Saya duduk menghadapi layar monitor sambil menikmati kopi dan sepotong bolu tape buatan salah seorang ibu yang hadir di acara perpisahan kemarin. Nina dan saya agak kelelahan dan memutuskan untuk keluar rumah agak lebih siang dari biasanya. Hari ini sebetulnya kami merencanakan akan pergi berenang karena masih banyak sisa di kartu langganan. Sayang jika tidak digunakan karena itu adalah kartu pra bayar yang akan hangus jika tidak digunakan. Tapi apa boleh buat kami saat ini perlu istirahat.
Hari tersisa kami tinggal di Fort Collins sudah dapat dihitung hanya dengan sebelah tangan. Tidak lama lagi, terlalu cepat dan waktu terus bergerak tanpa dapat ditahan. Ya begitulah kenyataannya, apalah manusia, kami hanya seonggok daging dan hanya sebutir debu dibandingkan dengan semesta. Tidak ada kuasa untuk mengatur bagaimana semesta bergerak. Kami hanya mampu menjalaninya dan mengalir.
Seolah-olah berenang melawan arus di sebuah sungai dengan air yang deras, sekuat apapun saya melawan, arus akan tetap menghanyutkan saya ke arah yang seharusnya. Saya telah belajar bahwa mengikuti arus akan jauh lebih menenyenangkan. Bukan pasrah, tapi mengerti bagaimana arus bekerja dan dalam menjalaninya saya akan jauh dapat menikmati perjalanan. Ketika arus begitu bergelombang dan berguncang-guncang, saya dapat sekuat tenaga menyesuaikan diri, menjaga diri agar tidak terguling. Ketika air bergerak dengan tenang, saya dapat menikmati perjalanan dengan nyaman sambil menikmati pemandangan sekitar.
Arus kadang mengarahkan ke permukaan berbatu, kita harus mampu mengalir dan berhati-hati agar tidak terantuk. Kadang air dipenuhi dengan berbagai halangan, kita harus jeli untuk mampu menghindarinya atau bahkan ada kalanya harus berani menghadapinya.
"Life is like a river, sometimes it sweeps you gently along and sometimes the rapids come out of nowhere." - Emma Smith
Begitulah hidup, kita tidak pernah dapat mengetahui apa yang akan terjadi di hadapan kita. Seperti sungai!
Foto credit: /smartwatermagazine.com
Well written Jo ππΌπ