Akhir tahun adalah saat yang sangat baik untuk refleksi. Itu hampir selalu saya lakukan selama bertahun-tahun. Akhir tahun memang sebetulnya tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya, hanya saja memang sistem kalender kita di bulan Desember merupakan akhir dari perputaran penanggalan tahunan. Esensinya ya sama saja, hanya kemudian penanggalan berubah. Tapi ini merupakan momentum yang baik untuk merenungkan kembali apa saja yang telah kita capai sepanjang tahun 2024, dan bagaimana kita nanti akan menghadapi tahun yang baru. Goal apa yang ingin kita capai, perbaikan yang bagaimana yang ingin kita canangkan. Ini sangat baik untuk peningkatan dan perkembangan diri. Saya rencananya akan melakukan kebiasaan yang sudah saya jalani selama bertahun-tahun ini. Yang akan saya obrolkan hari ini sebetulnya hanya sebagai bentuk pengkondisian agar tepat di minggu terakhir tahun 2024 saya dapat lebih melakukan refleksi secara lebih mendalam. Nah, hari ini tentang mindset.
Pernah dengar nama Hiroyuki Sanada? Dia adalah seorang aktor Jepang yang banyak bermain di film-film action seperti The Last samurai, Avenger: End game, John Wick, dan lainnya. Tapi bukan menjadi aktornya yang ingin saya obrolkan hari ini melainkan apa yang pernah dia katakan.
Dia pernah berkata: "Ada orang yang menginginkan kolam renang di rumahnya, sementara itu ada orang yang memiliki tapi hampir tidak pernah menggunakannya. Orang yang kelaparan akan memberikan segalanya demi sepiring makanan, sementara orang yang berkecukupan mengeluh tentang rasanya, Orang yang tidak punya mobil terus bermimpi sementara orang yang sudah memiliki mobil terus mencari yang lebih baik. Kuncinya adalah bersyukur, perhatikan baik-baik apa yang kita miliki dan sadarlah bahwa di suatu tempat ada seseorang yang akan memberikan segalanya untuk memperoleh yang kita miliki sekarang."
Kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa musuh terbesar dalam hidup kita adalah diri sendiri. Kita cenderung memaksakan diri, fokus untuk meraih hal-hal yang diinginkan sehingga cenderung terus memandang ke depan dan lupa menghargai serta mensyukuri apa yang kita miliki saat ini. Misalnya kita kurang bersyukur bahwa selama ini dikelilingi oleh orang-orang yang penuh perhatian, menolong dan menghibur ketika kita dalam kesusahan. Seringkali kita lupa betapa pentingnya orang-orang yang selama ini terus bersama kita dan lebih ke menerima begitu saja perhatian dan pertolongan mereka. Atau contoh lain adalah mensyukuri apa yang sudah kita terima. Kita terlalu memfokuskan diri pada apa yang ingin kita raih.
Masyarakat kita cenderung menilai keberhasilan seseorang dengan menggunakan ukuran materi. Demikian juga dengan usaha dan perjuangan yang kita jalani lebih terfokus pada perolehan materi. Well, materi, dalam konteks ini misalnya adalah uang, itu memang sangat penting dalam hidup. Tanpa sumber dana yang memadai kita akan banyak mengalami tantangan. Ingin memperoleh pelayanan kesehatan tanpa dana yang cukup di tanah air ini, pasti terhalang. Banyak cerita yang menyedihkan yang berkaitan dengan ini.
Maksud saya begini. Memang materi itu punya banyak andil dalam mengupayakan kenyamanan dalam hidup, tapi mindset kita sebetulnya memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan kebahagiaan dan ketenangan batin kita. Saya tidak mau menjadi hipokrit, kok. Saya juga tahu bagaimana sulitnya hidup dalam serba keterbatasan, kasarnya sih I've been there, done that, jauh lebih nyaman jika kita memiliki segala sesuatu dan berkecukupan. Tapi itu juga tergantung pada kondisi. Bayangkan saja, jika tinggal di desa kecil kita tidak membutuhkan TV 65 inci dengan sound bar 1000 watt, Tidak perlu itu! Tinggal di pedalaman kita tidak membutuhkan vaccuum cleaner. Ketika saya tinggal di kampung, kesederhanaan hidup sudah cukup kok. Buat apa kita membeli robot untuk membersihkan lantai kalau permukaan lantai kita hanya diplester semen saja. Jadi semuanya itu bukan hal yang absolut dibutuhkan. Tinggal di kota besar juga tidak harus memiliki segala hal kok untuk bisa hidup nyaman. Mindset kita yang harus diubah. Dulu kebutuhan saya akan washer dan dryer itu agak penting, walau bisa tanpa itu. Saya memilikinya karena sudah terlalu lelah berjalan kaki ditengah badai salju hanya sekedar untuk mencuci pakaian. Lebih parah lagi ketika tiba di tempat laundry semua mesin penuh digunakan orang lain, sia-sia usaha saya menembus cuaca buruk dan suhu yang sangat dingin menggigit. Nah kenyamanan untuk bisa mencuci pakaian dan saya tinggal tidur lalu esoknya saya tinggal masukkan mesin pengering, itu sangat penting. Efisiensi! Juga saya tidak boleh menjemur pakaian di belakang rumah, aturannya begitu. Tiba di Bandung saya punya lahan di halaman belakang, tidak perlu dryer! Itu hanya sekedar contoh mengenai apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak. Jadi materi penting tapi juga harus tahu mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang tidak.
Kenyamanan itu hanya mindset! Kita harus mampu mengontrolnya. Hal-hal sederhana seringkali sudah cukup membuat jidup kita nyaman. Kenyamanan bukan berarti saya mampu makan enak berupa beef brisket seharga 400 ribu. Kalau mau coba ya boleh saja, tapi sungguh kebahagiaan saya sudah cukup dengan pecel madiu dan tempe mendoan. Lagi-lagi mindset kita yang lebih utama. Tingkat kenyamanan dan kebahagiaan bisa kita kontrol, bukannya diperbudak oleh pendapat orang lain.
Foto credit: upyourlevel.com