Saya melihat banyak orang yang mengejar status sosial, tidak masalah apa alasan mereka. Pengalaman saya justru kebalikannya, saya sama sekali tidak menginginkan status sosial, karena saya jauh lebih mencintai kebebasan. Nah ini akan menjadi obrolan saya hari ini.
Bermula dari keprihatinan saya ketika beberapa waktu lalu Nina menunjukkan sebuah berita dan potongan video yang menunjukkan seorang yang dianggap menjadi panutan di masyarakat yang melecehkan orang kecil. Memang akhirnya dia minta maaf. Kilahnya adalah karena dia memang orang yang senang bergurau dan dia tidak berniat melecehkan tapi sebagai bentuk gurauan, tapi dimata orang lain ini adalah gurauan yang keterlaluan.
Terlepas dari apakah benar dia sebetulnya bergurau, saya tidak permasalahkan. Jika saya ingin bergurau, saya akan memilih gurauan yang lebih bermartabat, bukan mengatai orang lain dengan predikat yang merendahkan atau bahkan menghina. Nah sebagai orang yang dipanuti, sudah selayaknya menjadi contoh di depan khalayak. Jika contohnya semacam itu, terus terang saya akan menghapus dia sebagai tokoh panutan. Sederhana saja, panutan identik dengan cara hidup bukan? Cara hidup bisa dilihat dari tutur kata. Apalagi selama ini dia menggunakan tutur kata sebagai wahana dia mendidik masyarakat. Nah silahkan ambil garis merahnya.
Itu risiko seseorang yang memiliki status sosial. Masyarakat memandang mereka yang memiliki status sosial tinggi, atau mereka yang berkuasa. Kemanapun orang itu pergi, maka status itu menempel pada dirinya. Sepanjang waktu, hampir tidak ada batasan. Tempat mungkin ada batasnya, jika dia berada di tempat yang asing dimana dia tidak dikenal, ya bebas. Tapi itupun masih belum 100%, bisa saja ada orang yang melihat dia. Ya begitulah.
Saya lebih menyukai sebagai nobody! Seingat saya, dulu pernah ngobrol dalam tulisan saya di saat-sat awal bergabung dengan komunitas menulis. Saya katakan dulu pernah jadi guru. Jadi guru itu membawa predikat dan status sosial kemana-mana. Saya tidak bisa bertingkah laku seenaknya di alun-alun, misalnya. Orang yang memiliki status sosial menurut saya tidak bebas.
Dalam obrolan itu dulu saya bercerita pernah dengan seenaknya tidur di rumput di halaman luas dekat jalan raya sepulang berenang karena kelelahan. Saat itu ada di rantau dan saya tidak lagi membawa-bawa predikat guru bahkan yang kenal saya bisa dihitung dengan jari. I was nobody. Tidak ada yang peduli dengan apa yang saya lakukan selama tidak melanggar norma dan aturan umum di masyarakat. Saya pernah bercerita juga ketika pulang dari acara pernikahan, saya berjalan kaki dan karena kepanasan saya membuka baju. Nobody knows me and nobody cares!
Saya juga pernah hidup membiara. Ada 3 kaul yang harus dipertahankan dan pandangan masyarakat sangat penting. Saat itu saya bahkan tidak berani berjalan kaki berdua dengan adik perempuan saya. Masyarakat itu sangat judgmental. Ya, status itu sangat membatasi. Kebetulan status-status semacam itu yang pernah saya miliki sehingga ketika saya dapat melepaskan semuanya, seolah-olah saya terlepas dari belenggu pengekang. Nah sekarang jelas bukan, mengapa saya terbalik dan tidak menyukai status.
Memang status itu banyak manfaatnya juga. Dengan memiliki status tinggi, akses kita terhadap banyak hal akan semakin mudah. Siapa berani menolak presiden ketika mengunjungi restoran karena tidak ada meja kosong, misalnya. Pasti akan ada orang yang dengan sukarela merelakan mejanya, atau bahkan pemilik restoran akan sebisa mungkin mengusahakan meja.
Tapi hati-hati juga, status dapat dengan mudah menjerumuskan seseorang. Karena memiliki kekuasaan, ada godaan untuk menyalagunakan. "Do you know who I am?" Itu adalah pertanyaan arogan yang biasa ditanyakan oleh seseorang yang ingin statusnya dikonfirmasi. Yang sepele saja, teman saya yang biasa ngobrol sambil nongkrong di warung, begitu dia pakai segaram hansip langsung berubah seperti orang yang sangat berwibawa ketika dia bertanggung jawab mengatur lahan parkir. Kalau wibawa dan berusaha menjalankan tanggugjawabnya itu bagus, tapi ada juga yang tiba-tiba jadi sok kuasa. Mereka biasanya adalah orang-orang yang butuh konfirmasi. Pada intinya, daripada berusaha mendapat pengakuan status sosial, mungkin lebih baik berusaha menjadi respectful people, karena respect has to be earned. Untuk itu ya perlakukan orang lain secara respectful, maka kita akan memperoleh hal yang sama.
Foto credit: faithlead.org