AES 1177 Sherlock
joefelus
Tuesday August 20 2024, 11:04 AM
AES 1177 Sherlock

Ini hanya beberapa padangan yang akhir-akhir ini saya alami. Belum tentu juga ini merupakan hal yang berlaku bagi semua orang, bisa saja saya itu jumping into conclusion dan melakukan sterotyping. Yang saya tulis ini hanya sekedar iseng-iseng bahkan ada yang lucu, tapi juga ada yang agak serius.

Eniwei, yang lucu dulu hehehe. Terus terang saya harus banyak belajar menggunakan jargon dan kebiasaan yang umum di sini. Contoh misalnya share location, seumur hidup saya hampir tidak pernah melakukannya. Fort Collins walau merupakan kota kecil tapi sangat amat luas dan jumlah penduduk sangat sedikit, apalagi jika dibandingkan dengan kota Bandung. Nah sebab itu share location tidak dibutuhkan, karena tidak ada sama sekali lokasi yang crowded, semua bisa dilakukan dengan ngobrol di telepon atau menggunakan GPS, sangat mudah. Saya ingat pertama kali dan terakhir kali melakukan share location itu ketika dalam perjalanan bersama-sama rekan-rekan dari Indonesia menuju Mount Rushmore di South Dakota, itupun menggunakan HP rekan yang lain. That's it. Itu yang pertama dan terakhir dan saya lakukan bertahun-tahun yang lalu.

Semalam saya menunggu pengantaran sepeda motor. Saya sempat khawatir sebab menurut sopir katanya ada di Saguling, jika benar demikian dia tidak akan dapat mengantar ke tempat saya tepat waktu, karena portal tempat saya tinggal akan dikunci tepat pukul 10 sementara hingga saat ini saya belum memiliki kunci. Akhirnya saya hubungi pak sopir dan dia menunda ke Saguling lalu memutuskan untuk ke tempat saya terlebih dahulu. Kemudian ada text masuk: "Uken sherlock na manawi." Saya kebingungan. Mungkin yang dimaksud dengan uken adalah nyuhunkeun alias meminta tapi apa itu sherlock???? Saya sungguh-sungguh kebingungan dan akhirnya memutuskan untuk membiarkan saja, dalam hati mungkin pak sopir salah mengirim pesan yang seharusnya untuk orang lain. Tapi sungguh saya masih bertanya-tanya, apa hubungan Sherlock Holmes dengan sepada motor? Dua hal yang sama sekali tidak dapat dihubungkan. Tidak lama ada telepon masuk. " Assalamualaikum pa, antosan sekedap nya pa, abdi nuju di jalan. Tiasa nyuhunkeun share location?" Karena saya lumayan cerdas hahahaha, langsung saya mengerti sherlock = share location! Huahahaha... Orang Indonesia memang amazingly creative!

Saya sejauh ini banyak berhubungan dengan banyak individu dari berbagai kelas sosial. Saya tidak pilih-pilih karena bagi saya berinteraksi dengan siapapun akan memperkaya hidup saya dan dapat banyak belajar dari siapa saja. Tidak perlu berinteraksi dengan orang yang berpendidikan lebih baik dari saya untuk bisa belajar. Saya dapat belajar dari tukang tahu mapun profesornya Nina yang lulusan Harvard. Semua orang adalah nara sumber, biasa untuk pengetahuan maupun pengalama hidup. Saya juga merasa menjadi seorang observer yang berusaha menyerap sesuatu dari hanya sekedar menyaksikan.

Saya belajar dari seseorang yang berusaha saya bantu. Saya menyediakan sebuah fasilitas yang, maaf, menurut saya agak di atas kelas sosial dimana dia berada. Harapan saya sangat sederhana, disamping membantu dia, juga fasilitas yang disediakan itu dapat terjaga. Saya berusaha membantu dalam artian saya berharap dia mampu menyesuaikan diri, dapat lebih menempatkan diri di lingkungan sosial yang lebih baik, ini semacam tes karakter atau lebih tepat pelajaran karakter untuk yang bersangkutan agar dikemudian hari dapat berkembang. Penempatan diri seringkali menjadi semacam upaya untuk memperbaiki diri, membiasakan dengan lingkungan sosial yang lebih baik kemudian dapat membaur, biasanya memfasilitasi dia agar menjadi lebih percaya diri dan tidak terkucil sehingga relasi sosial dia berkembang.

Saya melakukan itu semata-mata karena berkaca pada diri sendiri. Saya pernah berada di lingkungan sosial yang dalam hal-hal tertentu menyulitkan saya untuk berkembang karena menjadi gamang berada di lingkungan sosial yang salah. Saya membantu individu itu juga dalam bentuk eksperimen, apakah orang dari kalangan tertentu dapat terangkat seperti yang pernah saya alami. Ternyata harapan saya meleset. Kemajuan seorang individu tergantung pada karakter masing-masing, Jika memang memiliki karakter yang mumpuni dan ingin berubah, tentunya segala sesuatu bisa terjadi tidak peduli dengan fasilitas. Fasilitas hanyalah kondisi fisik yang bisa diadakan jika kemampuan tersedia, tapi seandainya faisilitas tersedia sementara kartakternya tidak baik, maka semua menjadi kesia-siaan. Itu yang saya pelajari. Bukannya individu itu terangkat karena mampu menyesuaikan diri, justru fasilitasnya yang hancur! Hahahaha... Ya lagi-lagi pendidikan karakter itu sangat penting dan menentukan masa depan seseorang. Jika karakter yang dia miliki begitu-begitu saja, dengan memfasilitasi secara luar biasa pun, tidak akan berdampak banyak. Itu kesimpulan yang saya miliki. Saya katakan pada Nina, "Mau gimana juga kalau mentaliteit nya gitu-gitu aja, ya ga akan berubah!" Sayang sekali, tapi ya mau bagaimana lagi, itu adalah keputusan dia.

Foto credit: imyfone.com