Dari yang merasa lebih, jadi sadar bahwa selalu ada yang lebih dari yang paling. Saat diri menjadi yang paling tahu akan sesuatu, respons dari yang lain bisa jadi membuat diri lebih tahu lagi; Dengan syarat, telinga ini bersih dari kerak nostalgia.
Saat bertemu dengan yang merasa lebih, tangan ini perlu mengorek lepas nostalgia itu dari kuping sendiri. Terlepas, terlepas dari apakah benar memang lebih tahu atau tidak. Yang jelas, telah tampak suatu potensi untuk melampaui stagnasi.
Dengan demikian baiklah diri saat ini menjadi lebih dari diri kita saat itu, yang merasa paling. Karena yang paling adalah stagnan sedangkan yang lebih daripada yang paling adalah relevan. Bebaskan penentuan; dari nostalgia.
Seperti keberanian para pemuda untuk mencoba hal baru yang berisiko. Selama terkendali, bukankah tetua yang hadir mengantisipasi akan lebih bijak-sini daripada tetua bijak-sana yang menginterupsi sambil melabeli manja.
Seperti imaji para pemuda untuk menciptakan hal yang tidak masuk akal. Selama terolah baik, bukankah tetua yang hadir mengolah akalnya sendiri akan lebih bijak-sini daripada tetua bijak-sana yang mengintervensi di ranah fantasi.