Musim Dingin, Midtown Manhattan, New York. Sekitar pukul 7 malam. Di dekat sebuah taman yang dihiasi pepohonan yang penuh dengan lampu-lampu membuat suasana yang dingin menjadi begitu indah. Pemandangan seperti ini banyak dijumpai hampir di seluruh kota di negeri ini. Tapi hari ini di kota New York ada sedikit perbedaan. Di taman itu ada sebuah meja yang dibatasi sebilah papan dengan lubang di tengah seperti kotak surat. Di meja itu banyak terdapat kartu Natal dan di dekat meja itu, di sebelah kiri dan kanan ada tulisan sangat jelas "Write A Card" dengan sebuah tanda panah. Beberapa orang mulai tertarik dan sepasang pemuda pemudi berdiri di masing-masing sisi meja itu dan mulai mengambil kartu natal dan menulis sesuatu. Lalu dia masukkan ke lubang kotak surat itu. Temannya menerima kartu natal itu lalu membukanya. Di meja itu ada tertulis, Baca kartu keras-keras. Dan mereka mulai saling membaca kartu yang mereka terima. Tiba-tiba di latar belakang meja itu ada sebuah TV raksasa menyala dan menampilkan tulisan di kartu yang sedang dibaca. Sebuah momen yang sangat indah dimana mereka mengungkapan rasa cintanya, pada ibunya, pada sahabatnya pada pasangannya. Saya sangat terharu.
Mau tidak mau saya terbawa suasana dan mulai merenung. Seberapa seringnya saya mengungkapkan perasaan sayang saya pada orang tua? Pada pasangan dan pada anak saya? Ini pertanyaan mudah yang sangat sulit dijawab.
Saya dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga dengan norma kebiasaan Timur. Kita yang hidup di Timur bukan masyarakat yang dengan mudah mengekspresikan rasa sayang kita, hal-hal afektif kita pada orang lain. Ungkapan perhatian, afeksi dan rasa sayang kita salurkan dengan bentuk yang sangat berbeda dari budaya Barat. Saya tahu orang tua mencintai saya, tapi jangan pernah berharap mereka akan berkata," I love you." Seperti di film-film. Itu bukan cara mereka, bukan cara kita. Bagaimana cara mereka mengungkapkan rasa sayangnya? Sangat berbeda. Misalnya saya berkunjung ke orang tua saya yang tinggal di kampung. Begitu tiba, tidak ada peluk-pelukan, afeksi tidak diungkapkan secara verbal maupun gestur, tapi malah begini: "Jam berapa dari Bandung? Sudah makan belum?" Nah itu cara mereka mengatakan betapa mereka menyayangi kita! Hahaha.. "Sudah makan belum" = "I love you" Percaya atau tidak! Ya begitu kebiasaannya.
Sejujurnya, bukan saya sengaja bergeser ke gaya Barat, sama sekali tidak, tapi kalau boleh jujur, saya sangat haus akan ungkapan kasih sayang. Saya sangat haus akan pujian bahkan ungkapan kebanggaan yang dirasakan oleh orang tua. Ayah saya apalagi, dia orang yang pendiam dan sangat dingin. Saya pernah cerita di salah satu essai saya bahwa saya belum pernah seumur hidup mendengar ayah saya bersenandung. Bersiul juga tidak, apa lagi menyanyi. Ketika saya mengabarkan berita menjadi juara kelas, beliau hanya mengangguk dan bilang,"Bagus!" Pendek dan seolah-oleh prestasi saya tidak ada apa-apanya. Dari situ mungkin kehidupan saya mulai bergeser karena saya tidak mau anak saya mengalami apa yang saya rasakan. Ketika saya bangga, maka saya akan terus terang berkata,"I am proud of you!", Atau "Good job!" Keluarga yang saya bangun sudah sejak awal dibiasakan dengan mengungkapkan perasaan afeksi. Saya ingin keluarga saya lebih hangat dan setiap anggota keluarga mengetahui dan merasakan baik gestur maupun secara verbal bahwa kami saling menyayangi. Kano bisa dengan seenaknya sebelum tidur di malam hari berkata;" Good night, dad. I love you!" Dan dia sama sekali tidak ragu-ragu memeluk. Kenapa tidak? Bagi saya ini adalah kebiasaan yang sehat. Dan saya juga yakin bahwa anak saya satu-satunya ini tidak kehausan seperti bapaknya dulu. Bahkan saya masih bisa merasakan kehausan ini hingga sekarang. Saya memang selalu berusaha "menterjemahkan" ungkapan-ungakapan ayah saya hingga sekarang. "Kapan pulang?" artinya "Ayah kangen." "Semua jaga diri ya, jangan sampai sakit." maksudnya "Ayah sayang kalian." Capek sekali bukan?
Menggeser diri dari kebiasaan itu tidak mudah. Di awal-awal saya sangat canggung mengungkapkan hal-hal afektif pada orang lain. Lama-kelamaan menjadi terbiasa, bahkan di tempat kerja tidak segan-segan saya mengatakan,"Love you guys! See you all after Fall break!" Nah Love di sini tentunya tidak sama dengan Love yang saya sampaikan pada keluarga. Jika saya berkata, "I love my boss." Bukan berarti saya jatuh cinta pada boss saya, bukan itu. Love di sini artinya saya suka dia sebagai boss, saya respect, saya hormati, saya kagumi dan lain sebagainya, Bukan hal afektif.
Lalu kenapa saya mengadopsi kebiasaan yang tidak diikuti oleh keluarga orang tua? Jawabannya sederhana, karena saya lebih cocok dengan ungkapan yang tidak membutuhkan terjemahan. Lebih mudah menerima kata love, daripada menebak-nebak apakah menawarkan sayur asem dengan ikan belanak goreng sebagai bentuk cinta kasih. Betul bukan? Tugas orang tua yaitu memastikan anak-anaknya kenyang, nutrisinya cukup dan sehat, tidak lapar. Nah itu adalah bentuk cinta kasih yang disampaikan oleh orang tua. Saya berpendapat sama, saya sebagai seorang ayah harus dapat menjamin Kano makan cukup, nutrisi cukup, sehat dan tidak kelaparan, tapi saya ingin tambahkan bahwa saya memberi dia bonus dengan perkataan," I love you!"
Di akhir curhat saya ini, hahahaha, saya tampilkan video di Midtown Manhattan yang tadi saya tonton. Maaf saya gaptek bingung ketika akan meng-embed. Silakan klik Tulisan berwarna merah di bawah. Eniwei Selamat menikmati!