3 jam.
Saya berangkat ke kantor seperti biasa, sekitar pukul 7 dan berusaha menyelesaikan semua tugas karena saya hanya akan bekerja hingga pukul 9, sesudah itu saya ijin untuk mendampingi Nina yang akan diwisuda hari ini.
Entah ada berapa ratus mahasiswa yang diwisuda saat ini. Semuanya mahasiswa pasca sarjana yaitu yang menyelesaikan program master dan doktor. Yang saya tahu ada 80 orang doktor dan beberapa ratus master. Upacara diadakan di stadion yang biasa menyelenggarakan pertandingan basketball dan volley. Namanya Moby Arena.Β
Ini peristiwa yang bagi saya sangat mengharukan karena seperti saya ceritakan kemarin, butuh penantian yang lama untuk sampai pada pencapaian ini. Ini adalah hasil perjuangan Nina yang tanpa lelah selama bertahun-tahun.Β
Satu hal yang menurut saya sangat unik atau bahkan aneh adalah segala rintangan dan halangan yang sudah kami lalui sama sekali tidak berbekas hari ini. Seolah-olah semuanya itu terlupakan begitu saja. Yang saya saksikan adalah seseorang yang berjalan dengan perlahan-lahan dan tegar walau sebetulnya kalau dia mau dapat sedikit membusungkan dada penuh kebanggaan. Tidak, itu sama sekali tidak terlihat. Dia berjalan sangat tenang, dan ketika maju ke depan dan namanya disebutkan dengan terbata-bata, sebab nama dia memang sangat unik dan susah untuk disebutkan oleh orang yang tidak terbiasa, dia maju dengan tenang. Saya agak terkejut karena tongkat yang membantu dia berjalan ditinggalkan di kursi. Dia berjalan tanpa tongkat. Jika tidak tahu, maka sama sekali tidak akan ada yang dapat menyangka bahwa minggu kemarin dia masih berbaring di meja operasi. Ini memang Nina yang saya kenal, yang dikatakan oleh dokternya sebagai seseorang yang stoic, sangat tenang tidak menunjukkan emosi. Ke-stoic-an dia ini yang sebetulnya hampir merengut nyawanya karena tidak merasakan bahwa sebenarnya dia sudah sangat kesakitan. Untunglah dokter mengenal dia dengan sangat baik. Sehingga hal yang terburuk dapat dihindari. Saat ini dia berjalan perlahan dengan tegak dan penuh senyuman. Advisornya kemudian berdiri di depan panggung dibelakang Nina dan mengenakan hood-nya sebagai penanda bahwa dia sekarang sudah "resmi" menjadi seorang doktor.Β
Kano dan saya setengah berlutut dia pagar pembatas tribun dengan masing-masing memegang kamera. Ini peristiwa yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Saya menengadah ke atas dan berbisik memanjatkan doa serta "menyapa" mereka yang sudah ada di atas sana untuk ikut menyaksikan bahwa perjuangan sudah berakhir. Sebuah peristiwa yang begitu mengharukan.
Foto credit: loveinsuar.live
A moment worth remembering, thus absolutely worth writing about. Please pass our congratulations to Nina. ππΌπππ»ππΌπ
Congrats buat wisudanya πΎ