AES 1120 There'll Be A First Time
joefelus
Wednesday June 19 2024, 4:53 AM
AES 1120 There'll Be A First Time

Saya duduk sendirian di kantor. Teman-teman yang lain sebagian besar melanjutkan pekerjaan mereka dari rumah, seorang lagi sedang memberikan pelatihan sedangkan saya sedang "mati gaya" hahaha.. entah istilah mati gaya ini masih hidup tidak, sudah lama sekali saya tidak mendengar kata-kata itu. Kenapa saya mati gaya? Sebab saat ini saya tidak dapat melakukan apa-apa kecuali menunggu. Salah seorang manager yang saya kenal agak "lelet' belum menyelesaikan tugasnya sehingga pekerjaan saya tertunda. Jika dia tidak selesai, maka saya belum bisa mulai. Nah itu yang saya sebut dengan "mati gaya" hahaha.. memang menyebalkan, tapi apa daya? Situasinya memang begitu sehingga saya hanya bisa menerima dan berusaha sabar. Ini memang kondisi yang sejak awal sudah saya antisipasi.

Eniwei, sambil menunggu, dan bengong, saya gunakan waktu ini untuk merenung. Saya sadari bahwa merenung akhir-akhir ini tidak berakhir dengan baik karena berbagai peristiwa yang sedang saya jalani. Seringkali saya agak kewalahan dengan luapan emosi yang begitu intens karena memang saya belum pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya. Ini mungkin akan menjadi salah satu pelajaran hidup yang baru yang harus sungguh-sungguh saya dalami. There's always be the first time for everything. Itu kata orang.

Sebagai orang dewasa, katanya selalu ada pilihan dalam hidup. kalau dalam menangani anak kecil kita bisa menentukan mana yang aman untuk dilakukan dan mana yang tidak. Misalnya belajar berjalan. Jika lingkungannya tidak aman, maka kita sebagai orang dewasa dapat memilih untuk membiarkan anak kita untuk tetap belajar berjalan atau bisa juga memindahkannya ke tempat lain yang lebih aman. Ada pilihan.

Tapi bagaimana jika tidak ada pilihan? Dalam diri kita ada bagian yang halus dan bagian yang tidak. Itu menurut saya. Ketika kita menyaksikan anak kita belajar sesuatu, ada konflik yang terjadi dalam diri kita, bagian yang halus selalu berusaha mengatakan untuk menunda atau bahkan menghindari sesuatu. "Jangan lah, nanti jatuh. Lain kali saja!" Itu bagian "halus" dalam diri kita, tapi di sisi lain, kita juga tahu bahwa membiarkan anak ini belajar dengan susah payah pada akhirnya akan membuat dia memiliki karakter yang kuat. Kita harus menggunakan bagian yang "keras" dan membiarkan mereka bertumbuh dengan tepat. Memang sebagai orang tua itu adalah peristiwa yang mengerikan. Orang tua saya banyak membiarkan anak-anaknya melakukan berbagai hal tanpa terus menerus dijagai. Keterbatasan membuat kami menjadi jauh lebih kreatif, jauh lebih toleran dan juga "kebal" dalam berbagai kesulitan. Sementara kondisi yang lebih mudah dan steril biasanya justru membentuk pribadi yang jauh lebih lemah. Lagi-lagi itu pendapat saya. Banyak yang saya saksikan begitu, walau tentu saja tidak semua.

Kita percaya bahwa pendekatan yang tepat dan baik akan dapat membentuk anak-anak kita bertumbuh dengan sehat. Cara terbaik agar mereka dapat memiliki karakter yang mumpuni adalah dengan mendukung mereka dalam menghadapi berbagai peristiwa yang berat dan menakutkan. Hal-hal semacam itu akan menjadikan mereka semakin baik dan menjalani masa-masa transformasi dengan lancar.

Untuk menjadikan mereka seperti kupu-kupu yang indah dan mampu terbang adalah dengan membiarkan mereka berjuang sekuat tenaga keluar dari kepompong. Jika kita membantu mereka dalam proses perjuangan keluar dari kepompong, maka sayap mereka akan menjadi lemah dan tidak akan mampu terbang. Nah, sekali lagi, kita butuh secara bijak memilih pendekatan yang baik dan tepat dalam mendukung mereka. Ketika kita percaya bahwa pendekatan yang diambil itu baik dan tepat, maka walaupun sulit, menyakitkan dan mengerikan, segala bentuk tantangan itu harus kita dukung, kita rangkul, kita embrace!

Ini adalah proses yang sangat sulit, dan sedang saya hadapi dengan susah payah. Ini sudah jauh di luar zona nyaman dan saya tidak punya pilihan sama sekali. Sangat sulit bagi saya untuk melangkah, sangat tidak nyaman, dan membuat saya sangat bersusah hati. Ini kali yang pertama. Mungkin nanti sesudah saya benar-benar menghadapinya walau dengan susah payah, akan ada kesempatan untuk bersorak sorai penuh dengan kegembiraan dan kebanggaan. Memang sangat amat sulit, tapi saya sudah melakukannya.

Foto credit: parents.com