"WA aja atuh Pa kalo perlu roti mah, ini nomor saya!" Kata mas Indra penjual roti keliling. Dia berkata begitu karena setiap kali saya bergegas keluar rumah, motornya sudah ada jauh di depan. Padahal begitu saya dengar suara musik tulalit-tulalit dengan jinggle lagu yang khas, saya segera bergegas keluar, selalu terlambat, karena jalan di depan rumah menurun sehingga kebanyakan orang jadi ngebut.
Dalam hati saya tersenyum-senyum lucu. Mulai saat ini telepon seluler saya akan penuh dengan banyak nomor penjaja makanan. Ada tukang roti, tukang sayur, tukang buah, hingga tukang singkong. Mereka semua akan bersedia datang ke rumah jika saya membutuhkan kiriman barang-barang yang mereka jajakan. "Mirip cerita-cerita sinetron, asisten rumah tangga punya telepon untuk manggil tukang tahu!" kata saya dalam hati sambil tertawa-tawa. Ini pengalaman baru.
Beberapa bulan terakhir in saya banyak sekali mengalami kejadian yang berkaitan dengan teknologi yang sebelumnya hampir tidak pernah. Selama sekian tahun saya bekerja di depan komputer dan pernah menganggap diri ini lumayan piawai, namun begitu kembali ke tanah air, anggapan saya ini langsung lutur. Penggunaan teknologi di Indonesia sudah sangat luar biasa, hingga saya merasa agak minder sebab kalah dibandingkan tukang roti yang berkeliling dengan naik sepeda motor!
Kesulitan pertama adalah saya meggunakan telepon selular yang saya bawa dari Fort Collins. Untuk dapat menggunakan itu saja saya harus berjuang dan berurusan dengan kantor pajak, jika tidak IMEI telepon saya akan dikunci dan saya tidak bisa menggunakannya. Nah saya harus bisa berargumen sebab jika tidak saya harus membayar sejumlah uang yang sangat besar, saya bisa membeli mungkin 4 atau 5 telepon selular sederhana. Itu kesulitan pertama, yang kedua saya banyak kesulitan mengunduh berbagai aplikasi karena di HP saya tidak muncul. Mungkin karena ada perbedaan lokasi. Selalu ada notifikasi yang menyatakan bahwa aplikasi ini tidak tersedia di daerah saya, loh kok bisa ya? Mungkin settingnya harus diubah, tapi saya belum berencana melakukan ini sebab saya masih banyak keperluan yang terkait engan tempat lama. Jadi saya mau tidak mau membeli telepon seluler ala kadarnya.. murah meriah!
Nah 3 hari terakhir ini saya sedang berburu provider internet. Ini sangat luar biasa menguras enerji dan emosi. Saya sampai marah-marah karena aplikasi dan sistem yang digunakan oleh beberapa provider sangat tidak bersahabat. Saya harus keluar masuk aplikasi yang sama berulang kali, saya tulis pengalaman saya ini 2 hari yang lalu tentang penggunaan robot. Akhirnya saya dapat berbicara dengan manusia, itupun ternyata tidak membantu. "Saya bantu untuk regitrasi, ya kak. Mohon standby 5 menit." Percakapan ini menggunakan WA. saya tunggu 5 menit, lalu saya check 10 menit kemudian, hingga 4 jam tidak ada lanjutannya. Saya mulai kesal, akhirnya saya berinisiatif menghubungi mereka. Itu 4 jam kemudian, dan langsung ada respons, saya diminta menunggu dihubungi seorang agen, saya tunggu lagi 2 jam tidak ada apa-apa. jam 7 malam baru ada yang menghubungi. Saya diberi sebuah tautan yang kemudian saya buka, eh saya masuk lagi ke bagian awal yang sudah saya lakukan 2 hari yang lalu.
Saya yang sudah mengklaim bahwa sudah menjadi orang penyabar dan tidak suka marah bahkan ketika dirugikan sekalipun, langsung berasap kepalanya dan gondok. Saya tinggalkan pesan melalui WA bahwa mereka ama sekali tidak profesional. Lalu HP saya matikan dan saya tinggal tidur.
Paginya saya mendapat email yang menyatakan bahwa aplikasi untuk mendapat layanan internet dari mereka ditolak! Hahahaha.. Ini belum selesai, pada saat yang bersamaan ada agen yang menghubungi saya melalui percakapan telepon, mengisi semua informasi yang sudah saya berikan mungkin sekitar 10 kali. Lalu dia menjanjikan ada teknisi yang akan menghubungi saya untuk menjadwalkan pemasangan. Nah pertanyaan saya, mana yang benar? Ditolak seperti yang saya terima melalui email, atau diterima berdasarkan percakapan melalui telepon? Luar biasa!
Foto credit: corpnet.net.id