AES 441 Waktu Dan Usia
joefelus
Sunday August 7 2022, 11:52 AM
AES 441 Waktu Dan Usia

Saya duduk sendirian di depan TV menyaksikan untuk kesekian kalinya film The Age Of Adaline. Walau sudah mengaksikan beberapa kali, saya lupa keseluruhan ceritanya. Yang saya ingat hanyalah bahwa Adaline tidak pernah tua karena pada suatu waktu dia kecelakaan ketika mengendarai mobil dan terperosok ke sungai kecil yang airnya sangat dingin lalu mengalami sebuah peristiwa yang ajaib karena suhu air di saat turun salju itu membuat detak jantungnya berdetak sangat lambat, dan kemudian ada kilat yang menyambar kendaraannya. Sejak saat itu tubuhnya seperti yang berhenti menua dan tidak termakan usia, dia tetap awet muda sebagai seorang wanita berusia 29 tahun. Saya masih harus meneruskan film ini untuk kembali mengingat jalannya ceritanya.

Bukan tentang film yang ingin saya obrolkan di sini. Film tadi hanya memberi semacam ide untuk berbicara mengenai usia. Saya sudah beberapa kali membicarakan tentang waktu. Ini topik yang tidak pernah selesai dibicarakan karena selalu banyak hal yang bisa dikaitkan dengan topik ini. Waktu dan usia selalu menjadi topik yang menarik.

"Don't get old, guys!" itu selalu nasihat saya pada teman-teman di tempat kerja yang sebagian besar jauh lebih muda daripada saya. Menua bukan hal yang selalu menyenangkan, tubuh makin lama makin menurun kondisinya. Karena usia dan waktu kemudian timbul istilah wear and tear yang artinya aus karena terpakai, sehingga tangan saya butuh operasi. Jari saya mulai rapuh karena aus sesudah sekian lama dipakai. Itu efek "negatif" dari menua. Ketika sudah melewati masa puncak, lalu kondisi mulai menurun. Sesuatu yang wajar, semua ada usianya, demikian juga tubuh dan juga benda-benda lainnya.

Apakah berhenti mengalami proses penuaan itu menarik? Kalau saya perhatikan di film yang sedang saya tonton saat ini, ada banyak hal tidak menarik juga. Misalnya dikejar-kejar FBI karena mereka ingin tahu rahasianya mengapa Adaline berhenti mengalami proses penuaan, orang-orang sekitarnya menua lalu meninggal sementara dia tidak pernah berubah. Kehilangan demi kehilangan bukan hal yang menyenangkan, bukan?

HP saya tiba-tiba mengirimkan semacam notifikasi tentang timeline yang sudah saya lakukan akhir-akhir ini. Kok ya bersamaan dengan saat saya memikirkan waktu dan usia. Notifikasi itu menunjukkan kunjungan-kunjungan saya ke banyak tempat bahkan hingga beberapa tahun yang lalu. Ada 62 tempat yang belum lama ini saya kunjungi, lengkap dengan beberapa foto dan tanggal perjalanan itu terjadi. Teknologi mencatat semua yang saya lakukan tanpa diminta. Entah ini sesuatu hal yang baik atau tidak, yang jelas beberapa saat ketika saya menelusuri foto-foto yang tersajikan itu, memberikan saya sebuah perasaan bahwa waktu terus bergulir dan tanpa terasa semua itu sudah saya lalui.


Reaksi saya sesaat menjadi kabur. Saya tidak tahu apakah harus bersyukur bahwa semua itu sudah pernah saya alami, atau merasa kurang nyaman bahwa semua itu "sudah lewat" dan kata "usai" membuat saya tercenung.

Saya tahu sebetulnya reaksi apa yang seharusnya saya lakukan. Tapi wajar juga bukan kalau saya kemudian merasa bahwa waktu-waktu yang menarik dan menyenangkan itu satu-demi satu sudah mulai saya tinggalkan. Yang jelas seperti apa yang ada didepan mata saja, misalnya. Saya barusan ngobrol dengan Kano sambil menyaksikan sebuah pertandingan esport di TV. Saya bilang, sebentar lagi dia akan memilih jalan hidupnya sendiri dan mulai hidup secara mandiri.

"That's something inevitable." Kata Kano

"Yes, of course! I agree. But to be honest with you I wish it's not happening this soon because I still want to be with you." Kata saya.

"Well, I am still your son, and I will always be your son." Jawab Kano.

Ya betul itu, kata saya dalam hati. Tapi ketika dia sudah melepaskan diri dari kehidupan saya, maka ada sebuah perasaan bahwa ketergantungan dia pada saya semakin hilang. Saya semakin tidak diperlukan lagi. Saya sudah mendekati masa-masa istirahat, dan sebagainya. Memang ini sebuah perasaan yang sangat egoistik. Di sisi lain saya juga bahagia bahwa masa pendampingan sudah mulai usai dan Kano akan mulai bersiap-siap mengalami petulangan hidup yang sesungguhnya sebagai insan dewasa. Petualangan demi petualangan baru akan dia mulai secara mandiri, dan sudah merupakan saatnya bagi saya untuk memperlambat langkah saya dan menyaksikan semuanya dari kejauhan.

"Did the officer from the Navy call you yesterday?" Tanya saya

"Yes, He did." jawab Kano pendek

"What did you say?" Tanya saya lagi

"I told him that I still needed some time to think about it. I wasn't ready to make a decision and I wanted to keep the other options open. This is a very big commitment I have to make and I need to really consider everything." Kata Kano. "I did not say no to him, though, because it is a very good opportunity that I do not want to lose. So he may call me back again in a few weeks. Hopefully, I'll have something for him."

Saya sangat setuju. Ini keputusan hidup yang sangat besar yang mungkin nanti akan menentukan arah hidup dia di masa depan. Sekilas saya teringat saat duduk di dalam bus antar kota dari kampung menuju Bandung, puluhan tahun yang lalu. Saya pada saat seusia Kano sekarang ini. Saya pada saat itu baru saja memutuskan sesuatu yang besar, memulai hidup secara mandiri melepaskan diri dari dampingan orang tua, sebuah keputusan yang kemudian menjadi arah kehidupan saya hingga ke saat ini. Itu puluhan tahun yang lalu, waktu usia masih sangat belia, waktu saya baru memulai kehidupan insan dewasa yang sesungguhnya di mana saya terus menghadap ke depan dan berpetualang hingga sekarang.***