A mind that is stretched by new experiences can never go back to it's old dimensions.
Kira-kira itulah alasan mengapa aku terus mengeksplorasi napas. Napas menyimpan misteri yang mengundang rasa ingin tahu dan menuntunku pada satu eksplorasi ke eksplorasi berikutnya terus menerus.
It feels like an inner guru, teaching you and guiding you whenever you need it.
Napas itu pemandu yang bisa memberitahumu apa saja. Sekalipun ia tak kelihatan namun dapat disadari lewat sensasi yang dihadirkannya pada tubuh kita. Sensasi itulah yang mampu membuat pikiran kita terus terikat pada tubuh. Pikiran yang terfokus pada pengamatan itulah yang menghasilkan kesatuan dengan tubuh dan napas.
Di saat inilah lapisan-lapisan tubuh itu menyelaraskan diri. Di sinilah letak kekuatan napas itu. Ia seperti jembatan yang menuntun dan memimpin pikiran untuk memperhatikan tubuh dan seluruh atmosfer yang ada dalam tubuh kita. Di saat itulah perubahan terjadi. Saat keselarasan antar lapisan itu terbentuk, seolah kode kunci pintu rahasia ditemukan, dan gerbang menuju ke dalam pun terbukalah.
Perubahan niscaya pasti selalu bisa dialami segera setelah kesatuan itu. Sebab jika mungkin biasanya pikiran jadi seperti raja yang memerintah segala sesuatunya, untuk sementara raja itu diam dan mendengarkan keluh kesah rakyat di bawah pimpinannya dan lalu ia pun jadi lebih mengerti perubahan apa yang baik untuk dilakukannya. Tapi itu bukan tentang pengertian otak sadar atau nalar, melainkan kecanggihan fungsi otak sebagai pemerintah sistem.
Tentang kehebatan tubuh ini, tak perlu lah diragukan. Ia telah dirancang dengan luar biasa untuk selalu menjaga keseimbangannya sendiri layaknya sebuah ekosistem. Jadi ketika satu sistem berkurang daya kerjanya, sistem lain akan bergotong royong menutupi kelemahan itu demi menjaga keberlangsungan ekosistem.
Tetapi bayangkan jika sang raja pemimpin itu ternyata lalim dan hanya memikirkan dirinya sendiri, tentu ia tak mau tahu jika rakyatnya kesulitan memenuhi pungutan upetinya. Ia akan terus menuntut bahkan jika satu demi satu rakyatnya telah kehabisan dayanya. Raja yang lalim pasti tak punya perasaan bukan? Bayangkanlah sebuah pemberontakan dari rakyat yang tertindas, bukan tidak mungkin kerajaan menjadi lumpuh karenanya.
Maka bayangkan jika gerbang istana yang terbuka itu seperti penghubung yang menuntun keharmonisan antara raja dan rakyatnya maka kerajaan yang damai sejahtera aman sentosa pun pasti bisa terlaksana.