"How's life without us?" Tanya saya pada Kano beberapa hari yang lalu.
"Well, knowing the fact that you guys are not around is kinda lonely." Jawabnya.
"You hardly saw us when we were still around because we all had our own things." Kata saya.
"That's true, but sometimes I also want to go out and hang out with you." Kata Kano
Itu sekelumit percakapan kami melalui video call yang sering kami lakukan. Tidak hanya Nina dan saya yang harus mulai membiasakan diri, tapi juga Kano. Secara fisik Kano mungkin, ini mungkin ya, sedikit lebih mudah karena tidak perlu membiasakan lagi dengan gaya hidup, makanan, maupun menyesuaikan diri dengan kecenderungan masyarakat. Nina dan saya harus banyak berusaha dalam urusan adaptasi.
Kemarin Nina mengemudi seharian. Hari ini saya. Dan hari ini untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun saya membunyikan klakson! Hahaha.. Ini bukan klakson potes atau marah, hanya memberi tanda bahwa saya ada di samping angkot yang kelihatannya akan bergeser ke jalur yang sedang saya lalui. Tidak ada salahnya lebih berhati-hati. Itu yang ada dalam benak saya, sehingga walaupun hati nurani menolak untuk membunyikan klakson, tapi mungkin akan lebih baik untuk keselamatan, dan mungkin juga angkot merasa berterima kasih sudah diberi tahu bahwa saya ada di sisinya. Nah, jadi ini suatu hal positif bukan?
Ini bukan pertama kali saya berusaha kembali menyesuaikan diri dengan kondisi di tanah air. Dulu saya juga melakukan itu, dan melakukan "pendekatan" yang kurang tepat.
"Betul atau salah bukan menjadi hal utama di sini, tapi apakah kita bertindak dengan cerdas atau tidak." Kata saya.
Cerdas yang saya maksud adalah bukannya menuntut orang lain untuk melakukan tindakan yang benar, itu bukan tugas saya, itu tugas yang bersangkutan apakah ingin mengikuti aturan, misalnya, atau tidak. Di jalan bisa kita saksikan banyak sekali orang yang tidak mengikuti aturan, dulu saya sering protes dan mengingatkan mereka, hasilnya bukan mereka menjadi lebih baik, tapi justru marah-marah pada saya dan akhirnya saya juga terpengaruh dan merasa jengkel bahkan marah. Itu satu kerugian yang telah saya alami banyak kali. Yang lain misalnya karena saya berusaha mengikuti aturan dan merasa benar, akhirnya justru kendaraan saya yang jadi korban, baret-baret, banyak dents dan sebagainya. Saya memang tidak salah, mereka yang salah karena misalnya mengemudi di jalur orang lain, atau melawan arus, dan sebagainya. Saya benar tapi saya jadi korban! Nah itu semua artinya saya tidak cerdas!
Bagaimana yang cerdas? Karena pada hemat saya mengubah orang lain, apalagi jika sudah menjadi sebuah kebiasaan, itu sangat sulit. Saya tidak memiliki kapasitas untuk melakukan itu. Lihat saja di jalan perlintasan kereta api, banyak orang mengabaikan keselamatan mereka sendiri, bahkan saya lihat sekelompok anak muda yang peduli, mereka membawa papan-papan anjuran untuk mengikuti aturan, masih sering diabaikan. Para pengendara sepeda motor masih nekad menerobos pintu palang kereta api walau sudah ditutup. "Mereka punya nyawa lebih banyak dari kucing!" Hahaha.. Nah, itu baru satu contoh. Banyak lagi yang lain. Saya memutuskan untuk bertindak cerdas dengan memberi jalan pada mereka yang sedang tergesa-gesa. Jika mereka tidak mengikuti aturan, saya menyesuaikan diri agar saya dan juga mereka tetap selamat. Saya berikan mereka senyuman sambil melakukan jestur bahwa saya mengijinkan mereka melintas dan sebagainya. Kebiasaan buruk yang komunal itu sangat sulit ditembus dan diperbaiki. Yang harus saya lakukan adalah fokus pada permasalahan bukannya solusi. Jika saya tahu permasalahannya sulit ditanggulangi, ya hindari. Itu menurut saya cerdas. Memang tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Mungkin butuh waktu beberapa dekade untuk mengubah tingkah laku manusia yang salah karena saya katakan ini sudah menjadi semacam kebiasaan buruk komunal.
Sangat masuk akal bahwa kondisi ini sulit ditanggulangi karena kebanyakan anggota masyarakat tidak memiliki preferensi. Mereka hanya mengetahui fakta dari satu sisi. Kemudian permasalahan menjadi semakin rumit dan menjadi sebuah kebiasaan buruk karena pembiaran. Ini menjadi masalah yang sangat kompleks apalagi ditambah kondisi masyarakat yang sangat tergesa-gesa. Dalam ketergesa-gesaan mereka, aturan banyak diterobos. Seperti misalnya pagi ini ada kendaraan milik pemerintah yang mungkin "terlambat" masuk kantor (hehehe) menyusul kendaraan saya dari sebelah kiri, dijalur sepeda. Ujung-ujungnya berapa detik yang dia hemat? Tidak banyak sebab di perempatan dia tetap bersama saya, walau persis di depan. Apa bedanya dia dibelakang dan di depan? Menurut saya sih perbedaannya tidak signifikan. Lalu mengapa dia melakukan itu? Saya tidak tahu, bisa saja memang sedang tergesa-gesa, atau karena dia bisa, atau yang paling parah: kebiasaan buruk.
Bertindak cerdas bagi saya pribadi adalah dalam upaya tidak menurunkan kualitas hidup saya. Itu tujuan utama. Kebahagiaan saya tidak ditentukan oleh orang lain, melainkan oleh diri sendiri. Melihat kondisi jalan semacam itu saya tanggapi dengan senyuman dan seloroh yang lucu. Bagi saya menjadi semacam hiburan melihat tingkah laku masyarakat yang demikian. Semua ini menjadi lucu, walau memang tidak masuk akal, bahkan seringkali konyol. Nina dan saya tadi pagi tertawa-tawa. Saya memilih memandang segala sesuatu dengan hati lapang dan positif. Sejauh ini sangat berhasil 
foto credit: lignatool.ru