AES 1245 True Love
joefelus
Saturday November 16 2024, 9:48 AM
AES 1245 True Love

"Happy birthday, Dad. Panjang umur." Ucap saya pada ayah yang kemarin berulang tahun.

Saya belum selesai mengucapkan selamat kepada ayah saya, beliau langsung memotong dan menimpali.

"Panjang umur? Kaya gini?" Katanya dengan wajah lucu dan setengah tertawa-tawa.

"Sehat dad, sehat." Kata adik ipar saya.

Kami semua tertawa-tawa, bahkan ayah saya, terlihat sangat gembira ikut tertawa dan karena sebagian besar giginya sudah tidak ada, beliau terlihat sangat jenaka. Sambil tertawa dalam hati saya menggerutu, "Dark joke!, it's a very dark joke!"

Ayah saya memang sudah hampir 90 tahun dan aktivitas beliau sangat terbatas. Beliau memang suka berseloroh, walau yang beliau katakan kemarin juga ada benarnya. Siapa sih yang mau panjang umur jika hanya duduk dan tidur sepanjang hari? 

Ada satu hal yang saya perhatikan dengan gurauannya tadi, yaitu sepertinya beliau tidak takut akan kematian. Saya memaklumi itu, walaupun ayah saya ini hanya duduk memandangi TV tanpa benar-benar dapat mendengar karena kemampuan pendengarannya juga terbatas, maka tentunya beliau banyak berpikir dan merenung. Mungkin pada saatnya seseorang akan mulai berdamai dengan kehidupan dan siap serta membuka tangan lebar-lebar untuk menyambut kematian. Sesuatu yang sampai saat ini belum mampu saya cerna karena pemikiran tentang non existance itu sangat mencekam. 

Apakah ketika kematian tiba kita kemudian menjadi tiada? perish, cease to exist? Lenyap? Ini misteri besar dan karena ketidaktahuan akan apa yang ada sesudah kita melewati batas kehidupan, kita menjadi takut. Wajar sekali bukan? Ketakutan terjadi karena ketidaktahuan. Sama dengan kehidupan, kenapa kita khawatir akan masa depan? Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Memang banyak teori afterlife, tapi siapa dapat menjamin bahwa semua itu benar adanya? Kuncinya pada iman, pada faith, beliefs. Tapi ada kalanya hal tersebut tidak cukup karena faith selalu besandingan dengan doubt.

Tadi pagi ketika masih berbaring saya membaca sesuatu yang menarik. Sumbernya tidak diketahui tapi ini cerita yang cukup menyentuh. Akan saya terjemahkan semampu saya.

Orang tua saya sudah menikah selama 55 tahun. Suatu pagi ibu saya sedang turun tangga ke bawah untuk menyiapkan sarapan, tiba-tiba terkena serangan jantung dan jatuh. Ayah saya menggendongnya sebisa mungkin dan hampir menyeretnya ke mobil. Tanpa menghiraukan lalu lintas ayah saya ngebut ke rumah sakit. Sayangnya ketika mereka tiba, Ibu sudah tidak lagi bersama kami.

Pada saat pemakaman, ayah sama sekali tidak berbicara. Tatapannya kosong dan hampir tidak menangis.

Malam harinya semua anak-anak menemaninya sambil berkabung dan bernostalgia. Kami mengingat kembali masa-masa yang indah bersama ibu. Ayah kemudian berbicara pada kakak kami yang seorang ahli teologi dan bertanya dimana ibu saat ini menurutnya. Kakak saya mulai berbicara tentang kehidupan sesudah kematian dan menduga dimana ibu mungkin berada saat ini. Ayah mendengarkan dengan seksama lalu meminta kami semua mengajaknya ke pemakaman.

Ayah.” Jawab Kami. “Sekarang jam 11 malam, kita tidak bisa pergi ke sana saat ini.

Nada suaranya berubah naik dan dengan pandangan kosong beliau berkata,”Jangan membantah saya, tolong jangan berbantahan dengan pria yang baru saja kehilangan istrinya yang sudah bersamanya selama 55 tahun.

Suasana menjadi sangat hening dan kami tidak lagi berdebat. Kami lalu pergi ke pemakaman dengan membawa alat penerangan di tangan dan tiba di sana. Ayah kemudian duduk, berdoa dan berkata pada anak-anaknya:

55 tahun sudah… Tidak ada yang dapat berbicara soal cinta jika belum pernah hidup dengan seseorang." Beliau berhenti berkata-kata dan mengusap wajahnya.

Saya dan ibumu, kami telah melalui saat-saat yang indah dan susah bersama.” Lalu beliau melanjutkan.

Ketika saya berganti pekerjaan, ketika kami pindah dan menjual rumah, ketika berbagi kebahagiaan pada saat membesarkan anak-anak, menjadi orang tua, ketika berkabung karena kehilangan orang-orang yang kami cintai, ketika kami berdoa bersama pada saat menunggu di ruang tunggu rumah sakit, saling mendukung ketika sedang dalam penderitaan, kami berpelukan  satu sama lain setiap hari dan saling memaafkan ketika melakukan kesalahan.”

Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan:

Anak-anak. Semua itu berakhir malam ini dan saya sangat berbahagia. Kalian tahu kenapa saya bahagia? Karena ibumu pergi mendahului saya. Ibumu tidak perlu melalui masa-masa yang penuh kesakitan dan kesedihan ketika menguburkan saya, tidak perlu merasa kesepian sesudah saya pergi. Saya yang akan mengalami itu semua dan saya bersyukur kepada Tuhan karenanya. Saya sangat mencintai ibumu dan tidak ingin ibumu menderita.” 

Ketika ayah selesai berbicara, kami semua menangis, saya dan kakak saya bercucuran air mata. Kami memeluk ayah untuk menghiburnya.

Sudahlah, tidak apa-apa. Kita bisa pulang sekarang. Ini adalah hari yang sangat baik.” Kata ayah.

Malam ini kami mengerti apa itu cinta sejati, bukan hanya hal-hal romantis, tapi merupakan relasi dua orang manusia yang mendukung satu sama lain, berdampingan seia sekata melalui saat-saat susah dan senang, saat sulit dan bahagia. *** (Sumber tidak diketahui)

Sepanjang pagi saya merenung. Memikirkan ayah saya. Mungkin sekarang saya dapat mengerti, walau ayah bukan orang yang dengan mudah menujukkan perasaannya, bukan orang yang terbuka ketika sedang dalam keadaan susah atau senang. Tapi mungkin saya dapat mengerti bahwa beliau dapat dengan sepenuh hati menyambut saat-saat menyebrang dari kehidupan ini, sebab beliau sudah puas menikmati kebahagiaan, sudah cukup merasakan kepedihan sesudah Ibu meninggalkannya, sudah kebal dengan rasa kesepian dan penderitaan. Sudah menyaksikan bahwa anak-anaknya berbahagia membangun masa depannya masing-masing. Tugasnya sudah purna.

Foto credit: dreamstime.com

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Oh gosh... this is so touching. Thank you for sharing Joe 🙏🏼🥲
sanya
@sanya   2 years ago
Kalau bisa kasi 10 like akan saya kasih 10 pak.. terima kasih ceritanya hari ini🤗
Mediyana
@mediyana   2 years ago
Paling jleb pas kata2..saya bahagia karena ibumu pergi mendahului saya...
joefelus
@joefelus   2 years ago
Iya, ceritanya menyentuh sekali :)
You May Also Like