"Sometimes you will never know the value of something until it becomes a memory." (Dr. Seuss)
Kalimat itu muncul pada saat saya bangun pagi. Itu benar sekali. Sepertinya kalimat di atas yang diungkapkan oleh Dr. Seuss itu sudah lama kita dengar dan kita pahami, tapi memahami saja menurut saya tidak cukup. Yang kita ketahui dan kita pahami itu sangat dangkal maknanya jika kita tidak pernah mengalaminya. Banyak kalimat-kalimat indah dan inspirasional tapi kita hanya tahu, dan baru terkejut ketika kita mengalaminya.
"I think you are doing the hardest job among all of us." Kata salah seorang rekan kerja saya beberapa waktu yang lalu.
Mereka menyadari betapa pekerjaan saya sangat penuh dengan tuntutan ketika mereka untuk sementara waktu harus menggantikan saya dari bulan Agustus hingga Oktober tahun lalu waktu saya tidak bekerja karena tidak memiliki ijin.
Hal yang sama akan terjadi lagi minggu depan, kali ini bahkan sifatnya permanen karena saya tidak akan kembali lagi. Teman-teman saya sudah mulai menyampaikan ketidaksukaannya. Memang proses pencarian pengganti saya sudah dimulai. Tidak tanggung-tanggung tadi pagi katanya sudah ada 12 orang pelamar. Banyak sekali orang yang menginginkan posisi pekerjaan saya.
"Sorry. I wish I could stay. This is the job I love the most all my life." Kata saya menimpali keluhan mereka karena saya akan pergi.
Memang kita seringkali menganggap remeh sesuatu karena kita sudah terbiasa, atau karena kita sudah sekian lama memilikinya. Begitu kita kehilangan hal itu, kita kemudian tersadarkan bahwa betapa pentingnya hal itu. Kita sering tidak menyadari bahwa yang kita miliki saat ini sangat berharga. Seperti yang dikatakan Dr. Seuss di atas, kita baru menyadarinya begitu sesuatu itu tidak ada lagi bersama kita.
Beberapa waktu yang lalu di layar monitor saya ada pop up muncul, sebuah undangan rapat yang akan dijadwalkan untuk hari Rabu tanggal 31 Juli. Yang menarik, adalah judul dari rapat ini: Sans Jo Meeting, lalu ada deskripsinya yang berbunyi begini: We will discuss life, Sans Jo.
Dalam hati saya mulai agak ngedumel (hehehe), mentang-mentang yang mengorganisir pertemuan itu orang keturunan Perancis, Patrick St Clair, terus dia buat judul rapat saja menggunakan bahasa Perancis, Sans, yang artinya "tanpa". Jadi kurang lebih pertemuan itu akan membahas apa saja yang harus mereka "lakukan" ketika nanti saya pergi beberapa hari lagi. Tujuan utamanya yang saya pikir adalah mereka butuh tahu tugas-tugas apa saja yang selama ini saya lakukan sehingga ketidakberadaan saya nanti tidak akan mengganggu lancarnya proses operasional mereka. Itu sesuatu yang wajar dan biasa dilakukan agar masa transisi ketika nanti pengganti orang yang meninggalkan pekerjaan dapat terus dilanjutkan sehingga segala sesuatu dapat terjamin kesinambungannya.
Sans Jo, tanpa Jo, tanpa saya. Itu yang mereka sedang siapkan.